Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang http://www.alkhoirot.com Al-Khoirot adalah Pondok Pesantren terbaik dengan biaya murah sistem salaf modern putra putri di Indonesia dengan biaya terjangkau semua kalangan ekonomi. Website Resmi Ponpes Al-Khoirot Malang Jawa Timur Indonesia. Sun, 20 Jul 2014 23:06:00 +0000 en-US hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.9.1 Beda Pondok Modern, Pesantren Salaf dan Ponpes Salafi http://www.alkhoirot.com/beda-pondok-modern-dan-pesantren-salaf/ http://www.alkhoirot.com/beda-pondok-modern-dan-pesantren-salaf/#comments Wed, 25 Jun 2014 03:13:18 +0000 http://www.alkhoirot.com/?p=1112 pondok modern salaf

Pondok Pesantren Al-Khoirot (PPA) adalah kombinasi antara pondok modern dan pesantren salaf. Apa maksudnya? Secara sederhana definisi pesantren salaf adalah sebuah pesantren yang menganut sistem tradisional di mana di dalamnya hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama dan sama sekali tidak mengajarkan ilmu umum. Sedangkan pondok modern adalah pesantren yang di dalamnya menganut sistem pendidikan yang diadopsi dari sistem pendidikan modern dan materi yang dipelajari merupakan kombinasi antara ilmu agama dan ilmu umum. Ciri khas pondok modern adalah penekanannya pada kemampuan berbahasa asing secara lisan sedangkan keunikan pesantren salan adalah lebih menekankan pada kemampuan penguasaan kitab kuning. Contoh pesantren salaf yang murni adalah Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan. Sedangkan contoh pondok modern adalah Pondok Modern Gontor.

DAFTAR ISI

    1. PESANTREN SALAF
      1. Pengertian kata Salaf
      2. Kata Salaf dalam istilah Pesantren
      3. Metode Belajar Mengajar
      4. Ciri Khas Kultural dan Administratif
      5. Ciri Khas Kualitas Keilmuan
    2. PONDOK MODERN
      1. Metode Belajar Mengajar
      2. Ciri Khas Kultural dan Administratif
      3. Kualitas Keilmuan
    3. PESANTREN SALAFI WAHABI

 


PESANTREN SALAF

Pesanten Salaf adalah bentuk asli dari pesantren. Sejak pertama kali didirikan oleh Wali Songo, format pendidikan pesantren adalah bersistem salaf. Kata salaf berasal dari bahasa Arab السلف. Dari akar kata yang sama aAda beberapa makna dari kata ‘salaf’ yang berbeda-beda.


Pengertian kata Salaf

(a) Salaf dengan bentuk jamak aslaf (أَسْلُفٌ) dan suluf (سُلُوفٌ) bermakna kulit yang belum disamak atau samaknya tidak dianggap sah. Salaf bisa juga berarti wadah yang besar.

(b) Salif (سَلِف) dengan bentuk jamak aslaf (أَسْلافٌ) bermakna kulit; ipar; yang lalu; sedikit; perbandingan;

(c) Salaf (سَلَف) dengan bentuk jamak aslaf (أَسْلافٌ), sallaf (سُلاَّفٌ), suluf ( سُلُف ) bermakna setiap pendahulu yakni ayah, kakek, nenek moyang dan kerabat dalam segi usia dan keutamaan.

(d) Salaf adalah setiap amal saleh yang dilakukan di masa lalu; atau apa yang telah lalu dari harga barang yang dijual. Dalam jual beli atau muamalah salaf berarti hutang yang tidak ada manfaatnya pada muqradh fih

(e) Salaf soleh adalah ayah, kakek, nenek moyang yang dihormati.
(f) Salaf kholaf adalah generasi masa kini dan masa lalu.
(g) Madzhab Salaf adalah madzhabnya kalangan ulama terdahulu.


Kata Salaf dalam istilah Pesantren

Kata salaf dalam pengeritan pesantren di Indonesia dapat dipahami dalam makna literal dan sekaligus terminologis khas Indonesia. Secara literal, kata salaf dalam istilah pesantren adalah kuno, klasik dan tradisional sebagai kebalikan dari pondok modern, kholaf.atau ashriyah.

Secara terminologi sosiologis, pesantren salaf adalah sebuah pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu agama saja kepada para santri.  Atau, kalau ada ilmu umum, maka itu diajarkan dalam porsi yang sangat sedikit. Umumnya, ilmu agama yang diajarkan meliputi Al-Quran, hadits, fikih, akidah, akhlak, sejarah Islam, faraidh (ilmu waris Islam), ilmu falak, ilmu hisab, dan lain-lain.  Semua materi pelajaran yang dikaji memakai buku berbahasa Arab yang umum disebut dengan kitab kuning, kitab gundul, kitab klasik atau kitab turots.


Metode Belajar Mengajar

Metode belajar mengajar di pesantren salaf terbagi menjadi dua yaitu metode sorogan wetonan dan metode klasikal. Metode sorogan adalah sistem belajar mengajar di mana santri membaca kitab yang dikaji di depan ustadz atau kyai. Sedangkan sistem weton adalah kyai membaca kitab yang dikaji sedang santri menyimak, mendengarkan dan memberi makna pada kitab tersebut. Metode sorogan dan wethonan merupakan metode klasik dan paling tradisional yang ada sejak pertama kali lembaga pesantren didirikan dan masih tetap eksis dan dipakai sampai saat ini.

Adapun metode klasikal adalah metode sistem kelas yang tidak berbeda dengan sistem modern. Hanya saja bidang studi yang diajarkan mayoritas adalah keilmuan agama.


Ciri Khas Kultural  dan Administratif

Ciri khas kultural yang terdapat dalam pesantren salaf yang tidak terdapat dalam pondok modern antara lain:

  • Santri lebih hormat dan santun kepada kyai, guru dan seniornya.
  • Santri senior tidak melakukan tindak kekerasan pada yuniornya. Hukuman atau sanksi yang dilakukan biasanya bersifat non-fisikal seperti dihukum mengaji atau menyapu atau mengepel, dll.
  • Dalam keseharian memakai sarung.
  • Berafiliasi kultural ke Nahdlatul Ulama (NU) dengan ciri khas  seperti fikih bermadzhab Syafi’i, akidah tauhid Asy’ariyah Maturidiyah, tarawih 20 rakaat plus 3 rokaat witir pada bulan Ramadan, baca qunut pada shalat Subuh, membaca tahlil pada tiap malam Jum’at, peringatan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj.
  • Sistem penerimaan tanpa seleksi. Setiap santri yang masuk langsung diterima. Sedangkan penempatan kelas sesuai dengan kemampuan dasar ilmu agama yang dimiliki sebelumnya.
  • Biaya masuk pesantren salaf umumnya jauh lebih murah dan itdak ada daftar ulang setiap tahunnya.
  • Infrastruktur lebih sederhana.


Ciri Khas Kualitas Keilmuan

Santri pesantren salaf memiliki kualitas keilmuan yang berbeda dengan santri pondok modern antara lain sebagai berikut:

  • Menguasai kitab kuning atau literatur klasik Islam dalam bahasa Arab dalam berbagai disiplin ilmu agama.
  • Menguasai ilmu gramatika bahasa Arab atau Nahwu, Sharaf, balaghah (maany, bayan, badi’), dan mantiq secara mendalam karena ilmu-ilmu tersebut dipelajari serius dan menempati porsi cukup besar dalam kurikulum pesantren salaf di samping fikih madzhab Syafi’i.
  • Dalam memahami kitab bahasa Arab santri salaf memakai sistem makna gandul dan makna terjemahan bebas sekaligus.


PONDOK MODERN

Pondok modern adalah anti-tesa dari pesantren salaf. Sistem ini dipopulerkan pertama kali oleh Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo yang kemudian diduplikasi di pesantren lain yang memakai label modern. Pondok Modern disebut juga dengan pesantren kholaf (modern) sebagai akronim dari salaf atau ashriyah.


Metode Belajar Mengajar

  • Umumnya memakai ssitem klasikal.
  • Ilmu umum dan agama sama-sama dipelajari.
  • Penekanan pada bahasa asing Arab dan Inggris percakapan.
  • Penguasaan kitab kuning kurang.
  • Sebagian memakai kurikulum sendiri  seperti Gontor. Sedangkan sebagian yang lain memakai kurikulum pemerintah.


Ciri Khas Kultural dan Administratif

  • Lebih disiplin dan lebih agresif.
  • Mirip dengan sistem militer, santri senior mendominasi. Kekerasan menjadi budaya dalam memberi sanksi pada santri yunior.
  • Sopan santun agak kurang.
  • Pendaftaran dengan sistem seleksi sehingga tidak semua calon santri diterima.
  • Biaya masuk umumnya lebih tinggi dari pesantren salaf.
  • Ada daftar ulang setiap tahun layaknya sistem administrasi di sekolah.


Kualitas Keilmuan

  • Pintar berbahasa Arab percakapan tapi kurang dalam kemampuan kitab kuning.
  • Kemampuan membaca kitab gundul kurang.
  • Kemampuan dalam ilmu fikih kurang.


PESANTREN SALAFI

Hati-hati! Pesantren Salafi berbeda jauh dengan pesantren salaf (tanpa ‘i’). Keduanya berbeda jauh bagaikan langit dan bumi. Pesantren Salafi adalah pesantren yang akidahnya menganut idelogi Wahabi Arab Saudi atau Yaman yang radikal. Akan tetapi mereka lebih suka menyebut dirinya dengan Pesantren Salafi, bukan Pesantren Wahabi. Atau, Salafi Wahabi.

Kalau pesantren salaf lebih terkait dengan metode pendidikan yang berada di sebuah pesantren, sedangkan Pesantren Salafi lebih bermakna sebuah pesantren yang berideologi Wahabi atau Wahabi Salafi.

Akidah Pesantren Salafi

Akidah pesantren Salafi Wahabi sama dengan akidah gerakan Wahabi itu sendiri yang ciri khasnya sebagai berikut:

  • Doktrin tauhid sebagaimana yang diajarkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri Wahabi yang mengambil inspirasi dari Ibnu Taimiyah.
  • Dalam bidang fikih merujuk pada madzhab Hanbali. Yang salah satu ciri khasnya yang menonjol adalah tidak ada qunut waktu shalat subuh, dan tidak najisnya kotoran hewan.
  • Dalam persoalan hukum baru, mereka merujuk pada pandangan ulama fikih kontemporer mereka yaitu Abdullah bin Baz dan Ibnu Uthaimin.
  • Menyebarkan ajaran kemurnian Islam seperti era Salafus Sholeh dan mengeritik keras praktik umat Islam yang dianggap tidak murni dengan label bid’ah, syirik, kufur.
  • Praktik yang dianggap bid’ah dan syirik oleh Wahabi antara lain tahlil, ziyarah kubur, peringatan Maulid Nabi, peringatan Isra’ Mi’raj, peringatan 1 Muharam.
  • Menolak kritik dari luar dan menyebut pengeritiknya sebagai Syiah Rafidhah atau konspirasi Zionisme Yahudi atau Freemason.
  • Ada dua tipe Salafi Wahabi yaitu Wahabi Arab Saudi dan Wahabi Yaman.
  • Wahabi Arab Saudi cenderung pro pemerintah yang berkuasa sedang Wahabi Yaman cenderung anti-pemerintah dan lebih radikal. Kelompok teroris banyak berasal dari didikan Salafi Yaman ini di bawah pimpinan Muqbil Al-Wadi’iy.

Sistem dan Metode Pendidikan

Sistem pendidikan yang dianut pada pesantren Salafi umumnya sistem modern dalam arti memberlakukan pendidikan formal dari TK sampai  perguruan tinggi. Walaupun ada juga program Tahfidz Al-Quran di sebagian pesantren salafi seperti Al-Bukhori Solo.

Daftar Pesantren Salafi Wahabi

Berikut beberapa Pesantren Wahabi. Silahkan tambahkan daftar ini di kotak komentar apabila terdapat ponpes Salafi di tempat Anda.

1. Ma’had Imam Buhori Solo
2. Ma’had Al-Ukhuwah Sukoharjo
3. Ma’had Ibnu Abas Sragen
4. PONPES Islam Al-Irsyad Semarang
5. Ma’had Al-Furqon Gresik
6. Ma’had Ali Bin Abi Thalib Surabaya
7. Sekolah Dirosah Islamiyah Sumbersari
8. Ma’had Al-Qudwah Kediri
9. Ma’had Abu Huroiroh Mataram
10. Ma’had Al-Furqon Pekanbaru
11. PONPES Salman Al-Farisi Kediri
12. Ma’had Imam Syafi’i Banyuwangi
13. Ma’had Minhajul Sunnah Bogor
14. Yatim Ibnu Taimiyah Bogor
15. Ma’had Hidayatunnajah Bekasi
16. Ma’had Ibnu Hajar Jakarta Timur
17. Ma’had Madinatul Qur’an Bogor
18. Ma’had Ummahatul Mu’minin Jakarta Pusat
19. Ma’had Riyadusholihin Pandeglang
20. Ma’had Al-Ma’tuq Sukabumi
21. Ma’had Rahmatika Al-Atsary Subang
22. Ma’had Assunah Cirebon
23. PONPES Annajiyah Bandung
24. Ma’had Assunnah Tasikmalaya
25. Ma’had Ali Imam Syafi’i Cilacap
26. Islamic Center Ibnu Bin Baz Yogyakarta
27. Ma’had Jamilurrohman Yogyakarta
28. Pesantren Al I’tishom, Karawang, Jawa Barat
29. Mahad Ali Al’irsyad, Surabaya , Jawa Timur.
30. Pondok Pesantren Al Ukhuwah, Sukoharjo, Jawa Tengah
31. Pesantren Imam Syafii, Cilacap, Jawa Tengah
32. Yayasan Mutiara Islam, Bogor , Jawa Barat
33. Yayasan Qolbun Salim, Malang , Jawa Timur
34. Yayasan Al Sofwa, Jakarta
35. Mahad Ibnu Abbas As Salafi, Solo, Jawa Tengah
36. Ar-Rahmah, Malang.

]]>
http://www.alkhoirot.com/beda-pondok-modern-dan-pesantren-salaf/feed/ 0
Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Khoirot http://www.alkhoirot.com/madrasah-tsanawiyah-mts-al-khoirot/ http://www.alkhoirot.com/madrasah-tsanawiyah-mts-al-khoirot/#comments Sat, 10 May 2014 21:26:09 +0000 http://www.alkhoirot.com/?p=1040 Madrasah Tsanawiyah MTS MalangMadrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Khoirot Malang adalah sebuah lembaga pendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) yang didirikan pada 15 Julii 2009 di desa Karangsuko, Pagelaran (dulu, Gondanglegi), kabupaten Malang, Jawa Timur.  MTS Al-Khoirot Malang mengikuti kurikulum pemerintah c.q. Kementerian Agama dan ijazahnya diakui sehingga lulusannya dapat melanjutkan ke sekolah lanjutan tingkat (SLTA) baik Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), atau Madrasah Aliyah (MA). Baik negeri maupun swasta.  Secara kelembagaan, MTS Al-Khoirot berada di bawah yayasan Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang yang juga membawahi Madrasah Aliyah (MA) Al-Khoirot. MTS Al-Khoirot menerima siswa dan siswi lulusan Ssekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI)  negeri dan swasta dengan kewajiban memenuhi sejumlah ketentuan yang berlaku. Salah satu syarat terpenting adalah siswa atau siswi MTS Al-Khoirot harus bersedia untuk tinggal di Pondok Pesantren Al-Khoirot dan mengikuti seluruh kegiatan pesantren.

DAFTAR ISI

    1. Sejarah Berdirinya MTS Al-Khoirot
    2. Sejarah Madrasah Tsanawiyah
    3. Profil dan Struktur Organisasi MTS Al-Khoirot
    4. Beasiswa MTS Al-Khoirot
    5. Penerimaan Siswa Baru MTS Al-Khoirot


SEJARAH BERDIRINYA MTS AL-KHOIROT MALANG

Madrasah Tsanawiyah (MTS) Al-Khoirot Malang berdiri bersamaan dengan Madrasah Aliyah (MA) Al-Khoirot Malang, yakni pada tanggal 15 Juli 2009. Yang saat launching pertama dihadiri oleh jajaran pejabat Kemenag kecamatan Pagelaran; para Kepala Sekolah SLTP & SLTA se-kecematan Pagelaran, Kepala Desa (Kades) dan pamong desa Karangsuko, para tokoh masyarakat dan Dewan Pimpinan Pusat Yayasan Pondok Pesantren Al-Khoirot.


SEJARAH MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI

Kementrian Agama mengeluarkan peraturan Menteri Agama Nomor 1 tahun 1952. Menurut ketentuan ini, yang dinamakan madrasah ialah tempat pendidikan yang telah diatur sebagai sekolah dan memuat pendidikan umum dan ilmu pengetahuan agama Islam menjadi pokok pengajaranya.

Menurut ketentuan tersebut, jenjang pendidikan dalam madrasah tersusun sebagai berikut:

a. Madrasah Ibtidaiyah 6 tahun
b. Madrasah Tsanawiyah 3 tahun
c. Madrasah Aliyah 3 tahun

Sedangkan langkah-langkah pemerintah khususnya Departemen Agama (DEPAG) dalam mengembangkan pendidikan keagamaan, terutama madrasah, antara lain : mengembangkan Madrasah Wajib Belajar (MWB), Penegrian Madrasah, SKB 3 Mentri, UUSPN dan Implikasinya, Pengembangan Madrasah Model dan MA keagamaan.

Penegrian Madrasah

Penegrian dilatar belakangi karena madrasah pada umumnya didirikan secara swadaya dan swadana. Sudah barang tentu tidak akan mampu memenuhi kebutuhan penyelenggara pendidikan modern, yang semakin menuntut relevansi tinggi terhadap dunia teknologi dan industri. Usaha penegerian madrasah (asalnya swasta) dimulai dengan adanya penetapan Menteri Agama RI Nomor 1 tahun 1959 tentang Pengasuhan dan Pemeliharaan Sekolah Rakyat Islam di provinsi Aceh. Kemudian dengan Keputusan Menteri Agama Nomor 104 tahun 1962 menjadi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN). pada tahun 1962 terbuka kesempatan untuk menegrikan madrasah untuk semua tingkatan yaitu, Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN), dan Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri (MAAIN). Dengan adanya kesempatan tersebut, maka jumlah keseluruhan madrasah negeri yaitu MIN 358 buah, MTsN 182 buah, dan MAAIN 42 buah.

Lahirnya SKB 3 Menteri

Upaya membenahi madrasah terus digulirkan, diantaranya SKB 3 Menteri yang memberikan banyak keuntungan bagi madrasah. Tahun 1975 pemerintah menggulirkan kebijakan berupa SKB (Surat Keputusan Bersama) 3 Menteri ; Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri dalam Negeri. Dengan SKB tersebut ditetapkan hal-hal berikut :

a. Ijasah madrasah dapat mempunyai nilai yang sama dengan ijasah sekolah umum yang setingkat.
b. Lulusan madrasah dapat melanjutkan ke sekolah umum setingkat lebih atas
c. Siswa madrasah dapat berpindah ke sekolah umum yang setingkat.

UUSPN dan Penciptaan Suasana Religius

Kebijakan paling akhir yang bersifat umum, tetapi juga langsung berpengaruh terhadap madrasah adalah ditetapkanya UU Nomor 2 tahun 1989 tentang system pendidikan nasional. UU itu mengamanatkan bahwa otoritas penyelewnggara lembaga-lembaga pendidikan, termasuk di dalamnya lembaga-lembaga pendidikan islam ada pada Kemendiknas, sedangkan Kemenag hanya memiliki otoritas terhadap pendidikan keagamaan, seperti Madrasah Diniyah. Praktis dengan di keluarkanya UUSPN beserta peraturan-peraturan pemerintah yang menyertainya, berarti madrasah menjadi sekolah umum.


PROFIL DAN STRUKTUR ORGANISASI MTS AL-KHOIROT

MTS Al-Khoirot Malang sejak berdirinya pada tahun 2009 telah mengalami dua kali pergantian kepala sekolak (Kasek). Kasek pertama adalah Sayyid Muhammad Al-Baiti yang menjabat sejak 2009 sampai 2011. Kasek kedua adalah Bapak Eko yang menjabat sejak 2012 sampai sekarang (2014). Adapun struktur lengkap kepengurusan MTS Al-Khoirot adalah sebagai berikut:

Profil MTS Al-Khoirot

Nama: Madrasah Tsanawiyah Al-Khoirot atau MTS Al-Khoirot Malang
No. NSM: 1212-3507-0162
Status: Terdaftar dan dalam proses akreditasi
Tahun berdiri: 15 Juli 2009
Alamat: Jl. KH. Syuhud Zayadi No. 01 Karangsuko, Pagelaran, Malang 65174.
Telpon: 0341-879730
Email: mtsalkhoirot@gmail.com, dan mts@alkhoirot.com
Website: http://mts.alkhoirot.com

Struktur Organisasi

Kepala sekolah: Eko Wahyudi, AMd
Koordinator MTS Putri: Chusnia Khoirotus Sa’adah, S.Pd.I
Waka kurikulum: Sayed Ubaidilah, SHi.
Waka kesiswaan: Syamsul Arifin
Waka Sarana Prasarana: Syamsul Huda
Pembina OSIS dan Ekstra Kurikuler: Syamsul Arifin
Kepala Urusan Tata Usaha: Tomy Hermanto
Staf TU (Putri): Sholihah
Anggota statf TU (putri): Yayuk Yuliati dan Kholifatun Nisa’ Amul Jadidah
Bendahara: Sukron Fauzi
Bimbingan Konseling (BPBK): Chusnia Khoirotus Sa’adah, S.Pd.I
Staf bendahara (putri): Masluhatul Lailiyah

MTS AL-KHOIROT STRUKTUR ORGANISASI


BEASISWA MTS AL-KHOIROT

Beasiswa MTS SMP Siswa dan siswi MTS Al-Khoirot Malang yang masuk dalam kategori tidak mampu akan diajukan untuk menerima program beasiswa dari pemerintah yang bernama Bantuan Siswa Miskin (BSM). Dengan beasiswa ini, maka siswa akan mendapat bantuan dana untuk biaya pendidikan mereka. Besaran nilai beasiswa BSM SMP & MTs sebesar Rp. 550.000 per tahun.

Program BSM adalah Program Nasional yang bertujuan untuk menghilangkan halangan siswa miskin berpartisipasi untuk bersekolah dengan membantu siswa miskin memperoleh akses pelayanan pendidikan yang layak, mencegah putus sekolah, menarik siswa miskin untuk kembali bersekolah, membantu siswa memenuhi kebutuhan dalam kegiatan pembelajaran, mendukung program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun (bahkan hingga tingkat menengah atas), serta membantu kelancaran program sekolah.

Melalui Program BSM ini diharapkan anak usia sekolah dari rumah-tangga/keluarga miskin dapat terus bersekolah, tidak putus sekolah, dan di masa depan diharapkan mereka dapat memutus rantai kemiskinan yang saat ini dialami orangtuanya. Program BSM juga mendukung komitmen pemerintah untuk meningkatkan angka partisipasi pendidikan di Kabupaten/Kota miskin dan terpencil serta pada kelompok marjinal.

Program ini bersifat bantuan langsung kepada siswa dan bukan beasiswa, karena berdasarkan kondisi ekonomi siswa dan bukan berdasarkan prestasi (beasiswa)mempertimbangkan kondisi siswa, sedangkan beasiswa diberikan dengan mempertimbangkan prestasi siswa.

BSM terdiri dari 2 macam, yaitu BSM yang diatur oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan BSM yang diatur oleh Kementerian Agama.BSM yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terdiri dari Bantuan Siswa Miskin (BSM) dan Beasiswa Bakat dan Prestasi, sementara BSM yang dikelola oleh Kementerian Agama disebut sebagai Bantuan Beasiswa Siswa Miskin (disatukan pengelolaannya antara bantuan dengan beasiswa).


Penerimaan Siswa Baru MTs Al-Khoirot Malang

Persyaratan Pendaftaran

Madrasah Tsanawiyah Al-Khoirot menerima pendaftaran siswa baru dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Menyerahkan foto copy ijazah MI/SD/sederajat yang telah dilegalisir sebanyak 2 lembar.
2. Menyerahkan Surat Tanda Lulus (STL) asli.
3. Menyerahkan foto copy Surat Tanda Lulus (STL) yang telah dilegalisir sebanyak 2 lembar.
4. Menyerahkan Pas foto terbaru 3 x 4 dan 2 x 3 masing-masing 4 lembar.
5. Mengisi formulir pendaftaran dan membayar uang pendaftaran sebesar Rp 20.000,-.
6. Mengikuti tes seleksi dengan ujian meliputi :
a. Kemampuan Dasar Keagamaan (BTQ/Baca Tulis al-Qur’an dan pengetahuan umum keislaman)
b. Bahasa (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris)
c. Pengetahuan Umum.

Waktu dan Tempat Pendaftaran

1. Pendaftaran dibuka mulai April s/d Juli setiap hari kerja.
2. Pelayanan pendaftaran pada jam kerja
a. Pagi 07.30 – 12.30
b. Siang 14.00 – 16.30
3. Tempat pendaftaran di Madrasah Tsanawiyah Al-Khoirot Karangsuko Pagelaran Malang.
Telpon: (0341) 879730.

Sarana Penunjang Pembelajaran

Lab. Computer
Perpustakaan
Sarana Olah Raga
( Lapangan Sepak Bola, Tenis Meja dll)

ARTIKEL TERKAIT

]]>
http://www.alkhoirot.com/madrasah-tsanawiyah-mts-al-khoirot/feed/ 0
Madrasah Aliyah (MA) Al-Khoirot http://www.alkhoirot.com/madrasah-aliyah-al-khoirot/ http://www.alkhoirot.com/madrasah-aliyah-al-khoirot/#comments Thu, 24 Apr 2014 21:39:46 +0000 http://www.alkhoirot.com/?p=1019 madrasah aliyahMadrasah Aliyah Al-Khoirot Nakabg adalah sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA)  yang secara juridis formal sejajar dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Karena, kurikulum seluruh madrasah aliyah di seluruh Indonesia mengikuti kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama Republik Indonesia dan Kementerian Pendidikan Nasional.

Oleh karena itu lembaga pendidikan yang biasa dikenal dengan MA Al-Khoirot Malang ini mengikuti Ujian Nasional (Unas, UN) bagi siswa kelas tiga atau tingkat akhir. Dengan demikian, maka lulusan MA Al-Khoirot Malang dapat melanjutkan studi ke perguruan tinggi manapun baik negeri maupun swasta dan dapat memilih jurusan apapun yang dikehendaki. Baik jurusan sains (IPA), jusuran sosial, maupun jurusan agama. Lulusan MA Al-Khoriot Malang juga dapat melanjutkan ke luar negeri seperti Timur Tengah (Mesir, Arab Saudi, Yaman, Tunisia, Al-Jazair, Maroko, dll), Eropa, Amerika, China, Asia Timur (Jepang, Korea, Hongkong), Asia Tenggara (Singapore, Thailand, Filipina, Malaysia, Brunei, dll),  Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh), dan lain-lain.

DAFTAR ISI


SEJARAH MA AL-KHOIROT MALANG

madrasah aliyah al-khoirotMadrasah Aliyah Al-Khoirot Malang berdiri pada bulan 15 Juli 2009. Pada tahun awal berdirinya, sekolah ini hanya diperuntukkan untuk siswa laki-laki. Baru pada tahun 2010, madrasah aliyah untuk siswa perempuan didirikan.

Siswa MA putra dan MA putri dibedakan penyebutannya karena memang mereka berlokasi di tempat dan gedung yang berbeda. Siswa putra ditempatkan di gedung yang dibangun khusus untuk siswa putra, sedangkan siswa madrasah aliyah putri berada di lokasi yang khusus dibangun untuk siswa Aliyah putri.

Itulah sebabnya mengapa tahun berdirinya MA Putra dan MA Putri berbeda. Karena pada tahun 2009 kami masih sedang dalam proses mempersiapkan infrastuktur gedung sekolah untuk madrasah aliyah putri yang alhamdulillah dapat dirampungkan pembangunannya menjelang akan dimulainya tahun ajaran baru pada bulan Mei tahun 2010.

Dengan demikian, maka sejak tahun 2010 Pondok Pesantren Al-Khoirot telah membuka Madrasah Aliyah untuk tidak hanya untuk siswa laki-laki tapi juga untuk siswa perempuan.gedung putra ma al-khoirot malang

Dari uraian ringkas di atas, secara implisit dapat dipahami bahwa di bawah Yayasan Pondok Pesantren Al-Khoirot (YPPA), segregasi atau pemisahan antara siswa laki-laki dan siswa perempuan menjadi prinsip utama.

Asumsi itu benar dan faktual adanya. Karena, Pondok Pesantren Al-Khoirot ketika mendirikan Madrasah Aliyah tidak hanya bertujuan untuk mencerdaskan generasi muda yang belajar di MA Al-Khoirot. Tapi jauh lebih dari itu. YPPA memiliki visi mencetak generasi muda yang berilmu dan berakhlakul karimah yang beberapa poin terpentingnya adalah: taat syariah, pekerja keras, hidup sederhana dan peduli sesama.

Sebagai implementasi menuju ke arah visi ideal tersebut, maka diberlakukanlah sejumlah kebijakan sebagai berikut:

  1. Setiap siswa dan siswi harus terdafatar sebagai santri Pondok Pesantren Al-Khoirot. Dengan kata lain, Madrasah Aliyah Al-Khoirot tidak menerima siswa atau siswi yang berangkat dari rumah atau kos di luar. Walaupun rumahnya berada di lokasi yang sangat dekat dengan pesantren.
  2. Setiap siswa dan siswi MA harus mengikuti seluruh kegiatan harian pesantren yang meliputi: (a) Menjadi siswa di Madrasah Diniyah sesuai dengan kemampuan masing-masing; (b) mengikuti pengajian kitab kuning setiap pagi; (c) mengikuti pengajian Quran tartil setiap selesai shalat Maghrib; (d) dan mengikuti program ekstra kurikuler yang diadakan pesantren.
  3. Program mentoring. Yakni, setiap siswa dan santri berada di bawah bimbingan, panduan dan pengawasan ustadz di mana setiap 10 santri akan dibimbing oleh 1 orang ustadz. Dan mereka akan bertemu minimal seminggu sekali untuk diberi bmbingan masalah etika dan perilaku.
  4. Siswa MA juga dianjurkan mengikuti program Bahasa Arab dan Tahfidz (menghafal) Al-Quran. Walaupun program ini tidak wajib.
  5. Siswa MA di larang membawa hanphone (HP) dengan tujuan agar tetap fokus dalam proses belajar baik di sekolah maupun aktivitas pesantren.


SEJARAH MADRASAH ALIYAH

Madrasah Aliyah sebagai sekolah lanjutan tingkat atas memiliki sejarah yang cukup panjang di Indonesia. Sebagaimana sekolah SMA dan SMK yang bukan asli buatan Indonesia, demikian juga madrasah aliyah. Sebutan madrasah itu sendiri sudah menunjukkan bahwa lembaga ini berasal dari Timur Tengah yang berkembang sekitar abad ke – 10 dan 11.

MA Al-Khoirot PutriKehadiran madrasah di Indonesia menunjukkan fenomena modern dalam sistem pendidikan Islam Indonesia. Tim Penyusun Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia dari Dirjen Binbaga Depag RI menetapkan madrasah pertama kali berdiri di Pulau Sumatera, madrasah tersebut adalah Madrasah Adabiyah (1909), yang dimotori oleh Syaikh Abdullah Ahmad. Kemudian pada tahun 1910 berdiri pula Madrasah Schoel di Batusangkar oleh Syaikh M.Taib Umar, lalu M.Mahmud Yunus pada 1918 mendirikan Diniyah Schoel sebagai lanjutan dari Madrasah Schoel. Setelah itu Syeikh Abdul Karim Amrullah mendirikan Madrasah Tawalib di Padang Panjang dan H.Abdul Somad mendirikan pula Madrasah Nurul Uman di Jambi.

Madrasah berkembang di Jawa mulai 1912. ada model madrasah pesantren NU dalam bentuk Madrasah Awaliyah, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Mualimin Wustha, dan Muallimin Ulya ( mulai 1919), ada madrasah yang mengaprosiasi sistem pendidikan belanda plus, seperti muhammadiyah ( 1912) yang mendirikan Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Muallimin, Mubalighin, dan Madrasah Diniyah. Ada juga model AL-Irsyad ( 1913) yang mendirikan Madrasah Tajhiziyah, Muallimin dan Tahassus, atau model Madrasah PUI di Jabar yang mengembangkan madrasah pertanian, itulah  sejarah singkat madrasah di indonesia.

Di Indonesia, permulaan munculnya Madrasah baru sekitar abab 20, meski demikian latar belakang berdirinya madrasah tidak lepas dari dua faktor, yaitu semangat pembaharuan Islam yang berasal dari islam pusat(timur Tengah) dan merupakan respon pendidikan terhadap kebijakaan pemerintah Hindia Belanda yang mendirikan serta mengembangkan sekolah. Hal ini juga diamini oleh M. Arsyad yang dikutip Khoirul Umam, munculnya madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam dikarenakan kekhawatiran terhadap pemerintah Hindia Belanda yang mendirikan sekolah-sekolah umum tanpa dimasukkan pelajaran dan pendidikan agama Islam. Pemerintah Kolonial menolak eksistensi pondok pesantren dalam sistem pendidikan yang hendak dikembangkan di Hindia Belanda. Kurikulum maupun metode pembelajaran keagamaan yang dikembangkan di pondok pesantren bagi pemerintah kolonial, tidak kompatibel dengan kebijakan politik etis dan modernisasi di Hindia Belanda. Di balik itu, pemerintah kolonial mencurigai peran penting pondok pesantren dalam mendorong gerakan-gerakan nasionalisme dan prokemerdekaan di Hindia Belanda.

Menyikapi kebijakan tersebut, tokoh-tokoh muslim di Indonesia akhirnya mendirikan dan mengembangkan madrasah di Indonesia didasarkan pada tiga kepentingan utama, yaitu: 1) penyesuaian dengan politik pendidikan pemerintah kolonial; 2) menjembatani perbedaan sistem pendidikan keagamaan dengan sistem pendidikan modern; 3) agenda modernisasi Islam itu sendiri.

Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah mengantarkan pendidikan Islam ke dalam babak sejarah baru, yang antara lain ditandai dengan pengukuhan sistem pendidikan Islam sebagai pranata pendidikan nasional. Lembaga-lembaga pendidikan Islam kini memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh dan berkembang serta meningkatkan kontribusinya dalam pembangunan pendidikan nasional. Di dalam Undang-Undang itu setiap kali disebutkan sekolah, misalnya pada jenjang pendidikan dasar yaitu sekolah dasar, selalu dikaitkan dengan madrasah ibtidaiyah, disebutkan sekolah menengah pertama dikaitkan dengan madrasah tsanawiyah, disebutkan sekolah menengah dikaitkan dengan madrasah aliyah, dan lembaga-lembaga pendidikan lain yang sederajat, begitu pula dengan lembaga pendidikan non formal.


PROFIL DAN STRUKTUR ORGANISASI MA Al-KHOIROT MALANG

MA Al-Khoirot Malang sejak berdirinya pada tahun 2009 telah mengalami tiga kali pergantian Kepala Sekolah (Kasek). Yang pertama adalah KH. Ja’far Shodiq, S.Ag yang menjabat sampai 2011. Kasek kedua adalah Mochamad Iqbal, MA, dari 2011 sampai 2013, dan Kasek ketiga adalah KH. Muhammad Humaidi, S.Hi, dari 2013 sampai sekarang (2014). Adapun struktur lengkap dan profil MA Al-Khoirot Malang adalah sebagai berikut:

Profil MA Al-Khoirot

Nama: Madrasah Aliyah Al-Khoirot atau MA Al-Khoirot Malang
No. NSM: 131235070047
NPSN: 20573277
No. Akreditasi: Kw.13.4/4/PP.00.6/12244/2010
Status: Terakreditasi B.
Tahun berdiri: 15 Juli 2009
Alamat: Jl. KH. Syuhud Zayadi No. 01 Karangsuko, Pagelaran, Malang 65174.
Telpon: 0341-879730
Email: aliyah.alkhoirot@gmail.com dan ma@alkhoirot.com
Webstie: http://ma.alkhoirot.com

Struktur Organisasi

Kepala sekolah: Muhammad Humaidi, S.Hi
Koordinator MTS Putri: Juwairiyah Arifin, SE
Waka kurikulum: Rokim, S.Pd.I.
Waka kesiswaan: Mochamad Khoiruman
Waka Sarana Prasarana: Nasiruddin
Bendahara: Imam Syahro Wardi
Staf Bendahara (Putri): Muyassaroh
Pembina OSIS dan Ekstra Kurikuler: Shohibul Bahri
Kepala Urusan Tata Usaha: Kholilurrohman
Wakil KTU: Abd. Rohman
Kepala Pengelola Perpustakaan: Agus Jailani
Kepala Pengelola Lab. Kom.: Rokim, S.Pd.I
Bimbing Konseling: Gayuh Ridatus Sholihin, S.Pd

MA AL-KHOIROT STRUKTUR ORGANISASI


BEASISWA BSM MA AL-KHOIROT

Siswa dan Siswi MA Al-Khoirot Malang yang kurang mampu secara finansial akan mendapat beasiswa dari pemerintah dalam program Bantuan Siswa Miskin (BSM). Nilainya sebesar Rp. 780.000 per tahun. Beasiswa ini ditujukan bagi mereka yang sudah diterima menjadi siswa/siswi MA Al-Khoirot.


BEASISWA LUAR NEGERI UNTUK LULUSAN MA

Lulusan Madrasah Aliyah (MA) bisa melanjutkan ke program sarjana S1 dengan gratis melalui program beasiswa Indonesian Leadership Awards (ILA) 2014.

Program beasiswa dari Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam ini diperuntukkan bagi lulusan Madrasah Aliyah tahun 2013 dan 2014. Mereka dapat memilih kampus luar negeri untuk melanjutkan studi S-1.

PERSYARATAN:

  1. Tidak boleh berusia lebih dari 21 tahun pada 1 Oktober 2014.
  2. Nilai minimal TOEFL IBT adalah 80 atau sertifikat TOEFL PBT dengan nilai minimal 550 atau IELTS 6,0.

BIDANG STUDI DAN UNIVERSITAS TUJUAN

Lulusan Program Fisika (A-1)

Lulusan Program Fisika (A-1)dapat memilih dua program studi dari beberapa pilihan berikut yaitu Teknik Sipil di Kyoto University, Teknik Mesin dan Aerospace di Tohoku University serta Sains dan Teknologi di Middle East Technical University, Istanbul University, dan Ankara University.

Lulusan Program Biologi (A-2)

Lulusan Program Biologi (A-2) dapat memilih untuk melanjutkan ke bidang studi berikut:  Kimia Material/Molekular di Tohoku University, Biologi Kelautan di Tohoku University serta Sains dan Teknologi di Middle East Technical University, Istanbul University, dan Ankara University.

Lulusan Program Sosial-Ekonomi (B)

Lulusan Program Sosial-Ekonomi (B) dapat melanjutkan studi dengan pilihan jurusan berikut:  studi ke Ritsumeikan Asia Pacific University. Di sini, mereka bisa memilih jurusan ilmu sosial dengan program studi International Relations & Peace Studies, Environment & Development dan Culture-Society and Media. Pilihan lainnya adalah Manajemen Internasional dengan program studi Accounting & Finance, Strategic Management & Organization serta Innovation & Economics.

Beasiswa yang ditanggung meliputi biaya hidup dan uang kuliah

Siswa dan siswa MA Al-Khoirot yang masuk kategori tidak mampu akan mendapatkan beasiswa dari pemerintah di bawah program Beasiswa Siswa Miskin (BSM). Beasiswa ini akan diberikan bagi mereka yang sudah diterima sebagai siswa MA Al-Khoirot.

Penerimaan Siswa Baru MA Alkhoirot Malang

Persyaratan Pendaftaran

Pada tahun pelajaran 2011/2012, Madrasah Aliyah Al-Khoirot menerima pendaftaran siswa baru dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Menyerahkan foto copy ijazah MTs/SMP/sederajat yang telah dilegalisir sebanyak 2 lembar.
2. Menyerahkan Surat Tanda Lulus (STL) asli.
3. Menyerahkan foto copy Surat Tanda Lulus (STL) yang telah dilegalisir sebanyak 2 lembar.
4. Menyerahkan Pas foto terbaru 3 x 4 dan 2 x 3 masing-masing 4 lembar.
5. Mengisi formulir pendaftaran dan membayar uang pendaftaran sebesar Rp 20.000,-.
6. Mengikuti tes seleksi dengan ujian meliputi :
a. Kemampuan Dasar Keagamaan (BTQ/Baca Tulis al-Qur’an dan pengetahuan umum keislaman)
b. Bahasa (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris)
c. Pengetahuan Umum.

Waktu dan Tempat Pendaftaran

1. Pendaftaran dibuka mulai tanggal 28 April 2011 s/d 1 Juli 2011 setiap hari kerja.
2. Pelayanan pendaftaran pada jam kerja
a. Pagi 07.30 – 12.30
b. Siang 14.00 – 16.30
3. Tempat pendaftaran di Madrasah Aliyah Al-Khoirot Karangsuko Pagelaran Malang.
Telpon: (0341) 879709 – 879730. HP: 081555702122

Program Studi
Program Keagamaan (PK)

Mata Pelajaran Pokok

Al-Qur’an Hadits
Tafsir dan Ilmu Tafsir
Ilmu Hadits
Akidah Akhlak
Fikih
Bahasa Arab
Sejarah Kebudayaan Islam

Sarana Penunjang Pembelajaran

Lab. Computer
Perpustakaan
Sarana Olah Raga
( Lapangan Sepak Bola, Tenis Meja dll)
____________________________

ARTIKEL TERKAIT

]]>
http://www.alkhoirot.com/madrasah-aliyah-al-khoirot/feed/ 0
Cara Infaq ke Ponpes Al-Khoirot Malang http://www.alkhoirot.com/rekening-bank-ponpes-al-khoirot/ http://www.alkhoirot.com/rekening-bank-ponpes-al-khoirot/#comments Sat, 08 Mar 2014 18:19:02 +0000 http://www.alkhoirot.com/?p=315 infaqAssalamualaikum para dermawan sekalian,

Para dermawan yang hendak memberi donasi, sumbangan atau infak untuk pengembangan dan pembangunan yang ada di pondok pesantren Al-Khoirot, Anda dapat menyumbangkan dana infaq dengan tiga cara: (a) Datang langsung; (b) Transfer dana via bank (c)  Transfer via Western Union (d) transfer via internet dengan kartu kredit via Paypal. Lebih detailnya, lihat info di bawah.

CARA TRANSFER INFAQ VIA BANK, WESTERN UNION  DAN INTERNET

infaq2CATATAN: Setelah transfer dana, mohon dikonfirmasi via SMS ke: 085855999549 (Bpk. Imam Syahrowardi)

  • Bank BRI. No. Rekening: 3152-01-001060-50-6. Atas Nama: Chusnia K. Saadah
  • Bank BCA No. Rekening: 3170-4020-64. Atas nama: Chusnia K. Saadah
  • Bank Mandiri No. Rekening: 14400-12490667. Atas Nama: Muhammad Hamidurrohman
  • Western Union Money Transfer a.n. Ja’far Sodiq Dsn Krajan Rt/Rw: 09/01. Karangsuko, Pagelaran, Malang Indonesia (konfirmasi pemberitahuan harap menyertakan nomor MTCN).
  • Untuk infaq via PayPal/kartu kredit melalui internet, kirim ke akun Paypal: syuhud@gmail.com.

Mohon perhatian:

  • Setelah men-transfer harap konfirmasi via SMS atau telpon ke: 085855999549 (a.n. Imam Syahrowardi) dengan menyebut nama bank dan jumlah dana yang ditransfer atau melalui email ke: info@alkhoirot.com atau alkhoirot@gmail.com
  • Kepada Bapak/Ibu para muhsinin yang telah menyalurkan sebagian rezekinya kami mendo’akan “Jazâkumullâhu khairan wabarokallâhu fîkum wafî ahlikum wa mâlikum”. Insya Allâh harta yang bapak/ibu infaq-kan akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Atas nama Tim Pembangunan Ponpes Al-Khoirot kami menghaturkan jazakumullah ahsanal jaza’. Semoga Allah yang membalas kebaikan Anda.

Pembangunan Ponpes Al-Khoirot Malang

Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah santri di Ponpes Al-Khoirot Malang baik putra maupun putri, maka pennambahan infrastruktur dan fasilitas gedung mendesak untuk dilaksanakan. Untuk itu, tim pembangunan Ponpes Al-Khoirot terus berusaha keras memenuhi kebutuhan tersebut. Karena kami menganut kebijakan untuk tidak mengenakan biaya uang gedung kepada siswa dan santri, maka kami mengharapkan donasi dari kalangan dermawan untuk sama-sama memikul tanggung jawab mengemban amanah pendidikan anak bangsa.

Berapapun infak yang Anda kirimkan, akan berperan penting untuk pembangunan Pontren Al-Khoirot dan pendidikan anak-anak miskin.

Kirimkan donasi Anda secara langsung atau melalui transfer ke nomor rekening bank kami. Anda juga dapat mentrasfer dana via Paypal.

_________________________

TULISAN DI BAWAH INI SUDAH TAK BERLAKU. UNTUK INFAK SILAHKAN LIHAT PADA DULISAN DI ATAS
Transaksi pembelian dan pembebasan tanah wakaf untuk Pondok Pesantren Putri Al-Khoirot sudah selesai. Sertifikat sudah berpindah tangan menjadi miliki PPA. Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang dengan kuasanya telah memberi kekuatan pada kami untuk memperluas area kawasan pesantren putri. Namun demikian, sumbangan dan infak tetap kami harapkan dari para dermawan untuk (a) menyelesaikan kekurangan pembayaran; dan (b) membangun infrastruktur yang sedang dan akan dibangun di atas tanah wakaf tersebut. Silahkan kirimkan infak Anda berupa material atau cash ke alamat di bawah.

Perihal Pembebasan Tanah
Kami atas nama pengurus Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang Jatim bermaksud membebaskan tanah untuk perluasan dan pengembangan pesantren, khususnya pesantren putri yang saat ini sangat membutuhkan lahan baru karena lokasinya sudah tidak mencukupi.

Tanah yang saat ini akan kami bebaskan berada di sebelah utara pesantren putri seluas kurang lebih 12.000 meter atau 1 hektar lebih.

Harga Tanah Per-Meter
Harga per-meter: Rp. 300.000 (tiga ratus ribu rupiah).
Batas akhir infaq wakaf: Desember 2012

Cara Infaq Tanah Waqaf
Dana untuk pembebasan tanah wakaf tersebut dapat diantar langsung ke Ponpes Al-Khoirot atau melalui salah satu rekening bank berikut:

CATATAN: Setelah transfer dana, mohon dikonfirmasi via SMS ke: 085855999549 (Bpk. Imam)

Bank BRI. No. Rekening: 3152-01-001060-50-6. Atas Nama: Chusnia K. Saadah
Bank BCA No. Rekening: 3170-4020-64. Atas nama: Chusnia K. Saadah
Bank Mandiri No. Rekening: 14400-12490667. Atas Nama: Muhammad Hamidurrohman Syuhud
Western Union Money Transfer a.n. Ja’far Sodiq Dsn Krajan Rt/Rw: 09/01. Karangsuko, Pagelaran, Malang Indonesia (konfirmasi pemberitahuan harap menyertakan nomor MTCN).
Untuk infaq via PayPal/kartu kredit melalui internet, kirim ke akun Paypal: syuhud@gmail.com lihat caranya di sini!
Mohon perhatian: Setelah men-transfer harap konfirmasi via SMS atau telpon ke: 085855999549 (a.n. Imam Syahrowardi) dengan menyebut nama bank dan jumlah dana yang ditransfer.Kepada Bapak/Ibu para muhsinin yang telah menyalurkan sebagian rezekinya kami mendo’akan “Jazâkumullâhu khairan wabarokallâhu fîkum wafî ahlikum wa mâlikum”. Insya Allâh harta yang bapak/ibu infaq-kan akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.Wassalam,
Koordinator Pembebasan Tanah Wakaf 2011/2012 Ponpes Al-Khoirot Malang
Ketua: Syamsul Arifin.
Sekretaris/Bendahara: Imam Syuhrawardi. HP: 085855999549
Wakil: H. Ali Ridho

Alamat sekretariat:

Ponpes Al-Khoirot Malang Jl. KH. Syuhud Zayyadi 01 Karangsuko, Pagelaran, Malang 65174 Jawa Timur

]]>
http://www.alkhoirot.com/rekening-bank-ponpes-al-khoirot/feed/ 0
Download Kitab Kuning http://www.alkhoirot.com/download-kitab-kuning/ http://www.alkhoirot.com/download-kitab-kuning/#comments Mon, 17 Feb 2014 21:35:00 +0000 http://www.alkhoirot.com/?p=952 al-ummKitab Kuning adalah istilah untuk kitab literatur dan referensi Islam dalam bahasa Arab klasik meliputi berbagai bidang studi Islam seperti Quran, Tafsir, Ilmu Tafsir, Hadits, Ilmu Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih, Kaidah Fiqih, Tauhid, Ilmu Kalam, Nahwu dan Sharaf atau ilmu lughah termasuk Ma’ani Bayan Badi’ dan Ilmu Mantik, Tarikh atau sejarah Islam, Tasawuf, Tarekat, dan Akhlak, dan ilmu-ilmu apapun yang ditulis dalam Bahasa Arab oleh para ulama dan intelektual muslim klasik.

CATATAN: Kitab kuning yang dikaji secara reguler di Pondok Pesantren Al-Khoirot lihat di sini.

INDEKS

 

Kitab Kuning


APA ITU KITAB KUNING

Disebut Kitab Kuning karena dulunya kitab-kitab tersebut dicetak pada kertas berwarna kuning. Baik cetakan dalam negeri atau cetakan luar negeri (Beirut).

Walaupun saat ini sebagian besar sudah dicetak pada kertas  berwarna putih, namun nama kitab kuning tetapi dipakai dan lebih populer daripada sebutan lain. Bahkan, kitab versi digital pun tetap disebut kitab kuning.

Istilah lain dari Kitab Kuning adalah kitab gundul atau kitab klasik. Di negara Arab, kitab kuning disebut dengan Kitab Turats (Turos).

Pada perkembangannya, kitab kuning tidak hanya terbatas pada kitab-kitab yang ditulis oleh ulama klasik yang hidup di abad pertengahan, tapi juga mencakup pada kitab-kitab yang ditulis oleh ulama kontemporer yang meliputi bidang studi keislaman (Islamic Studies).

Perlu juga dicatat, bahwa kitab kuning dikaji secara mendalam hanya di Pondok Pesantren yang bersistem salaf. Sedangkan di pesantren yang bersistem modern, seperti Gontor dan semacamnya, kitab kuning tidak dipelajari secara detail atau bahkan tidak dikaji sama sekali. Itulah antara lain yang akan membedakan hasil keluaran pesantren salaf dan modern. Lulusan pesantren salaf lebih mahir dan menguasai kitab kuning dan mumpuni di bidang hukum syariah (fiqih Islam) sedangkan keluaran pesantren modern umumnya hanya bisa berbicara bahasa Arab sehari-hari. Dengan kata lain, kalau pesantren salaf lebih menekankan pada kemampuan bahasa Arab tulis (writing) dan baca (reading), maka pondok modern lebih menekankan pada kemampuan bahasa Arab bicara (speaking).

Idealnya, sebuah pesantren mengombinasikan sistem yang ada di pesantren salaf dan modern.


MAKTABAH SYAMILAH

kitab kuning

Digitalisasi Kitab Kuning pertama kali dilakukan oleh Maktabah Syamilah. Oleh karena itu, umat Islam, khususnya kalangan santri, harus berterima kasih pada siapapun yang memprakarsai proyek digitalisasi kitab kuning ini. Namun demikian, kalangan Ahlussunnah harus tetap berhati-hati dengan kitab-kitab digital yang berasal dari Maktabah Syamilah karena konon sosok yang berada di balik proyek ini adalah aktivis atau simpatisan gerakan Wahabi. Software ini pada mulanya diterbitkan oleh jaringan dakwah Salafi Wahabi (Sawah) di dunia Maya, yaitu “www.shamela.ws” dan “ www.almeshkat.com.”

Sebenarnya tidak ada masalah apakah Maktabah Syamilah itu diinisiasi oleh aktivis Wahabi atau bukan sepanjang tidak ada pengrusakan atau perubahan dalam konten atau isi kitab tersebut.

Yang menjadi problem adalah ada sebagian dari kandungan kitab yang dirubah oleh mereka, khususnya yang isinya tidak sesuai dengan akidah Wahabyah.  Beberapa fakta yang pernah diteliti:


PERUBAHAN DAN PEMALSUAN ISI KITAB OLEH WAHABI

1. Tafsir Ash-Shawi ‘ala Tafsir Al-Jalalain (تفسير الصاوي) yang sudah dipalsukan dan dihapus oleh Wahabi Salafi adalah cetakan “Darul Fikr” tahun 1993 jilid 3 halaman 397 tertulis

و قيل : هذه الأية نزلت في الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب و السنة , و يستحلون بذلك دماء المسلمين و أموالهم , لما هو مشاهد الأن فى نظائرهم………….. يحسبون أنهم على شيئ

Wahabi menghapus kalimat: و هم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية (Artinya: Mereka adalah golongan orang-orang yang berasal dari tanah Hijaz (sekarang Saudi). Golongan tersebut dinamakan “Wahabiyyah”)

Redaksi kitab yang asli sebelum dirubah adalah sebagai berikut:

و قيل : هذه الأية نزلت في الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب و السنة , و يستحلون بذلك دماء المسلمين و أموالهم, لما هو مشاهد الأن فى نظائرهم و هم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية يحسبون أنهم على شيئ

(Artinya: Dikatakan bahwa ayat tersebut di atas diturunkan pada kaum Khawarij, yaitu golongan orang-orang yang suka mentahrif (merubah) Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Dengan demikian, mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Hal itu bisa dibuktikan, karena adanya suatu kesaksian pada bangsa mereka saat ini. Mereka adalah golongan orang-orang yang berasal dari tanah Hijaz (sekarang Saudi). Golongan tersebut dinamakan “Wahabiyyah”. Mereka mengira bahwa mereka berkuasa atas sesuatu.)
Lebih detail lihat di sini.

2. Menurut penelitianpenulis, ada 38 kitab yang telah terbukti mengalami pemalsuan. Padahal ini belum lagi yang lain yang jumlahnya banyak. Diantaranya: 1. Shahih bukhari 2. Shahih muslim 3.Shahih at-turmudzi 4. Musnad imam ahmad 5. Tarikh al-ya’qubi 6. Nahj al-balaghah 7. Syarh aqaid an-nasafi 8. Al-kasykul wal mukhallah 9. Iqtidhas shirat al-mustaqim 10. Ahwalul qubur, ibn rajab 11. Al-bahr al-muhith 13. As-shawaiqul muhriqah 14. Diwan al-mutanabbi 15. Akhbarul himaqi wal mughaffilin 16. Hayatul muhammad 17. Thabaqatul mu’tazilah 18. Al-ibanah, asy’ari 19. Majma’ al-bayan 20. Mukhtashar tarikh ad-dual 21. Al-aghani, abul faraj 22. Muqatil at-thalibin 23. At-thabaqat, ibn sa’ad 24. Syarh an-nahj, al-mu’tazili 25. Tathir al-jinan 26.Al-ma’arif, ibn qutaibah 27. Tarikh at-thabari 28. Hasiyah as-shawi ala tafsir jalalain 29. Aqidatus salaf ashabul hadits 30. Syarh al-aqidah at-thahawiyah 31. Al-adzkar, an-nawawi 32.Tafsir al-kasyaf, az-zamahsyari 33. Diwanul imam syafi’i 34. Al-fawaid al-muntakhabat 35. Tafsir ruhul ma’ani 36. Hasiyah ibnul abidin 37. Majmu’ fatawa, ibn taimiyah 38. Nihayah al-qaul al-mufid. Lebih detail lihat di sini.

3. Mengapa kelompok Wahabi berani merubah isi kitab yang notabene merupakan karya ilmiah? Bukankah itu merupakan pengkhianatan intelektual dan kebohongan publik? Bagi Wahabi, itu bukan kebohongan tapi merupakan strategi. Dan itu legal dan sah. Setidaknya itulah fatwa dari ulama mereka yaitu Ibnu Baz dan Alu Syaikh. Lebih detail lihat di sini.

Kalau pegiat Wahabi berani merubah kitab kuning yang versi cetak, maka tentu mereka akan lebih berani merubah versi digitalnya karena lebih mudah. Untuk itu, harap tetap hati-hati dan waspada dalam memakai kitab-kitab versi digital karena mayoritas berasal dari koleksi yang dibuat oleh kalangan Salafi Wahabi (Sawah) walaupun bukan berarti kita harus menjauhi kitab-kitab tersebut sama sekali.

Sekaligus ini menjadi pembelajaran bagi kita, Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja), agar lebih proaktif dalam membangun dan melindungi akidah Aswaja.


DOWNLOAD KITAB & FORMAT FILE (BERKAS)

Format berkas kitab kuning digital di bawah ini adalah pdf atau ms word (doc, docx)


AL-QURAN


ILMU AL-QURAN


TAFSIR


ILMU TAFSIR


HADITS


ILMU HADITS


FIQIH

KITAB UTAMA MADZHAB SYAFI’I


USHUL FIQIH


AKIDAH AHLUSSUNNAH


AKIDAH WAHABI


LUGHAH (NAHWU & SHARAF)

Kebanyakan link di bawah untuk versi online. Bukan download.


TARIKH


TASAWUF


AKHLAK


ALAM GHAIB


DOWNLOAD KITAB TERJEMAH INDONESIA

Terjemah Kitab Al-Umm dalam format DJVU ini merupakan terjemahan lengkap dan dialihkan ke dalam format digital langsung dari versi cetaknya.  Data kitab seperti tertulis dalam versi cetaknya adalah sebagai berikut:

Nama: Al-Umm Kitab Induk
Karangan: Al-Imam Asy-Syafi’i
Terjamahan: Prof.  TK. H. Ismail Yakub, Sh., MA.
Penerbit: Victory Agence, Kuala Lumpur, Malaysia

TERJEMAH KITAB KUNING PESANTREN

Berikut terjemahan kitab-kitab yang biasa dikaji di pesantren salaf meliputi berbagai bidang studi seperti fikih, tasawuf, akhlak, tafsir, hadits, tarikh, dan lain-lain.

Quran dan Tafsir

Fikih

Tasawuf & Akhlak

Sejarah

Bahasa Arab

]]>
http://www.alkhoirot.com/download-kitab-kuning/feed/ 13
Biaya dan Proses Pendaftaran Pesantren Al-Khoirot 2014 http://www.alkhoirot.com/biaya-pendaftaran-pesantren/ http://www.alkhoirot.com/biaya-pendaftaran-pesantren/#comments Wed, 29 Jan 2014 23:48:04 +0000 http://www.alkhoirot.com/?p=526 Pondok Pesantren Al-Khoirot dikenal sebagai pesantren berkualitas tinggi yang pro-rakyat miskin dalam segi pembiayaan. Karena biaya yang dibebankan pada para santri dan siswa tergolong sangat kecil dibanding dengan (a) biaya di pesantren dan lembaga pendidikan lain; dan (b) kualitas belajar mengajar yang ditawarkan.

DAFTAR ISI

  1. Pendaftaran dan Penerimaan
  2. Biaya Penerimaan Pesantren
  3. Biaya Penerimaan Sekolah MTs MA
  4. Biaya Bulanan Putra Putri
  5. Biaya Makan dan Laundry
  6. Yang Gratis di PP Al-Khoirot
  7. Download Formulir Pendaftaran
  8. Waktu Pendaftaran Pesantren Putri
  9. Proses Pendaftaran dan Penerimaan di Pesantren
  10. Proses Daftar Masuk Pesantren dan Madrasah Diniyah
  11. Proses Daftar Masuk MA MTs Al-Khoirot
  12. Program PP Al-Khoirot
  13. Rute Jalan Ke PP Al-Khoirot
  14. Nomor Telepon PP Al-Khoirot

Penting: PP Al-Khoirot menganut sistem santri & siswa yang terintegrasi. Artinya, santri harus ikut pendidikan formal SLTP SLTA (kecuali yang sudah lulus SLTA) dan semua siswa harus tinggal di dalam kompleks pesantren dan mengikuti seluruh program pesantren termasuk madrasah diniyah dan pengajian kitab kuning (klasik) oleh pengasuh.

Berikut biaya pendaftaran dan penerimaan santri dan siswa baru di Pondok Pesantren Al-Khoirot Putra dan Putri:

I. BIAYA PENDAFTARAN SANTRI DAN SISWA PUTRA

Biaya pendaftaran dan biaya bulanan pendidikan pesantren per Januari 2012 adalah sebagai berikut:

A. Biaya Pendaftaran Pesantren dan Madrasah Diniyah

  • Jumlah : Rp. 115.000
  • Biaya makan bulan pertama: Rp. 120.000*
  • Infaq tanah waqaf:  Rp. 300.000
  • Total: Rp. 535.000 (lima ratus tiga puluh lima ribu)

*Catatan: Kos makan adalah pilihan. Santri boleh kos di tempat lain (yang lebih mahal).

B. Biaya Pendaftaran dan Penerimaan Sekolah Formal

1. Biaya masuk SLTP / MTs Al-Khoirot: Rp. 355.000.
2. Biaya masuk SLTA / MA Al-Khoirot: Rp. 330.000.

Biaya total apabila masuk pesantren dan sekolah SLTP/MTS Putra: Rp. 535.000 + 355.000 = Rp. 890.000.
Biaya total apabila masuk pesantren dan sekolah SLTA/M.A Putra: Rp. 535.000 + 330.000 = Rp. 865.000.

Biaya di atas termasuk biaya SPP bulan pertama.


C. Biaya Bulanan Putra Putri

Biaya bulanan (syahriyah) untuk sekolah formal, madrasah diniyah (madin) dan pesantren putra adalah sebagai berikut:

1. Infaq bulanan untuk MTS + Madin + Pesantren = Rp. 25.000 (dua puluh lima ribu rupiah)
2. Infaq bulanan untuk MA + Madin + Pesantren = Rp. 30.000 (tiga puluh ribu rupiah)

Total Biaya Perbulan

1. Siswa MTS 25.000 + 20.000 = 45.000 (empatpuluh lima ribu)
2. Siswa MA 30.000 + 20.000 = 50.000 (lima puluh ribu)


Biaya Makan dan Laundry

Makan dan laundry adalah pilihan. Bukan kewajiban.

1. Biaya makan perbulan bervariasi. Yang termurah Rp. 120.000
2. Biaya laundry/cuci seterika Rp. 3.500/kg


D. Yang Gratis di PP Al-Khoirot

1. Formulir pendaftaran: Gratis
2. Daftar ulang setiap tahun: Gratis
3. Menghafal Al-Quran: Gratis
4. Program Qiroah Taghanni (berlagu): Gratis.
5. Karatedo: Gratis.


II. BIAYA PENDAFTARAN SANTRI DAN SISWA PUTRI

Biaya total apabila masuk pesantren dan sekolah SLTP/MTS Putri: Rp. 890.000.
Biaya total apabila masuk pesantren dan sekolah SLTA/MA Putri: Rp. 865.000.

Biaya di atas sudah termasuk biaya SPP, Seragam 3 stel dan biaya makan bulan pertama.


III. PROSES PENDAFTARAN SANTRI AL-KHOIROT

Proses pendaftaran masuk ke pesantren Al-Khoirot Malang sangat mudah. Pada prinsipnya, begitu Anda berniat dan memutuskan untuk belajar di pesantren Al-Khoirot, maka Anda dapat langsung datang dengan membawa perbekalan secukupnya dan langsung tinggal di pesantren. Karena kami tidak menerapkan sistem seleksi terlebih dahulu. Inilah tradisi pesantren salaf yang tetap kami pertahankan yang menerima langsung seluruh santri yang hendak nyantri di pesantren tanpa melihat latar belakang sosial, ekonomi maupun “tampilan fisik”.

III.A. PROSES DAFTAR MASUK PESANTREN DAN MADRASAH DINIYAH

1. Waktu pendaftaran: sepanjang waktu dan sepanjang tahun.
2. Tempat: Kantor Pesantren dan Madin Putra untuk santri putra dan Kantor Pesantren Putri untuk calon santri putri.
3. Memilih kamar yang akan ditempati.
4. Dites untuk penempatan kelas madrasah diniyah.

III.B. PROSES DAFTAR MASUK SEKOLAH MTS MA

1. Waktu pendaftaran: jam 07.00 s/d 12.00 WIB. Pada bulan April – September. Sepanjang tahun untuk siswa pindahan dari sekolah lain.
2. Tempat: Kantor MTs dan MA Al-Khoirot putra untuk calon siswa putra dan Kantor MTS MA Putri untuk calon siswa putri.
3. Akan ditempatkan di asrama berdasarkan sekolah. Siswa MTs akan berada di asrama MTs dan siswa MA akan berada di asrama khusus MA.

IV. DOWNLOAD FORMULIR PENDAFTARAN SISWA DAN SANTRI BARU

1. Formulir Pendaftaran MTS Al-Khoirot
2. Formulir Pendaftaran MA Al-Khoirot
3. Formulir pendaftaran Pesantren


PROGRAM PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN AL-KHOIROT MALANG

Program Pendidikan Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang


RUTE JALAN KE PP AL-KHOIROT MALANG

Rute jalan menuju Pondok Pesantren Al-Khoirot Putra dan Putri adalah sebagai berikut:

1. Dari arah utara: Madura, Surabaya, Pasuruan, Malang via Kepanjen
A. Bawa kendaraan sendiri: Kota Malang -> Kepanjen -> 7 km ke arah Gondanglegi -> turun di Karangsuko.
B. Naik angkutan: Kota Malang -> Kepanjen -> naik angkot atau ojek 7 km ke arah Gondanglegi -> turun di Karangsuko.
C. Naik kereta api dari Surabaya atau Malang turun di Stasiun Kepanjen -> naik angkot atau ojek 7 km ke arah Gondanglegi -> turun di Karangsuko.

2. Dari utara: Madura, Surabaya, Pasuruan, Malang via Gondanglegi
A. Bawa kendaraan sendiri: Kota Malang -> Gondanglegi -> 4 km ke arab barat turun di Karangsuko.
B. Naik angkutan: Kota Malang -> Gondanglegi -> 4 km ke arah barat dengan naik angkot jurusan Kepanjen turun di Karangsuko.
C. Naik kereta api dari Surabaya turuan di stasiun Malang -> naik angkot ke Gondanglegi -> naik angkot atau ojek 5 km ke arah Kepanjen turun di Karangsuko.
Catatan: Kalau naik kereta api sebaiknya turun di stasiun Kepanjen.

3. Dari arah barat: Kediri, Madiun, Blitar, Tulungagung
A. Bawa kendaraan sendiri: sesampai di kota Kepanjen -> 7 km ke arah Gondanglegi turun di Karangsuko
B. Naik angkutan: naik bus jurusan Malang turun di Kepanjen -> naik angkot atau ojek 7 km ke arah timur arah Gondanglegi turun di Karangsuko
C. Naik kereta api dari Kediri/Blitar turun di Stasiun Kepanjen -> naik angkot atau ojek 7 km ke arah Gondanglegi -> turun di Karangsuko.

4. Dari arah timur: Jember, Lumajang, Dampit, Turen
A. Bawa kendaraan sendiri: Turen -> Gondanglegi -> 4 km ke arah Kepanjen turun di Karangsuko.
B. Naik angkutan: Turen -> Gondanglegi -> 4 km ke arah Kepanjen -> turun di Karangsuko

NOMOR TELEPON

Berikut alamat kontak telpon yang dapat dihubungi bagi yang ingin menanyakan lokasi pesantren atau informasi lebih detail terkait pesantren Al-Khoirot dan sekolah MTs & Ma Al-Khoirot.

No Telpon Putra

Nasiruddin: 085855598880
Rokhim: 085855765663
Khoiruman: 085852660050
Imamsyah: 085855999549
Kholilurohman: 081555999175
Tomy: 085234898375
Kantor Sekolah: 0341-879730

No. Telpon Putri

Kantor Sekolah Putri: 081555327272
Kantor PPA Putri: 0341-7446338
Kantor PPA Putri: 085815000572

]]>
http://www.alkhoirot.com/biaya-pendaftaran-pesantren/feed/ 585
Akidah dan Sistem Pendidikan Pesantren Al-Khoirot http://www.alkhoirot.com/sistem-pendidikan/ http://www.alkhoirot.com/sistem-pendidikan/#comments Wed, 29 Jan 2014 03:32:55 +0000 http://www.alkhoirot.com/?p=478 Pondok Pesantren Al-Khoirot (PPA) Malang menganut sistem pendidikan terintegrasi yang merupakan perpaduan dari sistem salaf (tradisional) dan sistem modern. Hal ini tak lepas dari kultur pesantren Aswaja yang terkenal dengan prinsip المحافظة علي القديم الصالح والأخد علي الجديد الأصلح (memelihara nilai dan sistem lama yang baik, dan mengadopsi nilai dan metode baru yang lebih baik). Tidak hanya itu, PPA juga mengadopsi sejumlah pola pendidikan Islam yang ada di luar negeri seperti kajian Tafsir dan hadits dan tidak hanya terfokus pada disiplin ilmu fiqh, nahwu/sharaf, dan ilmu kalam. Dalam kajian tafsir dan hadits juga ditingkatkan intensitas kajian perangkatnya (ilmu hadits, ushul fiqh, ilmu tafsir, dll).

Secara garis besar kegiatan pendidikan di PPA terbagi menjadi lima. Yaitu, (a) pengajian kitab kuning (كتب التراث), (b) madrasah diniyah (madin), (c) sekolah formal MTs (Madrasah Tsanawiyah) dan MA (Madrasah Aliyah), (d) program intensif bahasa Arab dan (e) Tahfidz Al-Quran (menghafal Al-Quran).

DAFTAR ISI

  1. Aqidah, Madzhab Fiqih, dan Afliliasi Politik dan Kultural
  2. Filosofi Pendidikan
  3. Pengajian Kitab Kuning oleh Pengasuh
  4. Makna Gandul dalam Pengajian Kitab Kuning
  5. Madrasah Diniyah
  6. Materi Kitab Kuning Madin
  7. Tahfidzul Quran (Menghafal Al-Qur’an)
  8. Pendidikan Formal
  9. Membaca Qu’an Tartil
  10. Program Intensif Bahasa Arab
  11. Ekstra Kurikuler Pesantren
  12. Ekstra Kurikuler Sekolah Formal
  13. Biaya Pendaftaran
  14. Jadwal Harian Santri


AQIDAH, MADZHAB FIQIH DAN AFILIASI KULTURAL DAN POLITIK

Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang menganut ideologi (manhaj) Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) dengan manhaj tauhid Asy’ariyah, madzhab fiqih Syafi’iyah dan afiliasi kultural Nahdlatul Ulama (NU) walaupun tidak terikat secara organisasional dengan NU. NU menjadi pilihan afiliasi kultural karena ia dianggap mewakili sikap toleransi dan inklusivisme yang sangat cocok dalam keberagaman Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sikap toleran dan inklusif juga merupakan sikap moderat (wasath) yang sesuai dengan spirit Islam seperti jelas tersurat dalam QS Al-Baqarah 2:143.

Jadi, PPA Malang bukanlah pesantren yang beraliran atau pendukung Salafi Wahabi (Sawah), Muhammadiyah, LDII, Wahidiyah, Al-Irsyad, HTI (Hzbut Tahrir), dll.

Secara politik, kami menganut sistem bebas aktif. Dalam arti, PPA tidak mendukung partai apapun namun pada waktu yang sama kami mewajibkan semua santri, alumni dan simpatisan PPA untuk menggunakan hak pilihnya pada salah satu calon yang dianggap “paling baik di antara yang terburuk” dari partai manapun mereka berasal. Dengan kata lain, kami mendukung figur, tidak mendukung partai.

Kami melarang sikap Golput. Karena, dalam sistem demokrasi, Golput atau tidak memilih, merupakan kesalahan besar. Langkah Golput sama saja dengan memberikan suara pada calon terburuk dan terkorup.


FILOSOFI PENDIDIKAN PESANTREN AL-KHOIROT

Pondok Pesantren Al-Khoirot beryakinan bahwa pendidikan bertujuan tidak hanya untuk mencerdaskan bangsa dengan ilmu pengetahuan tapi juga untuk membentuk karakter dan akhlak kepemimpinan yang sesuai dengan spirit ajaran syariah Islam. Secara ringkas filosofi pendidikan PPA meliputi:

  • Mencetak generasi berilmu.
  • Taat syariah
  • Pekerja keras
  • Pola hidup sederhana.


I. PENGAJIAN KITAB OLEH PENGASUH

Aqidah dan Sistem Pendidikan Pondok Pesantren Al-KhoirotPengajian kitab kuning alias kitab klasik atau kitab gundul menjadi ciri khas Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang. Santri yang sudah lulus Wustho II, apalagi Ulya II, hampir dapat dipastikan mampu membaca kitab kuning tentunya dengan level kecakapan yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan kognitifnya.

Pengajian kitab kuning dilakukan dengan dua cara. Yaitu, (a) dengan sistem sorogan atau wetonan/bandongan di bawah bimbingan pengasuh dan (b) sistem klasikal di madrasah diniyah (madin).

Adapaun kitab yang dibaca oleh Dewan Pengasuh setiap pagi dan diikuti oleh semua santri adalah sebagai berikut:


1. Kitab Al Umm karya Imam Syafi’i. 

Kitab Al-Umm adalah kitab induk dari fiqih madzhab Syafi’i yang ditulis langsung oleh pendiri madzhab Syafi’i yaitu Muhammad bin Idris As-Syafi’i. (150 H/767 – 204H/819M). Kitab ini merupakan perpaduan antara dalil-dalil Quran dan hadits yang dibuat sebagai landasan pengambilan hukum oleh Imam Syafi’i dan pendapat yuridis dari Imam Syafi’i sendiri tentang suatu masalah. Kitab ini terdiri dari 6 volume atau 6 jilid.

Kendati menjadi kitab fiqih induk dan paling penting dalam madzhab Syafi’i, namun anehnya jarang ada pesantren salaf (apalagi modern) yang mengkaji kitab ini secara teratur. Pondok Pesantren Al-Khoirot mungkin satu-satunya pesantren di Indonesia yang mengkaji kitab ini secara rutin (Tolong koreksi kami apabila ada pesantren lain yang mengkaji kitab Al-Umm).

Kitab Al-Umm dibaca setiap pagi selepas shalat subuh dua kali dalam seminggu yakni setiap hari Sabtu dan Rabu dan diikuti oleh seluruh santri Al-Khoirot baik putra maupun putri, yunior atau senior. (Catatan: santri putri mengikuti pengajian ini melalui pengeras suara, tidak langsung dan berada di tempat terpisah).

2.  Sahih Bukhari,

Kitab Sahih Bukhori adalah kumpulan hadits-hadits Nabi berdasarkan sanad dan periwayatan sahih (otentik) yang disusun oleh seorang ulama asal Azerbaijan bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari atau Imam Bukhari (196 H/810 M – Wafat 256 H/870 M) .

Kitab hadits ini, bersama dengan Sahih Muslim, menduduki posisi kedua setelah Al-Quran sebagai kitab hadits rujukan bagi kalangan ahli hukum Islam maupun ulama di bidang keilmuan yang lain. Oleh karena itu mempelajari kitab ini menjadi keharusan bagi seorang pelajar agama (santri) yang ingin mendalami ilmu Islam.

Sama dengan kitab Al-Umm, kitab Sahih Bukhari juga dikaji pada setiap hari Sabtu dan Rabu pagi dan diikuti oleh seluruh santri PPA putra putri, senior dan yang baru.

3. Tafsir Jalalain

Kitab tafsir Jalalain ditulis oleh dua ulama ahli tafsir yaitu Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalli (791 H-864 H) dan Abu al- Fadl Abdur Rahman bin Abu Bakar bin Muhammad Jalaluddin as-Suyuti (849-911 H).

Kitab ini merupakan tafsir ringkas dari Al-Quran yang menjelaskan secara singkat maksud makna suatu kalimat dalam Al-Quran maupun dari segi pengertian sastrawinya. Kitab ini dibaca dua kali dalam seminggu pada hari Sabtu dan Rabu pagi bersamaan dengan kitab Al-Umm dan Sahih Bukhari dan diikuti oleh semua santri Al-Khoirot putra dan putri.

Pengajian ketiga kitab di atas –yakni Al-Umm, Sahih Bukhari, Tafsir Jalalain– memakai sistem wetonan atau bandongan yaitu Kyai membaca dan menerangkan sedangkan santri menyimak dan mendengarkan. Santri juga diberi waktu untuk bertanya pada setiap akhir pertemuan.

4. Al-Muhadzab fi Fiqhil Imam As-Syafi’i

Kitab Muhadzab adalah kitab fiqih madzhab Syafi’i yang sangat berpengaruh. Kitab ini ditulis oleh Abu Ishak Ibrahim bin Ali bin Yusuf Al-Fairuzabadi Asy-Syairazi (w. 476H). Kitab ini semakin berpengaruh dalam fiqih madzhab Syafi’i setelah diberi syarah (komentar) yang sangat panjang dan detail oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmuk Syarah Muhadzab. 

Kitab ini dibaca secara rutin di PPA setiap hari Minggu dan Kamis dan diikuti oleh kalangan santri senior saja baik putra maupun putri. Yakni para santri yang sudah duduk di kelas Wustho 1, Wustho2, Ulya 1, Ulya 2 dan Ma’had Aly.

5. Fathul Wahhab

Kitab Fathul Wahab bi Syarh Manhaj at-Tullab ditulis oleh  Abu Yahya Zakariya Al-Anshari (824 H – 926 H/1520 M). Kitab fiqih yang tergolong sulit memahaminya karena bahasanya yang sangat padat.  Kitab ini dikaji setiap hari Minggu dan Kamis (dua kali seminggu) dan diikuti oleh santri seniro putra putri dari tingkat Wustho 1 sampai ma’had aly.

6. Iqna’

Kitab Al-Iqna’ fi Halli Alfadz Abi Syuja’ditulis oleh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Asy-Syarbini Al-Khatib (w. 977 H). Termasuk salah satu kitab utama dalam fiqih madzhab Syafi’i yang menjadi syarah dari kitab Taqrib Abu Syujak. Kitab ini juga dikaji setiap hari Minggu dan Kamis (dua kali seminggu) dan diikuti oleh santri seniro putra putri dari tingkat Wustho 1 sampai ma’had aly.

Ketiga kitab di atas–yakni Muhadzab, Fathul Wahab, dan Iqna’– dikaji dengan sistem sorogan di mana santri yang membaca dan memberi makna sedang kyai menyimak dan menerangkan.

Pengajian keenam kitab di atas dibimbing oleh A. Fatih Syuhud, salah satu pengasuh PPA.

7. Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik

Alfiyah Ibnu Malik adalah kitab gramatika tata bahasa Arab yang ditulis dalam bentuk syair (nadzam) oleh Jamaluddin Muhammad bin Abdullah bin Abdullah bin Malik Al-Jayyani Al-Andalusi. Kitab grammatika karya ulama kelahiran Andalusia, Spanyol pada 600 Hijriah ini menjadi kitab Nahwu & Sharaf paling populer di pesantren salaf yang diajarkan di kalangan santri senior tingkat lanjut. Santri yang sudah khatam mempelajari kitab Alfiyah Ibnu Malik dan memahami secara betul dapat dipastikan bisa membaca dan menguasai kitab kuning (gundul) dengan baik dan benar.

Kitab Alfiyah Ibnu Aqil disyarahi oleh banyak ulama ahli bahasa dan sastra Arab. Salah satu syarah yang terkenal di dunia pesantren adalah ٍSyarah Ibnu Aqil karya Bahauddin Abdullah bin Aqil Al-Hamdani Al-Mashri.

Kitab Syarah Ibnu Aqil ini dikaji seminggu sekali setiap hari Selasa pagi diikuti oleh kalangan santri senior dari tingkat Wustho 1 ke atas dan diasuh oleh KH Hamidurrohman Syuhud, salah satu pengasuh PPA Malang.


8. Hilyatu Lubbil Mashun bi Syarh Jauhar al-Maknun.

Kitab ini merupakan syarah dari kitab Jauharul Maknun fi Ilmil Bayan yaitu sebuah kitab yang membahas tentang sastra Arab meliputi ma’any, bayan, badi’ yang ditulis oleh Abdurrohman Al-Akhduri. Karena Jauharul Maknun ditulis dalam bentuk nadzam (syair) yang relatif sulit dalam memahaminya terutama kalangan penutur non-Arab, maka mempelajari kitab syarahnya adalah sangat penting. Syarah Jauharul Maknun yang berjudul Hilyatu Lubbil Mashun bi Syarh Jauhar al-Maknun ditulis oleh Ahmad bin Abdul Mun’im bin Yusuf bin Shiyam Ad-Damanhuri.

Kitab ini dibaca setiap hari Selasa pagi oleh KH. M. Hamidurrohman Syuhud, salah satu pengasuh PPA Malang yang diikuti oleh kalangan santri senior yaitu siswa madin Wustho 1 ke atas.


9. Al-Faraidul Bahiyyah fi Nadzmil Qawaidil Fiqhiyah

Kitab yang membahas tentang kaidah-kaidah fiqih ini ditulis oleh Abu Bakar bin Abul Qasim bin Ahmad bin Muhammad bin Abu Bakar Al-Ahdali Al-Husaini Al-Yamani At-Tihami As-Syafi’i (984/1035 H). Kitab ini ditulis dalam bentuk nadzam atau syair.

Kitab ini dikaji setiap hari Senin pagi oleh KH. M. Humaidi Syuhud, salah satu pengasuh PPA Malang dan diikuti oleh para santri senior dari tingkat Wustho 1 ke atas.


10. Faidul Khobir ٍSyarah Mandzumat Tafsir

Judul lengkap kitab ini adalah Faidul Khabir wa Khulasotut Taqrir ala Nahjit Taisir: Syarah Mandzumat at-Tafsir membahas tentang bidang disiplin ilmu tafsir.

Kitab ini pernah dibaca setiap hari Senin oleh KH. M. Humaidi Syuhud yang diikuti para santri senior tingkat Wustho 1 ke atas. Saat ini (Januari 2014) kitab ini tidak lagi dibaca karena sudah khatam untuk periode tahun ajaran 2013-2014.


11. Minhajul Abidin ila Jannati Rabbil Alamin

Kitan tentang tasawuf dan penyucian diri ini ditulis oleh ulama legendaris Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali At-Tusi An-Naisaburi yang lebih dikenal dengan julukan Imam Ghazali.

Kitab ini dibaca setiap hari Minggu sore ba’da Ashar oleh KH. M. Ja’far Shodiq Syuhud, salah satu pengasuh PPA Malang dan diikuti oleh semua santri baik senior maupun yunior, putra dan putri..


12. Jawahirul Kalamiyah

Kitab yang berjudul lengkap Jawahirul Kalamiyah fi Idohil Aqidah al-Islamiyah ini ditulis olehTohir bin Shaleh Al-Jazairi. Kitab ini membahas tentang tauhid aqidah Ahlussunnah Waljamaah Asy’ariyah. Kitab ini dikaji setiap hari Minggu sore ba’da Ashar oleh KH. Ja’far Shodiq Syuhud dan diikuti oleh semua santri baik senior maupun yunior, putra dan putri.

Kitab ini diajarkan dengan tujuan menanamkan aqidah dasar Ahlussunnah yang benar kepada para santri dan agar tidak terkontaminasi paham aqidah Wahabi Salafi.


SIMBOL MAKNA GANDUL PENGAJIAN KITAB KUNING

Pengajian kitab kuning di pesantren salaf, tak bisa dilepaskan dari sistem makna gandul. Makna gandul adalah santri memberikan makna pada kitab secara harfiah kata perkata dengan menyebut kedudukan i’rob dan makna dari setiap kata. Makna gandul menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa Jawa atau Madura. Sedangkan kedudukan i’robnya memakai singkatan abjad bahasa Arab.

Tujuan dari pemberian makna gandul adalah supaya santri lebih bisa memahami kedudukan i’rob dari setiap kalimat bahasa Arab yang dibaca sehingga santri akan lebih yakin (tahqiq) dalam memahami maksud dari suatu kalimat yang ada dalam sebuah kitab.

Setelah diberi makna secara gandul, baru kemudian kyai atau ustadz memberikan penjelasan dalam bahasa Indonesia.

Lebih detail, berikut singkatan atau simbol i’rob yang dipakai dalam makna gandul.

Simbol Makna Gandul Kitab Kuning Jawa dan Madura

Madura

Jawa

Simbol

Status Kata

I’rob

Dineng

Utawi

م

Subyek Kalimat Nominal (Ismiyah)

Mubtada’

Paneka

Iku

خ

Predikat Kalimat Nominal (Ismiyah)

Khobar

Panapah

Opo

ف

Subyek kal. Aktif (benda)

Fa’il

Paserah

Sopo

فا

Subyek kal. Aktif (manusia)

Fa’il

Dek

Ing

مف

Obyek

Maf’ul Bih

Panapah, Paserah

Opo, Sopo

نف

Subyek kalimat pasif

Naibul Fa’il

Hale

Hale

حا

Kata keadaan

Hal

Ara-ara

Apane

تم

Kata keterangan

Tamyiz

Maka

Moko

ج

Kata jawab

Jawab Syartiyah

Karnah

Kerono

ع

Karena

Ta’lil

Kalaben

Kelawan

مط

Secara

Maf’ul Mutlak

Se

Kang

ص

Kata sifat

Sifat, Na’at

Edelem

Ingdalem

ظ

Keterangan tempat

Dzaraf

Senajjen

Senajan

غ

Walaupun

Ghayah

Nyatanah

Nyatane

با

Menjelaskan kal. sebelumnya

Bayan

Sebab

Jalaran

س

Disebabkan

Sababiyah

Kelakoan

Kelakuan

ش

-

Sya’n

 


II. MADRASAH DINIYAH (MADIN)

Madrasah Diniyah atau madin adalah sistem pendidikan dengan sistem sekolah (klasikal) yang khusus mengkaji ilmu agama Islam saja.

Madrash Diniyah adalah program yang wajib diikuti oleh semua santri baik yang ikut program tahfidzul Quran atau siswa sekolah formal.

Madrasah Diniyah (Madin) Al-Khoirot memiliki beberapa jenjang kelas. Yaitu, I’dad I, I’dad II, Ula I, Ula II, Wustho I, Wustho II, Ulya I, Ulya II dan Ulya III.

Kelas I’dad I sampai Ula II kira-kira sama dengan madrasah ibtidaiyah.
Kelas Wustho I dan II sama dengan madrasah diniyah tsanawiyah (SLTP.)
Kelas Ulya I, II dan III sama dengan madrasah diniyah aliyah (tingkat SLTA). Sedangkan Ma’had Aly evelnya sama dengan madrasah diniyah tingkat universitas.


Berikut Materi Kitab Kuning yang Dikaji di Madrasah Diniyah (Madin) PPA dari I’dad I sampai Ma’had Aly untuk tahun 2013/2014

I’DAD I: Al-Quran Juz Amma, Aqidatul Awam,
I’DAD II: Matan Jurumiyah, Amtsilah Tashrifiyah
ULA I: Matan Jurumiyah, Amtsilah Tashrifiyah, Mabadi’ Fiqhiyah Juz I, Al-Akhlaq lil Banin Juz I, Hadits 101 Budi Luhur
ULA II: Matan Jurumiyah, Tashrif Izzi, Bimbingan baca kitab, Jawahirul Kalamiyah, Al-Akhlaq lil Banin II, Mabadi’ Fiqhiyah III dan IV.
WUSTHO I: Fathul Qorib, Matan Mutammimah, Nadzam Maqsud, Faraidh, Bulughul Marom
WUSTHO II: Fathul Qorib, Mutammimah, Nadzam Maqsud, Ushul Fiqh, Faraidh, Bulughul Marom
ULYA I: Ibnu Aqil Syarah Alfiyah ibnu Malik, Fathul Muin, Tafsir Jalain
ULYA II: Ibnu Aqil Syarah Alfiyah ibnu Malik, Fathul Muin, Tafsir Jalain
MA’HAD ALY: Tafsir Ayat Ahkam, Subulus Salam, Ihya Ulumuddin, Jam’ul Jawamik.

Kitab-kitab di atas sebagian dapat dibaca secara online di sini.


III. TAHFIDZUL QURAN (MENGHAFAL QUR’AN)

Program tahfidzul Quran atau menghafal Al-Quran merupakan program baru tahun ajaran 2012/2013. Program ini dibuka untuk santri putra dan putri.

Peserta program tahfidz tetap harus mengikuti program (a) madrasah diniyah (madin), (b) pengajian kitab kuning; dan (c) sekolah formal.


IV. PENDIDIKAN FORMAL MTS & MA

PPA memiliki lembaga pendidikan formal tingkat SLTP dan SLTA yaitu MTs Al-Khoirot Malang dan MA Al-Khoirot Malang. Masing-masing memiliki situs resmi di alamat berikut: mts.alkhoirot.com dan ma.alkhoirot.com. Silahkan kunjungi kedua alamat tersebut untuk info lebih detail.


V. MEMBACA AL-QURAN TARTIL

Kemampuan membaca Al-Quran bit-tartil dengan baik dan benar menurut standar yang diakui adalah sangat penting. Untuk melatih dan meningkatkan kemampuan ini, santri dilatih setiap hari setelah salat maghrib berjamaah. Untuk meningkatkan kemampuan muallim (tenaga pengajar), PPA melatih mereka seminggu sekali dengan mendatangkan tenaga muallim lulusan PIQ (Pesantren Ilmu Al-Quran) KH. Bashori Alwi, Singosari.


VI. PROGRAM INTENSIF BAHASA ARAB

Gramatika bahasa Arab yakni ilmu nahwu dan sharaf dipelajari di madrasah diniyah sejak Ula I secara intensif. Begitu juga, kemampuan membaca kitab diasah melalui musyawarah baca kitab dan pengajian sorogan/wetonan kitab Muhadzdzab, Fathul Wahhab, Iqna’ bagi santri kelas Wustho I ke atas.

Namun, intensifikasi bahasa Arab modern tetap dirasa perlu. Karena itu, program bahasa Arab diadakan secara rutin setiap hari dengan penekanan pada muhawarah (conversation).


VII. EKSTRA KURIKULER PESANTREN

1. Musyawarah kitab Fathul Wahhab, Muhadzdzab, dan Iqna’ bagi santri kelas Wustho I ke atas madrasah diniyah (madin) (dua hari sekali).
2. Pengajian Al Quran secara tartil (setiap hari).
3. Program seni pidato/khitobah (setiap dua minggu sekali).
4. Program halaqah mentoring
5. Pidato/drama bahasa Arab (sebulan sekali)
6. Menulis di mading dan buletin SANTRI dan BULETIN ALKHOIROT
7. Menulis setiap minggu di blog masing-masing (saat ini khusus untuk siswa madin kelas Ulya I, II dan Ma’had Aly).


VIII. EKSTRA KURIKULER SEKOLAH FORMAL

1. Karate
2. Olahraga meliputi futsal, volley ball, tenis meja, badminton.
3. Pramuka.
4. OSIS
5. Menulis di mading sekolah dan buletin SISWA.

CATATAN:

Seluruh kegiatan di atas harus diikuti oleh seluruh siswa dan santri. Di PPA santri harus menjadi siswa, dan siswa harus menjadi santri. Artinya, siswa sekolah formal tidak boleh hanya sekolah formal. Dia harus sekaligus jadi santri dan mengikuti seluruh program pesantren termasuk madin, pengajian pengasuh dll.


IX. BIAYA PENDAFTARAN

Pondok Pesantren Al-Khoirot Putra dan Putri dikenal di Malang Raya sebagai pesantren yang berkualitas tinggi tapi dengan biaya sangat terjangkau untuk semua kalangan. Hanya dengan Rp. 890.000 (delapan ratus sembilan puluh ribu rupiah) Anda dapat masuk ke Ponpes Al-Khoirot. Biaya tersebut sudah termasuk seragama sekolah dan uang makan dan SPP bulan pertama. Lihat detailnya di sini.

Keterangan gambar: Perkemahan siswa MTS Al-Khoirot Malang saat mengikuti Jambore Pramuka di kecamatan Pagelaran pada 27 – 28 September 2011 dan berhasil merebut Juara Umum III.


JADWAL KEGIATAN HARIAN

Secara umum jadwal kegiatan antara pesantren putra dan pesantren putri hampir sama. Dengan sedikit tambahan kegiatan yang ada di pesantren putri pada hari-hari aktif (Sabtu s.d Kamis). Serta tambahan kegiatan ekstra di pesantren putra pada hari libur yaitu hari Jum’at. Lebih detailnya sebagai berikut:

JADWAL  KEGIATAN HARIAN SANTRI PUTRA PPA

No

Waktu

Nama Kegiatan

Pembimbing

Keterangan

1

04.00-05.00

Shalat Subuh

Imam Shalat

Berjamaah

2

05.00-06.00

Pengajian Kitab

Pengasuh/Ustadz

Semua santri

3

06.00-06.30

Bahasa Arab

Ustadz

Program lughah

4

07.00-12.00

Sekolah Formal

Guru

Semua siswa

5

12.00-12.30

Shalat Dzuhur

Imam shalat

Berjamaah

6

12.30-15.00

Istirahat

-

-

7

15.00-15.30

Shalat Ashar

Imam shalat

Berjamaah

8

16.00-17.00

Materi tambahan

Semua santri

Semua santri

9

17.30-18.00

Shalat maghrib

Imam shalat

Berjamaah

10

18.00-19.00

Belajar Quran tartil

Muallim

Semua santri

11

19.00-19.30

Shalat Isya’

Imam Shalat

Berjamaah

12

19.30-21.00

Madrasah Diniyah

Ustadz

Semua santri

13

21.00-22.00

Ma’had Aly

Pengasuh

Semua Ustadz

14

22.00-04.00

Istirahat

-

-

 

PENGECUALIAN DARI JADWAL DI ATAS DAN INFO TAMBAHAN:

  1. Santri yang tidak sekolah formal, karena sudah lulus SLTA atau usia sudah lewat masa SLTA, maka mengikuti program jam belajar dan musyawarah pagi jam 08.00 – 09.00.
  2. Santri peserta program Tahfidz Al-Quran melakukan murajaah dan takrir pada jam 16.00-17.00. Jadi, tidak mengikuti jadwal materi tambahan.
  3. Yang dimaksud “materi tambahan” adalah pelatihan baca kitab kuning dan mentoring atau bimbingan akhlak keislaman dan kesantrian.
  4. Shalat Dhuha diadakan pada saat istirahat sekolah formal yaitu pada jam 09.30-10.00 dan diikuti oleh semua siswa.

JADWAL KEGIATAN HARIAN SANTRI PUTRI PPA

No

Waktu

Nama Kegiatan

Pembimbing

Keterangan

1

03.00-04.00

Shalat Tahajud

Ustadzah

Semua santri

2

04.00-05.00

Shalat Subuh

Imam Shalat

Berjamaah

3

05.00-06.00

Pengajian Kitab

Pengasuh/Ustadz

Semua santri

4

06.00-06.30

Shalat Dhuha

Ustadzah

Semua santri

5

07.00-12.00

Sekolah formal

Guru

Semua siswa

6

13.15-15.00

Madrasah Diniyah

Ustadzah

Semua santri

7

15.00-15.30

Shalat Ashar

Imam

Berjamaah

8

16.00-17.00

Belajar bersama

Ustadzah

Semua santri

9

17.30-18.00

Shalat maghrib

Imam shalat

Berjamaah

10

18.00-19.00

Belajar Quran tartil

Muallim

Semua santri

11

19.00-19.30

Shalat Isya’

Imam Shalat

Berjamaah

12

20.00-21.00

Pengajian Kitab

Pengasuh Putri

Semua santri

13

21-03.00

Istirahat

-

Semua santri

]]>
http://www.alkhoirot.com/sistem-pendidikan/feed/ 104
Pesantren Mapping in Indonesia http://www.alkhoirot.com/pesantren-mapping/ http://www.alkhoirot.com/pesantren-mapping/#comments Wed, 08 Jan 2014 18:15:29 +0000 http://www.alkhoirot.com/?p=112 Pesantren Mapping in Indonesia
A Brief Mapping of Islamic Education in Indonesia

Jamhari and Jajat Burhanudin
PPIM UIN Jakarta

The recent development of Indonesian Islam indicates that Islamic educational institutions survive amidst changes within Muslim communities. Pesantren, the oldest Islamic educational institution, is evidence of this. Pesantren, madrasah, and Islamic schools continue to grow and parental interest in sending their children to Islamic education institution is even stronger today than in the past.

Data from the Department of Religious Affairs shows a steady increase in the number of pesantren and students enrolled in them. In 1977, there were 4,195 pesantren with 677,384 students. This number skyrocketed in 1981 with pesantren numbering 5,661 with a total of 938,397 students. In 1985, this number increased to 6,239 pesantren with 1,084,801 students. In 1997, the Department reported 9,388 pesantren a total of 1,770,768 students. And finally, 2003-04, the number of pesantren reached 14,647. A similar trend is also evident with madrasah.

Madrasah, managed by the Department of Religious Affairs, also experienced rapid quality and quantity development. Development trends are also evident in Islamic schools. For example, Al-Azhar School in Jakarta, Insan Cendikia and Madania in West Java, and Mutahhari in Bandung have grown significantly in urban regions of the country. Similar developments are also found in Yogyakarta, Surabaya, and Makassar.

These data raise some important questions concerning the development and survival of Islamic educational institutions, as well as their changing roles amid transitions taking place in the Muslim community. Islamic educational institutions face complex challenges. They not only strive to educate Muslims in religious knowledge, but are also expected to participate in creating a new socio-cultural and political system of Indonesia. Based on the characteristics of Islamic educational institutions, there are at least four types of Islamic educational institutions: (1) NU-based Islamic boarding schools, (2) modern Islamic boarding schools whose orientation are Islamic reformism, (3) independent pesantrens, and (4) Islamic schools.

NU-based Pesantren
Strong waves of Islamic education reform, which occurred along with Islamic reformism, touched pesantren. While maintaining the traditional aspects of the education system, a number of pesantren in Java have, at the same time, begun to adopt the madrasah system. The experience of Pesantren Tebuireng Jombang East Java is important to note. Founded by a charismatic and outstanding ulama of the 20th century, Kyai Hasyim Asy’ari (1871–1947), Pesantren Tebuireng set the model for pesantren and ulama, especially in Java. Almost all of the important pesantren in Java have been founded by disciples of Kyai Hasim Asy’ari, therefore following the Tebuireng model. Together with the NU, which he founded in 1926, Kyai Hasyim had a central and strategic position in the legacies of ulama in Java. As such, he is known as the Hadratus Syaikh (Big Master) for ulama in Java.

Attempts to reform the educational system of pesantren began during the 1930s. The NU-based pesantren adopted the madrasah system by opening a six-grade system consisting of a preparatory grade for one year followed by a madrasah grade for six additional years. Furthermore the pesantren also included non-Islamic sciences in its curriculum such as Dutch language, history, geography, and math. This process continued as the pesantren was managed by his son Kyai Abdul Wahid Hasyim (1914– 53), whose concerns were to bring the legacies of pesantren into modernity. During the 1950s, he made madrasah system the main model of education in Tebuireng.

Tebuireng was not the only pesantren to make changes to its system. Pesantren Krapyak of Yogyakarta also became part of the reformist movement in the early 20th century. Kyai Ali Maksum (1915–89), the founder and the pesantren leader of Krapyak was recognized as a figure with a “modernist spirit.” Like Kyai Wahid Hasyim of Tebuireng, he also combined the madrasah into pesantren systems. In addition, Pesantren Tambak Beras and Pesantren Rejoso, both in Jombang, also adopted reformist agenda by implementing the madrasah system by introducing non-Islamic knowledge into their curriculum.

It can be concluded that, along with socio-religious changes following modernization and Islamic reformism, the transformation of Islamic education became a part of general discourse within Indonesian Islam at the beginning of the 20th century. The pesantren ulama, strictly holding the traditional legacies of Islam, gradually transformed the educational sytem by adopting the modern system of madrasahs. In addition, the main orientation of pesantren also changed form a focus on producing ulama. Instead, like other modern Muslim groups, the learning system of Pesantren Tebuireng is directed toward a larger agenda, “to educate students to be able to develop themselves to be ‘intellectual ulama’ (ulama mastering secular knowledge) and ‘ulama intellectual’ (scholars mastering secular as well as religious knowledge.”

This type of pesantren, culturally based on the NU tradition, has been growing steadily and can be found in almost every city in Java. In West Sumatra, this type of pesantren is affiliated with Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah), a kaum tua-affiliated organization like the NU in Java. In Lombok, West Nusa Tenggara, the position of NU is assumed by the local Nahdhatul Watan (NW). Like NU and Perti, NW has become the cultural bases for traditional Islamic education institutions in Lombok as well as religious bases in the region. Similarly, As’adiyah in South Sulawesi has also played an important role like that of NU in Java, NW in NTB, and Perti in West Sumatra.

Modern Pesantren
In the history of Islamic education in Indonesia, this type of pesantren is said to be the first institution to create the principles for reforming Islamic education within the pesantren system. Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo, founded on September 20, 1926 by three brothers (KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fannani, and KH. Imam Zarkasyi) was the first modern pesantren designed to provide education able to respond to challenges faced by the Muslim community amidst changes in the socio-cultural life in Indonesia in the modern-day period.

Pesantren Gontor was founded during a period of important development for Indonesian Muslims. Forced by modernization by the Dutch colonial government (also known as “ethical politics”) and affected by changes in international networks centering Islamic reformism in Cairo, Egypt, Islamic education in Indonesia underwent fundamental changes. These changes were evident in the emergence of new Islamic educational institutions, especially those established by the first modern Muslim organization, Muhammadiyah, that adopted a modern system aimed at reforming the traditional educational system. As such, Islamic educational institutions became important parts of the Islamic reformism movement since the early 20th century.

In addition to introducing a new system and learning method—grade system, textbook, and non-religious subjects in the curriculum—pesantren also functioned as the medium to disseminate the ideas of Islamic reformism. It became the basis of creating new Muslims familiar with the spirit of modernism and progress, which had become a dominant discourse in Indonesia. Here the socio and religious dimension of madrasah can be clearly identified. Different from the type of pesantren that only provided classical religious learning and a kyai-centric system, madrasah provided a new religious perspective to respond to modernity. Unlike pesantren which functioned as the fabric of the ulama, madrasah were designed to create the so-called “learning Muslims.”

It is by this design that the foundation of Pesantren Gontor can be explained. It aimed to create new Muslims who could master either religious or secular knowledge as well as various life skills needed by the changing community. Since its inception, Gontor identified itself as a modern educational institution in contrast to a traditional pesantren which had been plagued with stagnancy and ineffective educational management. Imam Zarkasyi, one of Gontor’s founding fathers, saw that modern pesantren should apply freedom of thought, effective and efficient management, and adopt modern idea of progress (kemajuan) as well as modern devices. Like most Muslim reformers, he emphasized the need for madhab flexibility, which without would sometimes lead to stagnancy.

One aspect of this modernization can be seen in the system of Kulliyat al-Muallimin al-Islamiyah (KMI), a secondary grade system consisting of a six-year duration (equivalent to secondary and high schools). This KMI system is a combination of madrasah and pesantren systems. This combination is a result of Zarkasyi’s experiences in Pesantren Manbaul Ulum Solo, Sumatera Thawalib Padang Panjang, and Normal Islam School (also called KMI) and as founder and director of Kweekschool Muhammadiyah in Padang Sidempuan. In the classroom, students study and learn just like students of madrasah and other public schools do. However, outside of the classroom, students engage in various activities such as organization training, life skills, arts, sports, and scouting.

This concept of modern pesantren became the blueprint as a number of his students spread across the country established similar pesantren, usually called “the Alumni’s Pesantren” (meaning Gontor Alumni), named after the second generation who influenced the pesantren model in the next wave of development. From 1970–80, a number of Gontor alumni founded pesantren within their home regions. For example, Pesantren Daar El-Qalam Gintung Balaraja in Banten, Pesantren Al-Amin Prenduan Sumenep in Madura, and Pesantren Pabelan in Central Java, among many others.

Independent Pesantren
A new trend has recently emerged in Indonesia in the context of the development of pesantren and, to some extent, madrasah. This new trend is the presence of pesantren and madrasah that are independent in the sense that they have no affiliation with any Muslim mass organization. Instead, they are based largely on Salafi ideological beliefs.

It is difficult to know precisely when this new trend emerged. Even so, it is believed that the presence of independent pesantren and schools are closely related to the rise of Salafism in Indonesia in the 1980s. During this period, the advent and influence of Salafism can be identified with the emergence of so-called usroh groups. From a religious doctrine perspective, these groups follow the earlier Salafi figures such as Ahmad ibn Hambal and Ibn Taymiyah whose ideas were absorbed and developed by later figures such as Hasan al-Banna and Sayyid Qutb through Ikhwan al-Muslimin in Egypt and Abu al-A’la al-Mawdudi through Jema’at Islami in the India sub-continent. The doctrines of Salafism as developed by these figures have become the main reference for these groups.

To give an example, Pesantren Hidayatullah is based on contextualization of Salafi religious beliefs. This fact (to be demonstrated in the following section of statistical analysis) can be seen in the teachings developed by Ustadz Abdullah Said who created the idea of Muslim community (jemaah Islamiyah) (community who implements Islamic values in a comprehensive manner). Jemaah, in the context of the Islamic movement is frequently paralleled with hizb (party) and harakah (movement), although the concept of jemaah is used more widely than the other two. It is very frequently understood as a Muslim community more superior than others and as one claiming that the only solution they have is the correct one.

Another important characteristic of this group is the model of literal interpretation toward religious texts. As a result, they have a distinct physical appearance. For instance, males wear ghamis (an Arab garment for men) and have long beards, while females wear jilbab and veil, covering all parts of their bodies except for the eyes and hands. According to Islamic teaching, females are not allowed to show their bodies except to their husbands.

In Indonesia these groups have interestingly emerged in prominent public universities such Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM), and Institut Teknologi Bandung (ITB). However, in Islamic universities such as State Islamic Institutes/Universities (UIN/IAIN), they are hardly found. After the fall of Suharto, groups calling themselves Lembaga Dakwah Kampus (LDK) began to emerge in predominantly Muslim universities. Their movement has become an important social and religious movement in Indonesia. At the political level, these groups gave support for the Partai Keadilan Sejahtera (Welfare Justice Party, PKS), one of the leading Muslim-based parties in Indonesia.

Islamic Schools
In essence, the system and organization of Islamic schools is similar to public schools (although most of them necessitate being a Muslim as a requirement from students) with an emphasis on Islamic moral conduct. As such, these schools can be categorized as “public school plus.” This means that religious courses on Islamic history, Islamic jurisprudence, or Islamic theology are not the main subjects of the curriculum like that of pesantren and of most madrasah. Instead, there is an emphasis on how religion can inspire good moral conduct in the daily lives of the students.

Islamic schools were created to cater to the Muslim middle class in urban areas. These schools are equipped with good facilities such as air-conditioned classrooms, libraries, labs, and computer facilities. As a modern institution, these schools are administered by professionals in management as well as curriculum development. Teachers, staff, and managers are recruited in a competitive and professional manner by considering their skills and competency levels.

Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al-Azhar, founded on April 7, 1952, is one of the best examples of Islamic schools. As of 2004, Al-Azhar has managed as many as 78 schools from kindergarten to high school, spread over several provinces including Jakarta, Banten, West Java, and East Java. In 2002, YPI founded a university named Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI).

In addition to Al-Azhar, other independent schools oriented toward science and technology include SMU Insan Cendikia in Banten and Gorontalo in Sulawesi. These schools were founded in 1996 by a number of scientists mostly affiliated with the Commission for Research, Development and Application of Technology (BPPT) under the Ministry of Research and Technology through the Science and Technology Equity Program (STEP) for schools within pesantren.

During its development, Islamic schools have grown not only in Jakarta but also in other large cities throughout Indonesia. For example, in West Sumatra there exists Kompleks Perguruan Serambi Mekkah in Padang Panjang which is supported by members of PKS party. This “PKS’s model of Islamic schools develop its own characteristic by giving more emphasis on Science and Technology. In terms of religious orientation, it seems that PKS’s model of Islamic schools follows “moderate salafism.” Although PKS is closer to Salafism, it differs with radical salafism like FPI (Islamic Defense Front).[]

]]>
http://www.alkhoirot.com/pesantren-mapping/feed/ 2
Ma’had Aly Al-Khoirot Malang http://www.alkhoirot.com/mahad-aly-al-khoirot-malang/ http://www.alkhoirot.com/mahad-aly-al-khoirot-malang/#comments Tue, 17 Sep 2013 11:50:01 +0000 http://www.alkhoirot.com/?p=796 Ma'had Aly Al-Khoirot Malang

Ma’had Aly Al-Khoirot adalah program terbaru Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang. Program ini dimulai pada tahun ajaran 2012/2013. Ma’had Aly Al-Khoirot ditujukan bagi kalangan santri pada tingkat advanced (lanjut) dengan menitikberatkan pembelajaran pada Hukum Syariah dan Pegambilan Hukum (Instibatul Hukm).

Visi dari Ma’had Aly Al-Khoirot adalah untuk menciptakan santri yang memenuhi syarat untuk menjadi mujtahid atau minimal mengetahui proses dan prosedur pengambilan hukum syariah (fiqih).

Program ini menerima santri baru yang memenehi persyaratan secara keilmuan tertentu. Dan santri senior yang sudah lulus dari program Ulya II.

DAFTAR ISI

  1. Rawa’i al-Bayan fi Tasair Ayat al-Ahkam min Al-Qur’an oleh Ali Ash-Shabuni
  2. Subulussalam Syarah Bulughul Maram oleh As-San’ani
  3. Ihya’ Ulumiddin oleh Imam Al-Ghazali
  4. Jam’ul Jawamik fi Ushulil Fiqh oleh As-Subki
  5. Juklak Pengembangan Ma`had Aly Kemenag

MATERI KAJIAN SUMBER HUKUM DAN FIQIH

  1. Tafsir Quran Al-Jalalain oleh As-Suyuti dan Al-Mahalli
  2. Hadits Sahih oleh Al-Bukhari
  3. Al-Muhadzab oleh As-Syairazi
  4. Fathul Wahhab oleh Al-Anshari
  5. Al-Iqna’ oleh As-Syarbini

PERIHAL KITAB KAJIAN

Intro ringkas tentang kitab kajian dan biografi penulisnya yang dipelajari di Ma’had Aly Al-Khoirot Malang.


TAFSIR AYAT AHKAM ALI ASH-SHABUNI

PERIHAL KITAB:

Rawa’I al-Bayan fi Tasair Ayat al-Ahkam min Al-Qur’an
Kitab ini mengandung keajaiban tentang ayat-ayat hokum didalam Al-Qur’an. Kitab ini dalam dua jilid besar, ia adalah kitab terbaik yang pernah dikarang perihal soal ini, sebab dua jilid ini, telah dapat menghimpun karangan-karangan klasik dengan isis yang melimpah ruah serta ide dan fikiran yang subur, stu pihak dan karangan-karangan modern debgan gaya yang khas dalam segi penampilan, penyususnan, dan kemudian uslub dipihak lain.

PERIHAL PENULIS:

Bersama Syekh Yusuf al-Qaradlawi, Syekh Ali al-Shabuni ditetapkan sebagai Tokoh Muslim Dunia 2007 oleh DIQA. Nama besar Syekh Muhammad Ali al-Shabuni begitu mendunia. Beliau merupakan seorang ulama dan ahli tafsir yang terkenal dengan keluasan dan kedalaman ilmu serta sifat wara-nya.

Nama lengkap beliau adalah Muhammad Ali Ibn Ali Ibn Jamil al-Shabuni. Beliau dilahirkan di Madinah pada tahun 1347 H/1928 M alumnus Tsanawiyah al-Syari’ah. Syekh al-Shabuni dibesarkan di tengah-tengah keluarga terpelajar. Ayahnya, Syekh Jamil, merupakan salah seorang ulama senior di Aleppo, Syria. Ia memperoleh pendidikan dasar dan formal mengenai bahasa Arab, ilmu waris, dan ilmu-ilmu agama di bawah bimbingan langsung sang ayah. Sejak usia kanak-kanak, ia sudah memperlihatkan bakat dan kecerdasan dalam menyerap berbagai ilmu agama.

Di usianya yang masih belia, Al-Shabuni sudah hafal Alquran. Tak heran bila kemampuannya ini membuat banyak ulama di tempatnya belajar sangat menyukai kepribadian al-Shabuni.

KITAB SUBULUSSALAM SYARH BULUGHUL MARAM AL-SHAN’ANI

PERIHAL PENULIS

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ismail bin Shalah Al-Kahlani Al-Shan’ani Al-Yamani
Nama populer: Al-Amir.
Gelar kehormatan: Al-Imam al-Kabir, Al-Allamah, al-Muhaddits, Al-Ushuli, Al-Mutakallim.
Tempat Tanggal Lahir: 1059 H di Kahlan Yaman. Pindah dan menetap di San’a Ibukota Yaman bersama ayahnya Syekh Jamil.
Belajar hadits dan ilmu lain di Makkah dan Madinah.

PERIHAL KITAB

Subulus-Salam adalah karya monumental dari buah pena Imam Ash-Shan’ani. Kitab ini merupakan syarah (penjelasan) dari kitab Bulugh Al-Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani. Subulus-Salam sangat populer di kalangan umat Islam dari berbagai madzhab dan golongan, karena isinya mencakup tentang hadits-hadits ahkam (hukum-hukum) yang sangat dibutuhkan untuk dijadikan sebagai rujukan.

KITAB IHYA’ ULUMUDDIN AL-GHAZALI

PERIHAL PENULIS:

Namanya Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali, mendapat gelar Hujjatul Islam. Ia lahir tahun 450 H. di Thus., suatu kota kecil di Khurasan (Iran). Nama Al-Ghazali kadang-kadang diucapkan Al-Ghazzali (dua z). Kata ini berasal dari ghazzal, artinya tukang pintal benang, karena pekerjaan ayah Al-Ghazali adalah memintal benang wol. Sedangkan Al-Ghazali, dengan satu z, diambil dari kata ghazalah, nama kampung kelahiran Al-Ghazali, yang terakhir inilah yang banyak dipakai.

PERIHAL KITAB IHYA:

Adalah kitab karya Al-Ghazali yang terbesar. Ihya ‘Ulumuddin, artinya “menghidupkan ilmu-ilmu agama”, yang dikarangnya selama beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara Syam, Yerusalem, Hijaz, dan Thus. Buku ini berisi panduan yang dikenal di kalangan kaum muslimin maupun di dunia Barat dan di luar Islam.


KITAB JAM’UL JAWAMIK AL-SUBKI

PERIHAL PENULIS:

Nama lengkap: Tajuddin Abdul Wahhab bin Ali bin Abdul Kafi Abu Nasr As-Subki
Tempat tanggal lahir: Cairo Mesir, 727 atau 728 atau 729 hijriah
Wafat: Tahun 771 hijriah dalam usia 44 tahun.
Nama ayah: Taqiuddin Abdul Wahhab Al-Subky seorang ulama terkenal.
Guru-guru beliau:
Taqiuddin Abdul Wahhab Al-Subky (wafat: 756 h), Abul Hajjaj Al-Mazi (w. 742 h), Ibnu Naqib (w. 745 h)

PERIHAL KITAB:

Kitab Jam’ul Jawamik adalah kitab ushul dengan sistem metodologi pengambilan hukum madzhab Syafi’i.


JUKLAK PENGEMBANGAN MA’HAD ALY KEMENAG

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Pada dasarnya fungsi pondok pesantren terdiri dari tiga hal pokok, Pertama sebagai lembaga tafaqquh fiddin (pengembangan keagamaan). Fungsi ini meniscayakan pesantren sebagai penopang, pengembang dan pemelihara nilai-nilai keagamaan: Kedua, sebagai lembaga pengembangan masyarakat (social transformatif), yaitu pondok pesantren dituntut berperan aktif dalam upaya pemberdayaan masyarakat dan mampu mendorong perubahan sosial: Ketiga, sebagai lembaga pendidikan dan dakwah yaitu pesantren harus mampu memerankan dirinya menjadi pusat belajar (study center) dan misi penyebaran ajaran-ajaran agama Islam.
Dalam fungsinya sebagai lembaga tafaqquh fiddin dan pengembangan pendidikan keagamaan, serta penyeimbang antara tuntutan tradisi dan modernisasi, Departemen Agama telah membuat berbagai program pengembangan. yaitu pengembangan Madrasah Diniyah (MADIN), pengembangan Ma‘had Ali (Pendidikan Tinggi Pesantren), pengembanganWajib Belajar Pendidikan Dasar pada Pondok Pesantren, dan Program Paket A, B dan C. Dengan demikian diperlukan pedoman teknis penyelenggaraan program-program di atas, agar berjalan secara sistematis dan berkesinambungan. Hal ini diperlukan untuk menghadapi problem-problem pendidikan dan kehidupan yang semakin kompleks di masa mendatang.
Diterbitkannya buku “Kumpulan Pedoman Penyelenggaraan Pengembangan Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren” ini, adalah sebagai jawaban atas kepentingan mendasar Departemen Agama dalam upayanya meningkatkan pendidikan keagamaan yang profesional, terarah dan terpadu. Di dalamnya dibahas tentang visi, misi dan tujuan program pendidikan, kurikulurn pembelajaran, pengelolaan pendidikan, model evaluasi yang dikembangkan dan hal-hal yang berkaitan dengan sertifikasi kelulusan. Sehingga standar kompetensi lulusan pendidikan di atas, dapat benar-benar sesuai dengan tuntutan dan harapan masyarakat untuk kepentingan pembangunan dan perubahan.
Madrasah Diniyah rnerupakan satuan pendidikan keagamaan luar sekolah yang menyelenggarakan Pendidikan Agama Islam (PAI), baik yang terorganisir secara klasikal, rombongan belajar maupun dalam bentuk pengajian anak, majlis taklim, kursus agama atau sejenisnya telah mengakar dan berkembang sekian puluh tahun di Indonesia. Tujuannya adalah : (a) untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada warga belajar untuk rnengernbangkan kehidupannya; (b) membina warga belajar agar memiliki pengalaman, pengetahuan, keterampilan beribadah dan sikap terpuji yang berguna bagi pengembangan pribadinya; dan (c) memberi tambahan pengetahuan agama kepada pelajar-pelajar yang merasa kurang menerima pelajaran agama di sekolah-sekolah umum.
Ma’had Aly merupakan salah satu bentuk usaha pelembagaan tradisi akademik pesantren yang pendiriannya dilatar belakangi oleh kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pendidikan pesantren tingkat tinggi yang mampu melahirkan ulama, di tengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini. Dengan kata lain Ma’had Ali merupakan lembaga kaderisasi ulama, sehingga di dalamnya tidak saja diajarkan ilmu-ilmu keagamaan (tafsir, hadits, fiqih dan teologi), tetapi juga ilmu-ilmu umum seperti sosiologi, antropologi dan filsafat. Sehingga alumnus Ma’had Aly dapat berpartisipasi dalam perubahan sosial di Indonesia dan dapat menjawab tantangan globalisasi dan modernisasi.
Program Pengembangan Wajib Belajar Pendidikan Dasar di Pondok Pesantren merupakan upaya kontribusi strategis dunia pesantren, dalam mensukseskan program wajib belajar yang dicanangkan oleh pemerintah RI. Karena disadari bahwa keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menyerap sekian ratus ribu masyarakat Indonesia sangat berkompeten dan strategis mendukung program. Karena didukung oleh prinsip, karakter pengelola pesantren, biaya yang relatif murah, kultur dan tradisi yang kompatibel sesuai dengan masyarakat.
Dalam rangka peningkatan pelayanan pondok pesantren pada masyarakat, maka diselenggarakanlah program pendidikan kesetaraan, yaitu Program Paket A untuk kesetaraan dengan SD, Paket B setara dengan SMP dan Paket C setara dengan SMA. Dalam program tersebut disamping dibekali kemampuan akademik tetapi juga life skill (ketrampilan hidup) untuk berwirausaha.
Secara keseluruhan buku ini merupakan kumpulan pedoman penyelenggaraan program- program pengembangan pada Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren yang terdiri dan enam bab. Bab I tentang Pedoman Penyelenggaraan Pengembangan Madrasah Diniyah; Bab II tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengembangan Lembaga Ma’had Aly; Bab III tentang Panduan Teknis Penyelenggaraan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar pada Pondok Pesantren Salafiyah; Bab IV tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Paket A pada Pondok Pesantren; Bab V tentang Pedoman Pcnyelenggaran Program Paket B pada Pondok Pesantren; Bab VI tentang Pedoman Penyelenggaran Program Paket C pada Pondok Pesantren.
Semoga dengan diterbitkannya buku ini akan sangat membantu pejabat di lingkungan Ditpekapontren baik pusat maupun daerah, penyelenggara dan pengelola lembaga pendidikan keagamaan dan masyarakat pada umumnya dalam memberdayakan pendidikan keagamaan dan pondok pesantren. Dengan demikian ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan amanat UUD dan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 akan mudah tercapai. Amin.
Wassalam
Jakarta, 16 November 2004
Direktur Pendidikan Keagamaan
dan Pondok Pesantren

H. Amin Haedari
NIP. 150216757
BAB I
NASKAH AKADEMIK MA’HAD ALY

A. PENDAHULUAN
1. Dalam setiap komunitas beragama, seperti halnya kaum muslimin di Indonesia, kehadiran ulama (ahli agama) merupakan kebutuhan yang mutlak. Ia berperan dalam mentranmisikan dan mengaktualisasikan ajaran agama sejalan dengan perkembangan zaman. Meskipun bukan merupakan sumber kebenaran mutlak, ulama memiliki pengaruh yang besar dalam mengarahkan kehidupan keagamaan masyarakat.
2. Secara normatif, ulama dipercaya sebagai pewaris para nabi yang pesan dan tindakannya diakui sebagai representasi dan misi keagamaan yang autentik. Namun demikian, peran ulama dalam kenyataannya tidak bisa diasingkan dari perkembangan kemasyarakatan yang terus berubah dan menuntut kualitas keulamaan yang sesuai dengan tantangan zaman. Karena itu, kedudukannya dalam struktur sosial, politik, dan budaya masyarakat bersifat dinamis dan bervariasi dari masa ke masa dan antara satu daerah dengan daerah lain.
3. Pengertian umum dari istilah ulama sebenarnya berarti ahli dalam suatu disiplin yang tidak terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan, tetapi secara sosiologis ia merupakan sosok yang penuh dengan kesalehan karena perpaduan imam ilmu dan amal keagamaan yang konsisten. Dalam pandangan umum, ia memiliki keyakinan yang teguh sehingga tidak tergoda oleh bujukan dan godaan duniawi. Ia juga mampu memberikan penjelasan dan respons keagamaan terhadap permasalahan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Di samping itu, ulama menampilkan perilaku dan tindakan yang sejalan dengan pesan-pesan yang diajarkannya.
4. Sampai sekitar tahun 1960-an, pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan agama Islam yang berperan melahirkan ahli-ahli agama yang secara tradisional disebut ulama atau kyai. Lulusan lembaga ini menempati posisi penting dalam kegiatan dan institusi kegamaan, mulai dari imam salat sampai dengan pemberi fatwa (mufti), hampir di seluruh pelosok negeri. Bahkan tidak sedikit dari mereka tampil dalam kepemimpinan nasional dengan reputasi keilmuan, politik, dan kepribadian yang disegani.
5. Namun demikian, harus disadari bahwa pada abad ke-21 ini, nilai-nilai yang selama ini dipertahankan oleh pesantren harus berhadapan dengan nilai-nilai baru yang dalam beberapa hal tidak sejalan dengan nilai dasarnya.

B. TRADISI KEULAMAAN PENDIDIKAN DI INDONESIA
1. Pola reproduksi ulama bergantung pada tradisi kesarjanaan Islam (Islamic scholarship) yang tidak lain merupakan proses pendidikan tingkat tinggi. Kemampuan pesantren melahirkan ulama menunjukkan bahwa lembaga pendidikan ini memiliki tradisi akademiknya sendiri. Perjalanan pendidikan di pesantren memakan waktu bertahun-tahun yang menunjukkan adanya pendakian keilmuan dari satu tahap ke tahap lain yang lebih tinggi.
2. Keberadaan tradisi kesarjanaan dalam pendidikan pesantren ditandai oleh beberapa hal. Pertama, adanya tahapan-tahapan materi keilmuan mulai dari ilmu akhlak, ilmu alat, ilmu diniyyah, dan ilmu hikmah. Kedua, adanya hirarki kitab-kitab yang menjadi bahan kajian di pesantren, yang pada umumnya dimulai dari khulasah, matan sampai dengan syarh yang bervariasi. Ketiga, adanya hirarki kesarjanaan antara kyai-murid dan kyai guru (intellectual chain) yang menunjukkan tingkat kelayakan masing-masing dalam memberikan pengajaran. Keempat, adanya metodologi pengajaran yang bervariasi mulai dari pola terpimpin seperti bandungan dan sorogan, sampai dengan pola mandiri dan ekspressif seperti muthala’ah, musyawarah, dan bahtsul masa’il. Dan kelima, adanya jaringan pesantren yang menggambarkan tingkatan-tingkatan pesantren, mulai dari pesantren tingkat permulaan sampai dengan pesantren takhassus yang hanya bisa diikuti oleh mahasantri yang sudah melampaui tahapan kajian-kajian dasar dan umum.
3. Dengan tradisi akademik di atas, pesantren melahirkan lulusan yang memiliki ciri-ciri kesarjanaan yang khas. Pertama, penguasaan ilmu-ilmu keagamaan yang tinggi disertai kemampuan mengkaji kitab-kitab klasik berbahasa Arab. Kedua, penampilan sikap hidup yang salih disertai dengan kemampuan mengerjakan amalan amalan ritual keagamaan. Dan ketiga, perhatian yang intens terhadap kehidupan umat disertai dengan kesanggupan terlibat langsung dalam masyarakat melalui pendirian lembaga-lembaga sosial keagamaan seperti pesantren dan majelis taklim.
4. Pengembangan tradisi akademik pesantren dilakukan dengan pola yang bervariasi. Pertama, pola pengembangan genuine, yakni meningkatkan program-program kajian takhassus yang sudah berjalan dengan meningkatkan mutu pengajar. Kedua, pola pengembangan terpadu, dengan membuka lembaga perguruan tinggi agama Islam di lingkungan pesantren. Ketiga, pola pengembangan transformatif, dengan mengembangkan serangkaian kajian berkala sebagaimana dilakukan oleh banyak LSM yang bergerak dalam kegiatan sosial keagamaan. Dan keempat, pola pengembangan yang dilakukan dengan pendirian lembaga Ma’had Aly.

C. MA’HAD ALY
1. Ma’had Aly merupakan salah satu bentuk usaha pelembagaan tradisi akademik pesantren, yang dilakukan sekitar dua dekade yang lalu. Cikal bakal pelembagaan ini adalah program-program kajian takhassus yang sudah berkembang berpuluh-puluh tahun di lingkungan pesantren. Pembentukan Ma’had Aly dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pendidikan pesantren tingkat tinggi yang mampu melahirkan ulama di tengah-tengah kamajuan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini. Disamping mempertahankan tradisi keilmuan yang sudah menjadi ciri khas pesantren bertahun-tahun, Ma’had Aly juga berusaha melakukan pembaharuan dalam kurikulum dan metodologi pengajaran.
2. Meskipun tekanan tetap diberikan pada pengajaran ilmu-ilmu keagamaan, kurikulum Ma’hadAly mencakup juga ilmu-ilmu umum seperti sosiologi, antropologi, dan filsafat. Dalam hal pengajaran ilmu-ilmu keagamaan, kurikulum disusun berdasarkan pendekatan disipliner seperti fiqh, ushul fiqh, tafsir, ilmu tafsir, hadits, ilmu hadits, tasawwuf, dll, yang dikombinasikan dengan penggunaan kitab-kitab tingkat tinggi dalam tradisi pendidikan pesantren. Rujukan dan bacaan dalam ilmu-ilmu keagamaan juga diperluas dengan kitab-kitab yang ditulis ulama-ulama modern. Sementara itu, muatan ilmu-ilmu umum diberikan sebagai dasar dan pengenalan untuk memperkaya wawasan dan mempertajam analisis dan perbandingan (komparasi). Pendalaman dan pengembangan lebih jauh dalam ilmu-ilmu umum ini diserahkan pada proses belajar mandiri.
3. Dalam proses pembelajaran, Ma’had Aly menggunakan metodologi pengajaran yang memberi kesempatan kepada para peserta untuk berekspressi. Di antara metode-metode yang sering digunakan adalah diskusi, seminar, dan penulisan laporan kepustakaan. Pengajar pada Ma’had Aly lebih berperan sebagai pembimbing, pengarah, dan fasilitator, sementara para peserta dituntut untuk aktif dan berinisiatif sendiri dalam mengembangkan pemahaman-pemahaman keagamaan. Untuk kepentingan ini Ma’had Aly pada umumnya dilengkapi dengan perpustakaan yang menyediakan literatur-literatur keagamaan yang bervariasi.
4. Dewasa ini beberapa pesantren telah membuka Ma’had Aly sebagai lembaga atau jenjang yang berdiri sendiri. Beberapa di antaranya adalah Ma’had Aly di pesantren Asembagus Situbondo, Ma’hadAly di pesantren KrapyakYogyakarta, dan Ma’hadAly di pesantren Ciamis. Usaha-usaha rintisan untuk mendirikan Ma’had Aly tengah dilakukan oleh sejumlah pesantren, baik di Jawa maupun luar Jawa. Tenaga-tenaga pengajar Ma’had Aly pada umumnya sarjana-sarjana lulusan Timur Tengah, dengan latarbelakang pesantren yang cukup kuat. Beberapa sarjana dari lingkungan perguruan tinggi baik dalam negeri maupun luar negeri juga dilibatkan, khususnya untuk bidang kajian ilmu-ilmu umum dan modern. Dalam pandangan Ma’had Aly agama adalah puncak pencapaian, sedangkan IPTEK adalah salah satu wahana untuk mencapainya.

D. TANTANGAN KEULAMAAN DI INDONESIA
1. Kehidupan masyarakat yang terus berubah dan berkembang berdampak pada pola penganutan keagamaan yang lebih rasional dan fungsional. Kemajuan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan fasilitas kehidupan dan sekaligus sistem nilai baru yang menjanjikan. Tuntutan masyarakat akan profesionalisme semakin berkembang dalam berbagai sektor kehidupan. Otoritas ulama dalam bidang keagamaan berhadapan dengan aneka keahlian masyarakat dalam bidang-bidang lain yang lebih pragmatis. Dalam waktu yang bersamaan, perkembangan teknologi informasi telah memudahkan akses masyarakat terhadap sumber-sumber ilmu pengetahuan, termasuk ilmu-ilmu keagamaan, yang luas dan beragam.
2. Upaya merekonsiliasikan ajaran-ajaran agama dengan nilai-nilai pragmatis yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi agenda utama kaum muslimin sejak awal abad 20. Tujuan pokok dari usaha ini adalah menunjukkan kompitibilitas ajaran Islam terhadap peradaban modern. Di satu sisi diupayakan penyegaran dan pembaharuan pemahaman ajaran agama sejalan dengan perkembangan aktual, dan di sisi lain dilakukan langkah spiritualisasi masyarakat modern agar tidak mengalami kehampaan moral dan mental secara terus menerus.
3. Selain dalam sistem pendidikan pesantren, tradisi kesarjanaan Islam juga berkembang dalam sistem pendidikan yang berbasis persekolahan (modern) yang ditunjukkan oleh beberapa hal. Pertama, adanya kelembagaan pendidikan tinggi Islam dalam bentuk-bentuk Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, dan Akademi, yang merupakan kelanjutan dari pendidikan tingkat menengah (Aliyah). Kedua, kurikulum pendidikannya menawarkan kajian keagamaan yang lebih khusus dan mendalam. Ketiga, pendekatan pengajarannya cenderung bersifat kritis dalam bentuk diskusi dan seminar yang merupakan latihan berfikir independen. Keempat, adanya praktik penelitian yang merupakan tahapan untuk mempertajam analisis dan memperdalam penguasaan keilmuan. Dan kelima, tenaga pengajarnya dipersyaratkan memiliki kompetensi akademik tertentu yang lebih kompleks daripada tenaga pengajar pada jenjang pendidikan menengah.
4. Lulusan pendidikan tinggi Islam modern di atas memiliki beberapa ciri. Pertama, secara formal dapat menyandang gelar kesarjanaan diqiaskan dengan jenjang-jenjang akademik, mulai dari strata-1 (sarjana), strata-2 (master), dan strata-3 (doktor). Kedua, penguasaan keilmuan Islam yang cukup tinggi disertai dengan kemampuan menganalisis dan mengkomparasikan melalui penelitian inter-disipliner. Ketiga, pergaulan intelektual yang lebih terbuka disertai dengan kemampuan menulis dan berkomunikasi. Dan keempat, penampilan sikap profesionalisme yang tinggi dengan kesanggupan mengerjakan tugas-tugas kepemimpinan dan administrasi secara modern. Dari sini diharapkan pengakuan predikat/gelar ulama atau kyai dapat diakui oleh dunia ilmu pengetahuan seperti LIPI dan sebagainya bahkan oleh lembaga internasional.
5. Kekhasan alumni Ma’had Aly adalah “jenjang pendidikan formal boleh selesai, namun belajar yang tidak formal tidak pernah selesai”. Oleh karena itu, Mahasantri meskipun telah menyelesaikan strata “doktor” ia terus belajar dan meneliti tanpa berkesudahan sebagai konsekwensi logis seorang ulama.
6. Baik tradisi akademik dalam sistem pendidikan pesantren maupun dalam sistem modern kedua-duanya merupakan wujud dari proses pendidikan Islam tingkat tinggi, yang merupakan kelanjutan dari jenjang-jenjang pendidikan tingkat menengah atas (Aliyah). Lulusan dari kedua lembaga tersebut memiliki keahlian ilmu agama yang lebih tinggi daripada kaum muslimin pada umumnya. Pengakuan keulamaan diberikan kepada mereka oleh masyarakat walaupun secara tradisional sebutan ulama lebih banyak dialamatkan kepada lulusan pesantren.
7. Terlepas dari persamaan di atas, kedua sistem akademik itu memiliki perbedaan dalam beberapa hal. Tradisi akademik pesantren pada dasarnya tidak terlembagakan secara resmi yang terpisah dari proses pendidikan pada umumnya. Hal ini berbeda dengan tradisi akademik modern yang terlembagakan secara khusus dalam bentuk Universitas, Institut, sekolah Tinggi, dan Akademi. Penggunaan istilah Ma’had Aly untuk melembagakan tradisi akademik pesantren pada dasarnya merupakan fenomena kekinian. Perbedaan lain terlihat pada lulusan tradisi akademik pesantren yang tidak bergelar dan tidak memiliki pengaruh resmi seperti halnya gelar kesarjanaan pada lulusan tradisi akademik modern. Tradisi akademik pesantren juga berbeda dengan tradisi akademik modern dalam hal orientasi pengabdian alumninya. Lulusan pesantren sebagian besar mengabdi melalui lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan, sementara lulusan tradisi akademik modern mengabdi melalui lembaga-lembaga professional dan pemerintahan.
8. Ma’had Aly dapat berstatus Lembaga atau Program Pengkajian Tingkat Tinggi dalam sistem pendidikan pesantren. Jika diartikan sebagai lembaga, maka secara organisatoris Ma’had Aly berdiri terpisah atau berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan pesantren pada umumnya. Pengelolaannya ditangani oleh kepengurusan tersendiri dan pola pendidikannya didesain dengan rancangan yang khusus. Dalam posisi ini Ma’had Aly berkedudukan sama dengan Perguruan Tinggi di pesantren yang memiliki kekhususannya (pendidikan tinggi khas pesantren). Sementara itu, jika dianggap sebagai program kajian, maka kedudukannya merupakan bagian inheren dalam proses pendidikan pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan mulai dari tingkat permulaan sampai tingkat tinggi. Sebuah pesantren yang terkenal dengan kajian-kajian takhassus tingkat tinggi dapat dianggap memiliki Ma’had Aly walaupun tidak lembaga khusus yang independen penyelenggaraannya.
9. Sejalan dengan arah dan kebijakan Departemen Agama dalam bidang pengembangan pendidikan tinggi, Ma’had Aly dipandang sebagai salah satu alternatif pendidikan tinggi agama Islam karena kekhususan-kekhususan yang dimilikinya. Di satu sisi, pengembangan Ma’had Aly akan sangat berarti dalam menganekaragamkan kelembagaan pendidikan tinggi sehingga dapat menghasilkan sarjana-sarjana yang bervariasi sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Sementara itu, di sisi lain, pengembangan Ma’had Aly juga berarti penataan dan pengembangan program akademiknya sedemikian rupa sehingga dapat bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan tinggi lain pada umumnya.
Dengan kata lain Ma’had Aly adalah bentuk Pendidikan Tinggi Khas Pesantren yang secara unique berbeda dengan Perguruan Tinggi pada umumnya. Ma’had Aly eksis, tumbuh dan berkembang dalam dunia pesantren.

BAB II
STATUTA MA’HAD ALY

A. PENDAHULUAN
Usaha meningkatkan angka partisipasi dan mutu pendidikan tinggi merupakan tugas semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Pemerintah berkewajiban mendorong dan membuka peluang yang seluas-luasnya bagi partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan tinggi sesuai dengan minat, perhatian dan kemampuan yang dimilikinya.
Ma’had Aly pada dasarnya adalah lembaga pendidikan tinggi yang sepenuhnya dirancang dan dikelola oleh masyarakat. Basis Ma’had Aly tidak lain adalah pesantren-pesantren yang terbesar di seluruh wilayah di Indonesia. Berbeda dengan perguruan tinggi pada umumnya, Ma’had Aly selama ini dibiarkan dan diberi kesempatan berkembang atas dasar kemauan dan kesanggupan para pengelolanya. Di satu sisi, hal ini menunjukan kemandirian pesantren yang luar biasa dalam memenuhi kebutuhannya sendiri untuk mencetak ulama. Namun di sisi lain, kenyataan ini menunjukan lemahnya perhatian pemerintah yang masih sangat kurang dalam memberdayakan dan sekaligus mendayagunakan Ma’had.
Dalam rangka transformasi menjadi lembaga pendidikan tinggi yang lebih terbuka, pemerintah mendorong dikembangkannya Ma’had Aly dengan mengacu pada prinsip-prinsip akademik yang modern dan bervisi kedepan. Untuk tujuan ini, diperlukan perhatian Ma’had Aly secara lebih sistematik sehingga mencerminkan pola penyelenggaraan lembaga akademik sebagaimana umumnya tanpa menghilangkan ciri khususnya. Para penyelenggara Ma’had Aly dirangsang untuk membuat statuta Ma’had Aly sehingga dapat dikomunikasikan secara baik dan konseptual, baik kepada pihak intern maupun pihak ekstern.
Penyusunan statuta ini dimaksudkan sebagai panduan bagi penyelenggara Ma’had Aly dalam rangka perencanaan, penyusunan program, pelaksanaan serta evaluasi.

B. KETENTUAN UMUM
Dalam statuta ini yang dimaksudkan dengan :
1. Ma’had Aly adalah lembaga pendidikan ulama tingkat tinggi sebagai lanjutan dari pendidikan dan pengajaran diniyah tingkat Aliyah atau yang sederajat.
2. Pedoman adalah pokok-pokok pedoman penyelenggara Ma’had Aly yang diharapkan untuk dipergunakan sebagai acuan atau panduan untuk merencanakan, melaksanakan dan mengembangkan program kegiatan serta evaluasi sesuai dengan tujuan Ma’had Aly.

C. DASAR, VISI, MISI, ORIENTASI, TUJUAN DAN FUNGSI
1. Dasar
Ma’had Aly berdasarkan Islam dan Pancasila. Dengan Islam dimaksudkan bahwa Ma’had Aly diadakan, diselenggarakan dan dikembangkan berangkat dari ajaran Islam, dilaksanakan proses pengelolaannya secara Islami dan menuju apa yang diedialkan oleh model-model pendidikan yang Islami, dan dengan Pancasila dimaksudkan bahwa Ma’had Aly diselenggarakan, dikembangkan dan diamalkan dalam wacana Pancasila sebagai landasan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, bagi seluruh warga Negara Indonesia.
2. Visi
Visi Ma’had Aly dalam abad 21 ini adalah menjadi salah satu pusat studi Islam di Indonesia. Diyakini sepenuhnya bahwa budaya, karya-karya ulama, cendikiawan dan ilmuan-ilmuan muslim Indonesia mampu menjadi sumber kajian Islam mengiringi pusat-pusat kajian Islam dari Timur Tengah, Eropa, Amerika dan Negara-negara lain yang juga menyimpan sumber-sumber akademik ajaran Islam.
3. Misi
Sesuai dengan visi di atas, maka misi Ma’had Aly adalah Pertama: mengadakan kajian Islam secara Kaffah, dan komprehensip atau holistik agar bangsa dan negara Indonesia mampu menghadapi tantangan zamannya atau mampu hidup terhormat dalam tatanan kehidupan internasional modern tanpa kehilangan jati dirinya. Kedua, Ma’had Aly rnengembangkan sistem Pondok Pesantren yang mampu menjadi sumber pengembangan IPTEKS (ilmu pengetahuan, tekhnologi dan seni) lengkap pemanfaatannya dalam bingkai ajaran Islam. Melalui misi kedua ini, diharapkan Ma’had Aly dapat memberikan sumbangan yang substansial dan konstruktif bagi bangsa dan negara Indonesia secara terus-menerus mencari penyempurnaan Sistem Pendidikan Nasionalnya.
4. Operasional
Seiring dengan tantangan kehidupan dalam era globalisasi dengan persaingan yang keras dan dinamika yang tinggi, maka orientasi Ma’had Aly dalam abad ke-21 ini tidak lain kecuali harus berorientasi pada mutu, kebenaran dan kebaikan bagi seluruh kepentingan bangsa dan negara serta agama sebagai konsekuensi logis bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Orientasi ini dimaksudkan untuk mengatasi kecenderungan akhir-akhir ini di mana nilai-nilai kemanusiaan bangsa Indonesia terasa amat terpuruk dan jauh dari nilai Islami.
5. Tujuan
a. Menyiapkan dan mengantarkan mahasantri menjadi ulama yang memiliki sifat-sifat sebagaimana dicontohkan Rosulullah (siddiq, amanah, tabligh dan fathonah).
b. Mengantar mahasantri jadi cendikiawan dan ilmuan yang memiliki kemauan dan kemampuan professional, terbuka, bertanggungjawab, berdedikasi dan peduli terhadap bangsa dan negara serta berpandangan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.
6. Fungsi
Ma’had Aly mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan pengembangan dan penyelenggaraan pendidikan
b. Pusat pengkajian dan penelitian dalam rangka pengembangan dan penemuan ilmu pengetahuan.
c. Pengabdian kepada masyarakat dalam rangka mewujudkan masyarakat madani
d. Sebagai agen modernisasi bangsa, negara dan khususnya umat Islam/Ma’had Aly merupakan sumber “studi banding” bagi pengembangan Perguruan Tinggi Umum atau lainnya.

D. ORGANISASI MA’HAD ALY
1. Ma’had Aly diselenggarakan oleh pondok pesantren.
2. Ma’had Aly dipimpin oleh seorang pimpinan Ma’had yang disebut dengan Mudir (direktur)
3. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya, seorang mudir bisa dibantu oleh wakil mudir yang jumlahnya disesuaikan kebutuhan.
4. Kedudukan mudir dan wakil mudir ditetapkan oleh Majelis Syura setelah mendapat persetujuan dari penyelenggara Ma’had Aly.
5. Majelis Syura adalah Badan Normatif dan perwakilan tinggi dalam Ma’had Aly, yang beranggotakan ulama/kyai, seluruh tenaga pengajar atau mursyid dan berfungsi untuk:
a. Merumuskan kebijakan Akademik Ma’had Aly
b. Merumuskan norma dan tolak ukur penyelenggaraan Ma’had Aly
c. Merumuskan kriteria tenaga pengajar
d. Menilai pertanggungan jawab mudir
e. Memberikan pertimbangan kepada penyelenggara Ma’had Aly tentang calon mudir
6. Majelis Ma’had Aly adalah dewan nasional yang dipimpin oleh seorang ulama senior dan beranggotakan beberapa orang ulama, mursyid, dan pakar sesuai kebutuhan dengan mendapatkan legitimasi dari Menteri Agama. Tugas pokok Majelis Ma’had Aly memberikan pertimbangan kepada Menteri Agama tentang kelayakan pendirian dan penyelenggaran Ma’had Aly.
7. Tenaga pengajar pada Ma’had Aly disebut Mursyid yang diangkat oleh penyelenggara Ma’had Aly.
8. Mursyid Ma’had Aly terdiri dari Mursyid tetap dan Mursyid tidak tetap (visiting professor/al-ustadz az zairy. dli).
9. Peserta didik dalam Ma’had Aly disebut dengan mahasantri.
10. Untuk menjadi peserta didik dalam Ma’hadAly atau mahasantri seseorang harus :
a. Telah lulus rekrutment yang dilaksanakan oleh Ma’had Aly yang bersangkutan, yang pelaksanaannya dilakukan oleh Ma’had Aly.
b. Warga Negara Asing dapat menjadi mahasantri setelah memenuhi persaratan tambahan tertentu.
11. Mahasantri mempunyai hak :
a. Menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut ilmu sesuai dengan norma dalam lingkungan Ma’had Aly
b. Memperoleh layanan akademik sebaiknya.
c. Memanfaatkan fasilitas Ma’had Aly dalam rangka kelancaran studi,
d. Mendapat bimbingan dari Mursyid yang bertanggung jawab dalam bidang studinya.
e. Memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan studi.
f. Mempunyai hak untuk pindah ke Ma’had Aly lain bilamana memenuhi persyaratan.
12. Mahasantri berkewajiban :
a. Mematuhi semua peraturan yang berlaku pada Ma’had Aly maupun pesantren penyelenggaranya.
b. Ikut memelihara sarana dan prasarana.
c. Ikut serta dalam menanggung biaya penyelenggaraan Ma’had Aly.
d. Menghargai ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berlandaskan Islam.
e. Menjaga kewibawaan Ma’had Aly (almamater).
13. Alumni Ma’had Aly
Adalah seorang yang telah menyelesaikan seluruh beban studi Ma’had Aly melalui ketentuan ujian-ujian yang ditetapkan secara sah dan mendapatkan legalitas kelulusannya.
14. Unit Pelaksana Akademis dan Unit Pelaksana Teknis
UPA dan UPT pada Ma’had Aly ditetapkan oleh Mudir setelah mendapatkan persetujuan Dewan Syura dan Penyelenggara Ma’had Aly.

E. KURIKULUM
1. Pendidikan dan pengajaran Ma’had Aly dilaksanakan atas dasar kurikulum yang disusun oleh masing-masing penyelenggara Ma’had Aly.
2. Kurikulum pada satu Ma’had Aly mencerminkan program akademik dan program profesional untuk mencapai standar kompetensi yang harus dimiliki oleh lulusan Ma’had Aly.
3. Kurikulum dan Silabi disusun dan ditetapkan oleh Ma’had Aly.

F. SISTEM PENGAJARAN
Sistem pengajaran Ma’had Aly diselenggarakan dengan sistem klasikal melalui kegiatan program kurikuler dan kegiatan program ekstra kurikuler. Sistem pembelajaran Ma’had Aly berfokus mengembangkan kemampuan belajar lebih lanjut bagi Mahasantrinya “Belajar bagaimana belajar”.

G. TAHUN AKADEMIK
Tahun akademik penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran Ma’had Aly menyesuaikan dengan program pendidikan dan pengajaran pondok pesantren penyelenggara Ma’had Aly yang bersangkutan.

H. PENILAIAN HASIL STUDI
1. Penilaian terhadap kegiatan kemajuan dan kernampuan Mahasantri dilakukan secara berkala yang berbentuk ujian, pelaksanaan tugas dan pengamatan oleh mursyid.
2. Ujian dapat diselenggarakan melalui tengah semester, ujian akhir dan lain-lain.

I. GELAR AKADEMIK MA’HAD ALY
Sebutan gelar akademik bagi peserta didik diatur oleh Majelis Ma’had Aly, sebagai Dewan Nasional.

J. JENJANG DAN PROFIL LULUSAN MA’HAD ALY
1. Lulusan Ma’had Aly Marhalah Ula diedialkan memiliki wawasan keilmuan yang komprehensif dan metodologi dalam salah satu bidang ilmu keIslaman. Beban dan lama studi pada marhalah ini dapat diqiaskan dengan jenjang strata 1 (satu) pada pendidikan tinggi umum.
2. Lulusan Ma’had Aly Marhalah Wustho diedialkan menguasai wawasan keilmuan yang komprehensif dan metodologi dalam salah satu bidang ilmu keislaman. Dalam hal ini mahasantri mampu menyerap arti pendidikan itu sendiri. Beban dan lama studi pada marhalah ini dapat diqiaskan dengan jenjang strata 2 (dua) pada pendidikan tinggi umum.
3. Lulusan Ma’had Aly Marhalah ‘Ulya diedialkan mampu mengembangkan keilmuannya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Beban dan lama studi pada marhalah ini dapat diqiaskan dengan jenjang strata 3 (tiga) pada pendidikan tinggi umum.

K. KEBEBASAN AKADEMIK DAN OTONOMI KEILMUAN
1. Kebebasan Akademik merupakan kebebasan yang dimiliki civitas akademika Ma’had Aly untuk secara mandiri bertanggungjawab dan bermoral dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran di Ma’had Aly yang terkait dengan penggalian, pemahaman ilmu dan pengamalan serta pengembangan ilmu-ilmu kelslaman.
2. Otonomi keilmuan adalah kegiatan keilmuan yang berpedoman pada norma dan kaidah agama serta ilmu pengetahuan yang mencakup keterbukaan, bertanggung jawab sepenuh hati dan rahmat bagi semesta alam yang harus ditaati oleh civitas akademika Ma’had Aly.’
3. Akuntabilitas, yaitu Ma’had Aly diselenggarakan secara terbuka dan bertanggungjawab.
4. Evaluasi diri (self evaluation), yaitu penyelenggara Ma’had Aly melakukan evaluasi setiap periode dalam waktu tertentu 6 hingga 12 bulan sekali sesuai dengan kebutuhan, meliputi seluruh komponen pendidikan dan pengajaran.

L. PEMBIAYAAN DAN OTONOMI PENGELOLAAN
1. Keuangan Ma’had Aly diperoleh dari sumber keuangan mandiri, masyarakat, pemerintah dan lembaga-lembaga lain baik dari dalam negeri maupun luar negeri dengan prosedur halal dan sah.
2. Pengelolaan dana Ma’had Aly diatur sesuai dengan peraturan serta kesepakatan yang telah ditetapkan oleh penyelenggara Ma’had Aly.

M. KERJASAMA ANTAR LEMBAGA DAN PERORANGAN
Dalam pelaksanaan kegiatan akademiknya, Ma’had Aly dapat menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga lain, baik dalam maupun luar negeri yang mekanismenya diatur tersendiri sesuai bentuk dan sifat kerjasamanya.

N. PENGAWASAN DAN AKREDITASI
1. Ma’had Aly akan menetapkan tatacara pengawasan mutu dan efisiensi kegiatan yang meliputi kurikulum, mutu dan jumlah tenaga penyelenggara Ma’had Aly, keadaan Mahasantri, pelaksanaan proses belajar mengajar, sarana dan prasarana, tatalaksana dan administrasi akademik, keuangan secara berkala.
2. Pengawasan ditujukan untuk pengendalian mutu program akademik dan non akademik yang dilakukan oleh Ma’had Aly agar dapat menghasilkan lulusan sebagaimana diharapkan dalam profil lulusan.
3. Penilaian sebagaimana dimaksud di atas dilakukan oleh Majelis Ma’had Aly bersama-sama dengan penyelenggara dan tokoh masyarakat serta pengguna jasa Ma’had Aly.
4. Akreditasi, yaitu penilaian dan pengakuan pihak luar atau para pengguna jasa Ma’had Aly mengenai mutu Ma’had Aly di semua komponen pendidikannya, terutama model pembelajaran dan kualitas lulusannya. Akreditor dilakukan oleh para ahli di bidang studinya.

O. KODE ETIK DAN PENGHARGAAN
1. Kode Etik
a. Dalam melaksanakan kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik dan mimbar otonomi keilmuan, setiap anggota civitas akademika Ma’had Aly harus bertanggungjawab secara pribadi dan akhirnya tidak merugikan lembaga.
b. Pelaksanaan kebebasan akademik, kebebasan mimbar dan otonomi keilmuan, diarahkan untuk terwujudnya pemantapan pengembangan ilmu pengetahuan agama Islam.
c. Ma’had Aly menjunjung tinggi etika akademik dan norma-norma agama Islam yang berarti menghargai hakekat masing-masing ilmu pengetahuan serta pengajaran agama Islam.
d. Etika akademik perlu secara dini ditanamkan pada mahasantri melalui uswatun hasanah, perkuliahan dan lain-lain.
e. Perwujudan kebabasan akademik, kebebasan mimbar dan otonomi keilmuan dan kode etik pada Ma’had Aly ditetapkan oleh majelis Ma’had Aly dan penyelenggara Ma’had Aly.
f. Penyelenggara Ma’had Aly dapat membentuk dewan kehormatan kode etik Ma’had Aly.

2. Penghargaan
a. Untuk menciptakan kondisi tradisi akademik dalam upaya peningkatan pelaksanaan proses belajar mengajar, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, Ma’hadAly memberikan penghargaan kepada setiap individu yang telah terbukti berjasa dan menunjukkan kesetiaan prestasi pada lembaga.
b. Majelis Ma’had Aly dapat memberikan penghargaan atas prestasi dan reputasi Ma’had Aly pada level nasional.
c. Bentuk, syarat dan tatacara penghargaan diatur lebih lanjut dengan ketetapan penyelenggara Ma’had Aly yang bersangkutan dengan mengkonsultasikan lebih dulu kepada Majelis Ma’had Aly.

P. SANKSI
1. Civitas Akademi Ma’had Aly yang melakukan pelanggaran kode etik dikenai sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
2. Kegiatan-kegiatan civitas akademika Ma’hadAly atas nama pribadi atau kelompok menjadi tanggungjawab pribadi atau kelompok yang bersangkutan dengan seijin mudir.
3. Sanksi terhadap mahasantri, baik dengan alasan akademik maupun non akademik hanya dapat dilakukan oleh penyelenggara Ma’had Aly setelah mendapat masukan dari Dewan Syura Ma’had Aly dan mudir.
4. Civitas akademika yang mendapat sanksi dimaksud diberi kesempatan membela diri pada forum Dewan Syura.

Q. PENUTUP
1. Semua peraturan yang berlaku di seluruh wilayah Indonesia tetap berlaku sebagai dasar pijakan peraturan-peraturan yang ditetapkan statuta dan peraturan lain dalam penyelenggaraan Ma’had Aly.
2. Semua peraturan, norma-norma yang berlaku di pesantren dimana Ma’had Aly diselenggarakan tetap masih berlaku sejauh tidak bertentangan dengan kaidah yang ditetapkan baik dalam statuta maupun dalam pokok-pokok pedoman Ma’had Aly.
3. Hal-hal yang belum diatur dalam statuta ini akan diatur kemudian dengan peraturan sendiri baik oleh Majelis Ma’had Aly maupun oleh penyelenggara Ma’had Aly.

BAB III
PEDOMAN KURIKULUM
PENDIDIKAN MA’HAD ALY

Kurikulum merupakan program pembelajaran atau rencana-rencana belajar untuk mencapai mutu kopetensi akademik dan mutu kompetensi profesional. Dengan standar mutu yang ditetapkan penyelenggara Ma’had Aly yang bersangkutan dan dikonsultasikan dengan Majelis Syuro. Dengan standar mutu akademik dimaksud, lulusan Ma’had Aly memiliki kompetensi sebagai ulama yang dapat menjalankan fungsi keteladanan, kependidikan, penyuluhan pengembangan masyarakat dan pemberi fatwa keagamaan sesuai dengan tantangan zaman.
Secara lebih terperinci, kompetensi diatas terdiri dari kompetensi akademik dan kompetensi professional
1. Perangkat kemampuan akademik meliputi :
a. menguasai sumber-sumber ajaran Islam dan cara mengembangkan kandungan nash secara tekstual dan kontekstual.
b. kemampuan melakukan konsultasi literature al-kutub alqadimah (kitab-kitab salaf) dalam tataran madzhab qauli yang diikuti dengan kemampuan kritik rasional terhadap ungkapan doktrinalnya.
c. kemampuan untuk mengoperasikan dan mengembangkan manhaj al-fikri dan istinbath al-hukum dan nas-nash dalam rangka menjawab masalah-masalah kontemporer.
d. kemampuan untuk mengembangkan pemikiran keislaman yang disertai dengan wawasan keilmuan modern.
2. Perangkat kemampuan profesional adalah kemampuan mentransfer nilai-nilai ajaran Islam baik sécara individual maupun sosial yang meliputi pengelolaan institusi dengan program-programnya.
a. Secara Individual, dapat menginternalisasikan nilai-nilai ajaran Islam dalam jiwa dan raganya sehingga mampu bersosialisasi diri di tengah masyarakat.
b. Secara Individual, trampil mentransfer nilai-nilai ajaran agama dalam mengembangkan masyarakat madani dan menjadi ‘motor’ pemberdayaan umat.

A. KARAKTER DAN KOMPONEN KURIKULUM MA’HAD ALY
1. Kurikulum Ma’had Aly bertolak dari beberapa prinsip:
a. Prinsip kesinambungan ajaran, pemikiran, dan tradisi kelslaman dari masa ke masa.
b. Prinsip holistik dalam kajian keIslaman baik secara material maupun metodologikal (usul).
c. Prinsip dinamis dalam merespons dan mengantisipasi perkembangan zaman.
d. Prinsip gradual dalam penyajian dan pengajarannya sesuai dengan jenjang dan target pendidikan.
e. Prinsip kepribadian sebagai muslim yang kaffah.
f. Berkarya dalam mengembangkan rahmatan lil ‘alamin.
g. Mampu hidup bersama dalam masyarakat madani.

2. Komponen kurikulum Ma’had Aly terdiri dari :
a. Komponen pengkajian tekstual yang merujuk pada al-Qur’an, al-Hadits, dan al-kutub al-mu’tabarah.
b. Komponen pengembangan wawasan substansial yang meliputi disiplin keIslaman dan disiplin umum yang relevan dengan merujuk pada berbagai nadzhab pemikiran dan aneka literature, baik klasik maupun modern. Disiplin keilmuan dimaksud melalui landasan/dasar keilmuan yang kuat (filsafat ilmu) agar mampu memberikan penjelasan ajaran agama secara ilmiah (rasional) dan memiliki pengetahuan agama yang mendasar sesuai dengan tantangan zaman.
c. Komponen ilmu-ilmu alat yang meliputi bahasa, mantiq, dan ilmu usul.

B. PENYUSUNAN KURIKULUM
Ma’had Aly dilaksanakan atas dasar kurikulum yang disusun oleh masing-masing penyelenggara sesuai dengan program dan kekhususan bidang kajian.
a. Kurikulum Ma’had Aly mencerminkan program akademik dan program professional untuk mencapai standar kompetensi yang harus dimiliki lulusan Ma’had Aly.
b. Dalam kurikulum Ma’had Aly, mahasantri diharapkan mampu menguasai bahasa asing (Arab dan atau bahasa Inggris).

C. SISTEM PENGAJARAN
Sistem pengajaran Ma’had Aly diselenggarakan dengan sistem klasikal melalui metode diskusi, seminar, dialog dan penelitian.

D. BAHASA PENGANTAR
Bahasa pengantar di Ma’had Aly adalah bahasa Arab dan bahasa Indonesia.

E. PENILAIAN HASIL STUDI
Penilaian terhadap kegiatan, kemajuan dan kemampuan Mahasantri dilakukan secara berkala yang berbentuk ujian, pelaksanaan tugas dan pengamatan.

F. INDEKS PRESTASI KELULUSAN
Indeks prestasi kelulusan ditetapkan sebagai berikut :
1. Predikat Mumtaz/cumlaude merupakan prestasi kelulusan tertinggi (istimewa) dengan nilai antara 3.50 hingga 4.00.
2. Predikat Jayyid Jiddan merupakan prestasi kelulusan amat baik dengan nilai antara 3.00 hingga 3.49.
3. Predikat Jayyid merupakan prestasi kelulusan baik dengan nilai antara 2.50 hingga 2.99.
4. Predikat Maqbul merupakan prestasi kelulusan sedang dengan nilai antara 2.00 hingga 2.49.
5. Predikat Rasib merupakan tidak lulus antara nilai 0.00 hingga 1.99.

Jakarta, 16 November 2004
Direktur Pendidikan Keagamaan
dan Pondok Pesantren

H. Amin Haedari
NIP. 150216757

KEPUTUSAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 284 TAHUN 2001
TENTANG MA’HAD ALY

MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA

Menimbang : a. bahwa dalam rangka mernenuhi kebutuhan masyarakat akan ulama, diperlukan Lembaga Pendidikan Tinggi untuk keperluan dimaksud;
b. bahwa selama ini belum ada ketentuan yang mengatur tentang Lembaga Pendidikan dimaksud;
c. bahwa sesuai dengan pertimbangan butir (a) dan (b) diatas, dipandang perlu menerbitkan ketetapan tentang Ma’had Aly.

Mengingat : 1. Mengingat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2. Peraturan pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi;
3. Keputusan Presiden RI Nomor 165 Tahun 2000 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen yang telah diubah dengan Keputusan Presiden RI Nomor 37 Tahun 2001;
4. Keputusan Presiden RI Nomor 177 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi dan Tugas Departemen, yang telah diubah dengan Keputusan Presiden RI Nomor 38 Tahun 2001;
5. Keputusan Menteri Agama Nomor 44 Tahun 1988 tentang Persyaratan Status Terdaftar, Diakui dan Disamakan Program Strata Satu (S1) Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta;
6. Keputusan Menteri Agama Nomor 53 Tahun 1994 tentang Pedoman Pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta;
7. Keputusan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Agama.

Memperhatikan : Hasil-hasil pertemuan tentang Ma’had Aly
1. 01 – 05 Agustus 1995 di Bogor;
2. 10 – 12 Desember 1999 di Surabaya;
3. 05 – 06 Maret 2000 di Surabaya;
4. 23 – 24 September 2000 di Malang;
5. 16 – 18 Desember 2000 di Jakarta.

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA TENTANG MA’HAD ALY

Pasal 1
Ma’had Aly adalah Lembaga Pendidikan Ulama Tingkat Tinggi;

Pasal 2
Dasar Ma’had Aly adalah Islam dan Pancasila;

Pasal 3
Visi Ma’had Aly Menjadi Pusat Studi Islam dan Pendidikan Ulama terdepan di Indonesia;

Pasal 4
Misi Ma’had Aly:
a. Mengadakan kajian Islam secara menyeluruh dan utuh atau komprehensive agar bangsa dan negara Indonesia mampu menghadapi tantangan zaman dengan tetap terpijak pada jati dirinya;
b. Mengembangkan sistem pendidikan Pondok Pesantren yang mampu mengembangkan IPTEKS (Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni), lengkap dengan pemanfaatan dalam bingkai ajaran Islam.

Pasal 5
Orientasi Ma’had Aly:
Ma’had Aly orientasi pada mutu, kebenaran dan kebaikan serta kepentingan seluruh bangsa sebagai konsekwensi logis dan Rahmatan Lil ‘alamin.

Pasal 6
Tujuan Ma’had Aly:
a. Mengantar santri menjadi ulama yang memiliki sifat-sifat kepemimpinan ideal sebagaimana Rasulullah: Shidiq, Amanah, Tabligh dan karakter Ulama;
b. Memiliki sikap ilmuwan dan keulamaan yang profesional,terbuka, bertanggung jawab, mengabdi pada bangsa dan negara dan berpandangan bahwa Islam untuk semua.

Pasal 7
Fungsi Ma’had Aly:
a. Sebagai pelaksana pendidikan dan pengajaran;
b. Sebagai pelaksana penelitian;
c. Sebagai pelaksana pengabdian pada masyarakat;
d. Menjadi agen modernisasi bangsa dan negara melalui masyarakat madani (Civil Society).
Pasal 8
Struktur Organisasi dan Tata Kerja Ma’had Aly; selanjutnya diatur dengan Keputusan Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.

Pasal 9
Dalam hal pelaksanaan Visi dan Misi Ma’had Aly bersifat independen.

Pasal 10
Hal-hal yang belum diatur dalam Keputusan ini akan diatur sendiri sesuai dengan keperluan dan perkembangan.

Keputusan ini berlaku mulai tanggal ditetapkan.

Ditetapkan : di Jakarta
Pada tanggal : 8 Mei 2001

MENTERI AGAMA RI

MUHAMMAD TOLCHAH HASAN

Tembusan :
1. Menteri Sekretaris Negara di Jakarta,
2. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara di Jakarta;
3. Menteri Pendidikan Nasional di Jakarta;
4. Sekjen / Irjen / Para Dirjen / Kabalitbang Agama / Staf Ahli Menteri Agama;
5. Dirbinperta Islam Ditjen Binbaga Islam;
6. Arsip

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN
KELEMBAGAAN AGAMA ISLAM
NOMOR : E / 179 / 2001
TENTANG
POKOK-POKOK PEDOMAN PENYELENGGARAAN MA’HAD ALY

DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN KELEMBAGAAN AGAMA ISLAM

Menimbang : bahwa dalam penyelenggaraan kegiatan perencanaan dan pengembangan program serta penyelenggaraan institusional dan operasional Ma’had Aly, dipandang perlu menetapkan pedoman Ma’had Aly, dipandang perlu menetapkan pedoman penyelenggaraan Ma’had Aly sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Agama Nomor : 284 Tahun 2001.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi;
3. Keputusan Presiden RI Nomor 15 Tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen;
4. Keputusan Menteri Agama Nomor 18 Tahun 1975 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Agama yang telah diubah dan disempurnakan dengan Keputusan Menteri Agama Nomor 75 Tahun 1984;
5. Keputusan Menteri Agama Nomor 44 Tahun 1988 tentang Persyaratan Status Terdaftar, Diakui dan Disamakan Program Strata Satu (S1) Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta;
6. Keputusan Menteri Agama Nomor 53 Tahun 1994 tentang Pedoman Pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta;
7. Keputusan Menteri Agama Nomor 284 Tahun 2001 tentang Ma’had Aly.

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINA KELEMBAGAAN AGAMA ISLAM TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN MA’HAD ALY.

Pertama : Menetapkan Pedoman Penyelenggaraan Ma’had Aly sebagai tindak lanjut dari Keputusan menteri Agama Nomor 284 Tahun 2001;

Kedua : Pedoman penyelenggaraan Ma’hadAly sebagaimana diktum di atas, diuraikan dalam lampiran keputusan ini;
Ketiga : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan : di Jakarta
Pada tanggal : 14 Juni 2001

DIREKTUR JENDERAL

Dr. H. HUSNI RAHIM
NIP. 150060369

Tembusan :
1. Menteri Agama Republik Indonesia;
2. Inspektur Jenderal Departemen Agama;
3. Direktur Jenderal di Lingkungan Departemen Agama;
4. Para Direktur di Lingkungan Ditjen Binbaga Islam;
5. Rektor lAIN Seluruh Indonesia;
6. Koordinator KOPERTIS Seluruh Indonesia;
7. Pimpinan Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta Seluruh Indonesia;
8. Ketua STAIN Seluruh Indonesia;
9. Majelis Ulama Indonesia.

LAMPIRAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN
KELEMBAGAAN AGAMA ISLAM NOMOR: E / 179 / 2001 TENTANG
PEDOMAN PENYELENGGARAAN MA’HAD ALY

Pasal 1
DASAR PEMIKIRAN

Pondok Pesantren diakui sebagai sistem lembaga pendidikan yang memiliki akar sejarah yang panjang di Indonesia dengan ciri-cirinya yang khas. Keberadaannya hingga dewasa ini masih tetap berdiri kokoh di tengah-tengah masyarakat. Hal ini masih menampakkan keaslian, kebhinekaan dan kemandiriannya walaupun usianya setua proses islamisasi di negeri ini. Lebih dari itu pondok pesantren mampu memperlihatkan dinamika perkembangan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
Kondisi obyektif menunjukkan bahwa mayoritas bangsa Indonesia adalah penganut agama Islam, oleh karena itu pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu keislaman merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan dalam kehidpan mayoritas bangsa ini sebagai wahana pengembangan kualitas hidup keberagamannya. Di sinilah posisi pondok pesantren sangat strategis untuk kebutuhan tersebut.
Jumlah santri yang cenderung bertambah tiap tahun, menunjukkan betapa lembaga pendidikan pondok pesantren memerlukan manajernen yang profesional dimana seorang figur pokok selama ini menjadi tumpuannya. Dalam kenyataannya tidak seluruh alumni santri pondok pesantren secara langsung terjun di masyarakat. Para alumni memilih untuk meneruskan tafaqquh fiddin sebagai bekal dirinya, baik dalam rangka peningkatan manajemen pondok pesantren yang profesional maupun peningkatan kualitas keilmuannya.
Ma’had Aly dalam konteks kepesantrenan di Indonesia bisa digolongkan sebagai wacana baru. Ma’had Aly ini merupakan bentuk perwujudan dari kesadaran para ahli pendidikan agama, khususnya yang memperhatikan masalah pesantren, mengenai perlunya penanganan pendidikan secara optimal agar dapat menghasilkan alumni yang profesional dan proaktif terhadap peluang dan tantangan.
Mengantisipasi hal tersebut, maka beberapa pertemuan telah dilaksanakan dengan melibatkan Departernen Agama, para Ulama/Kyai dan beberapa pihak baik secara kelembagaan maupun perseorangan dalam rangka melahirkan suatu wadah studi lebih lanjut bagi para santri. Dari beberapa pertemuan tersebut, diperoleh kesepakatan bahwa lembaga pendidikan yang lebih tepat sebagai wadah studi lanjutan tersebut adalah Ma’had Aly.
Ma’had Aly sebagaimana dimaksudkan di atas berupaya menjadi pusat pengkajian pengembangan ilmu-ilmu keislaman yang tetap memelihara ciri kepesantrenannya dalam menyiapkan peserta didik menjadi anggota dan panutan masyarakat yang memiliki kualifikasi keilmuan agama Islam, serta memiliki komitmen dengan keilmuan tersebut.
Sebagai pedoman dasar penyelenggaraan kegiatan perencanaan dan pengembangan program serta penyelenggaraan institusional dan operasional menuju terwujudnya cita-cita luhur Ma’had Aly, maka berkat rahmat dan hidayah dari Allah SWT disusunlah Pokok-pokok Pedoman Penyelenggaraan Ma’had Aly sebagai berikut

Pasal 2
KETENTUAN UMUM

Dalam Pokok-pokok Pedoman ini yang dimaksudkan dengan :
(1) Ma’had Aly adalah lembaga pendidikan ulama tingkat tinggi sebagai kelanjutan dari pendidikan diniyah tingkat Ulya/Madrasah Aliyah dan atau pendidikan sederajat;
(2) Pokok-pokok Pedoman Penyelenggaraan Ma’had Aly adalah pedoman penyelenggaraan kegiatan yang dipergunakan sebagai acuan untuk merencanakan, mengembangkan program dan menyelenggarakan kegiatan fungsional sesuai dengan tujuan Ma’had Aly.

Pasal 3
DASAR, VISI, MISI, ORIENTASI, TUJUAN, DAN FUNGSI

A. Dasar
Ma’had Aly berdasarkan Islam dan pancasila. Dengan dasar Islam dimaksudkan bahwa Ma’had Aly diadakan, diselenggarakan dan dikembangkan berangkat (point of Departue) dari ajaran Islam, dilaksanakan (Proses Pengelolaannya) secara Islami (syarat-syarat nilai-nilai Islam) dan menuju apa yang diidealkan oleh model pendidikan yang Islami (point of arrival). Dengan ajaran Islam dimaksud sebagai sumber utama dalam penyelenggaraan dan pengembangan Ma’had Aly, sedangkan sumber turunannya adalah karya-karya ulama, Ilmuan, Sejarah, budaya, dan pengalaman bermasyarakat, berbangsa dan benegara yang unik, berharga monumental serta layak (patut) untuk dijadikan sumber penyelenggaraan dan pengembangan Ma’had Aly dengan Dasar Pancasila dimaksud bahwa Ma’had Aly diselenggarakan, dikembangkan dan diamalkan dalam wacana Pancasila sebagai landasan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bagi seluruh warga Indonesia.

B. Visi
Visi Ma’had Aly dalam abad 21 ini adalah menjadi salah satu pusat studi Islam di Indonesia. Diyakini sepenuhnya bahwa budaya, karya-karya ulama, cendekiawan dan ilmuan-ilmuan Muslim Indonesia mampu menjadi sumber kajian Islam mengiringi pusat-pusat kajian Islam dari Timur Tengah, Eropa, Amerika dan negara-negara lain yang juga menyimpan sumber-sumber akademik ajaran Islam.

C. Misi
Seiring dengan visi di atas, maka misi Ma’had Aly adalah pertama-tama mengadakan kajian Islam secara menyeluruh, utuh dan komprehensip atau wholistic agar bangsa dan negara Indonesia mampu menghadapi zamannya atau mampu hidup terhormat dalam tatanan kehidupan internasional modern (global) tanpa kehilangan jati dirinya. Kedua Ma’had Aly mengembangkan IPTEKS (Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni) lengkap pemanfaatannya dalam bingkai ajaran Islam melalui misi kedua ini diharapkan sistem pendidikan pondok pesantren dapat memberikan sumbangan yang substansional dan konstruktif bagi bangsa dan negara Indonesia yang secara terus-menerus mencari penyempurnaan sistem Pendidikan Nasional.
D. Orientasi
Seiring dengan tantangan kehidupan dalam era globalisasi dengan persaingan yang keras dan dinamika kehidupan yang tinggi, maka Orientasi Ma’had Aly dalam abad 21 ini tidak dapat lain kecuali harus berorietasi pada mutu, kebenaran dan kebaikan bagi seluruh kepentingan bangsa dan negara sebagai konsekuensi logis bahwa Islam adalah untuk semua. Rahmatan lil alamin. Orientasi ini dimaksudkan untuk mengatasi kecenderungan akhir-akhir ini dimana nilai-nilai kemanusiaan bangsa Indonesia terasa sangat terpuruk dan jauh dari nilai-nilai Islam.

E. Tujuan
Pertama, Ma’had Aly mengantar santri menjadi ulama yang memiliki sifat-sifat kepemimpinan ideal sebagaimana dicontohkan Rasulullah; Shidiq, amanah, tabligh dan fathonah yang diimplementasikan dalam karakter ulama. Disadari sepenuhnya bahwa keempat sifat kepemimpinan ideal tersebut, mungkin hanya dapat dicapai Rasulullah secara sempurna. Namun Ma’had Aly harus terus-menerus mendorong santrinya menuju kearah sifat-sifat tersebut. Kedua Ma’had Aly mengantar santri menjadi cendekiawan dan ilmuan yang memiliki kemauan dan kemampuan profesional, terbuka, bertanggung jawab, berdedikasi dan peduli terhadap bangsa dan negara, serta berpandangan bahwa Islam adalah Rahmatan Lil Alamin.

F. Fungsi
Sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi, maka fungsi Ma’had Aly adalah :
(1) Melaksanakan Tri Dharma Pendidikan Tinggi yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
(2) Menjadi agen modernisasi bangsa dan negara dalam wadah masyarakat madani atau civil society.

Pasal 4
ORGANISASI MA’HAD ALY

(1) Ma’had Aly diselenggarakan oleh pondok pesantren.
(2) Ma’had Aly dipimpin oleh seorang mudir.
(3) Mudir dibantu oleh majelis syuro yang beranggotakan para mursyid dan berfungsi sebagai Dewan Pertimbangan yang ditetapkan oleh penyelenggara Ma’had Aly.
(4) Tenaga pengajar pada Ma’had Aly disebut mursyid.
(5) Peserta didik pada Ma’had Aly disebut santri.
(6) Majelis Ma’had Aly adalah dewan nasional yang dipimpin oleh seorang ulama senior yang beranggotakan beberapa orang Ulama, Mursyid dan pakar yang ditetapkan oleh Menteri Agama dengan tugas-tugas pokok memberi pertimbangan kelayakan pendirian Ma’had Aly kepada Menteri Agama.
(7) Menteri Agama rnenetapkan pendirian Ma’had Aly.

Pasal 5
JENIS, JENJANG DAN POLA PENDIDIKAN

(1) Jenis pendidikan dan pengajaran pada Ma’had Aly adalah pendidikan akademi dan pendidikan profesional.
(2) Jenjang pendidikan dan pengajaran Ma’had Aly adalah:
Ma’had Aly Marhalah Ula.
Ma’had Aly Marhalah Wustha
Ma’had Aly Marhalah Ulya.
(3) Pola pendidikan dan pengajaran Ma’had Aly dapat bersifat formal maupun non formal yang diselenggarakan melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan.

Pasal 6
KURIKULUM

(1) Kurikulum Ma’had Aly adalah seperangkat rencana pendidikan yang berisi cita-cita pendidikan yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar pada Ma’had Aly.
(2) Penyusunan Kurikulum Ma’had Aly merupakan hak otonomi masing-masing Ma’had Aly yang dilakukan dengan tetap memelihara ciri kepesantrenannya serta mampu mengantisipasi perkembangan masyarakat, tuntunan ilmu pengetahuan dan perkembangan kehidupan beragama.

Pasal 7
KEBEBASAN AKADEMI DAN OTONOMI KEILMUAN

(1) Kebebasan akademi merupakan kebebasan yang dimiliki oleh civitas akademi Ma’had Aly untuk secara mandiri bertanggung jawab dan bermoral dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran dalam Ma’had Aly yang terkait dengan penggalian, pemahaman dan ilmu-ilmu keislaman (Bernilai Islam);
(2) Otonomi keilmuan adalah kegiatan keilmuan yang berpedoman pada norma dan kaidah agama serta ilmu pengetahuan yang mencakup keterbukaan, bertanggungjawab, kesepenuhhatian, dan rahmat bagi semesta alam yang harus ditaati oleh civitas akademika Ma’had Aly.

Pasal 8
PEMBIAYAAN DAN OTONOMI PENGELOLAAN

(1) Keuangan Ma’had Aly diperoleh dari sumber keuangan mandiri, masyarakat pemerintah dan lembaga-lembaga lain, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
(2) Pengelolaan dana Ma’had Aly diatur sesuai dengan peraturan serta kesepakatan yang ditetapkan oleh penyelenggara Ma’had Aly.

Pasal 9
PENYELENGGARAAN MA’HAD ALY

(1) Semua peraturan yang berlaku di wilayah Indonesia tetap berlaku sebagai dasar pijakan peraturan-peraturan yang ditetapkan Pokok-Pokok Pedoman;
(2) Semua peraturan, norma-norma yang berlaku di pesantren masih tetap berlaku sejauh tidak bertentangan dengan kaidah yang ditetapkan dalam Pokok-pokok Pedoman

Pasal 10
PENUTUP

Perubahan Pokok-pokok penyelenggaraan Ma’had Aly ini hanya dapat dilakukan setelah mendapat pertimbangan dari majelis Ma’had Aly.

Jakarta, 14 Juni 2001

Dr. H. HUSNI RAHIM
NIP. 150060369

Daftar Pondok Pesantren Penyelenggara Ma’had Aly

1. PP. Thawalib Parabek Sumatera Barat
2. PP. Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon Jawa Barat
3. PP. Darussalam Ciamis Jawa Barat
4. PP. Tegairejo Magelang Jawa Tengah
5. PP. Maslakul Huda Ien Pati Jawa Tengah
6. PP. al-Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap Jawa Tengah
7. PP. al-Hikmah Benda Sirampog Brebes Jawa Tengab
8. PP. A1-Mukmin Ngruki Solo Jawa Tengah
9. PP. al-Munawwir Krapyak Yogyakarta
10. PP. al-Muhsin Aji Mahasiswa Krapyak Yogyakarta
11. PP. Salafi’iyyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur
12. PP. Mambaul Ulum Denanyar Jombang Jawa Timur
13. PP. Sidogiri Pasuruan.Jawa Timur
14. PP. Hidayatul Mubtadi’en Lirboyo Kediri Jawa Timur
15. PP. Mahasiswa STAIN Malang Jawa Timur
16. PP. al-Amin Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur
17. PP. al-Ishlahuddiny Kediri Lombok Barat NTB
18. PP. Nurul Hakim Kediri Lombok Barat NTB
19. PP. As adiyah Sengkang Wajo Sulawesi Selatan
20. PP. DDI Mangkoso Sulawesi Selatan

]]>
http://www.alkhoirot.com/mahad-aly-al-khoirot-malang/feed/ 0
Tahfidz Al-Quran PP Al-Khoirot http://www.alkhoirot.com/program-tahfidzul-quran-pp-al-khoirot/ http://www.alkhoirot.com/program-tahfidzul-quran-pp-al-khoirot/#comments Wed, 17 Apr 2013 11:57:22 +0000 http://www.alkhoirot.com/?p=800 Alkhoirot.net, Malang. Pada masa-masa mendatang, tampaknya akan banyak kalangan huffadz (orang yang hafal Al-Quran) yang berasal dari Ponpes Al-Khoirot Malang. Pasalnya, pesantren ini akan membuka program Tahfidzul Quran. Kebenaran berita itu dikonfirmasi oleh KH. Muhammad Hamidurrohman salah satu Dewan Pengasuh PP Al-Khoirot (PPA) Malang yang menjadi koordinator program ini.

“Benar. Sejak tahun ajaran 2012-2013, PPA akan menyelenggarakan program baru yaitu menghafal Kitab Suci Al-Quran untuk santri putra dan putri.” katanya.

Dan ternyata program baru ini mendapat sambutan yang di luar dugaan dari para santri. Sejak pendaftaran pertama dibuka, tak kurang dari 30-an santri mengajukan permohonan untuk mengikuti program ini.

Husain, salah satu santri yang terdaftar dalam program ini menulis dalam blognya tentang betapa pentingnya tahfidz baik dari segi keutamaannya dan antusiasnya kalangan santri dan wali santri atas program ini.

Menutip sebuah hadits, Husain mengatakan fadilah menghafal Al-Quran yang antara lain sebagai berikut:

Hifzhul Qur’an merupakan nikmat rabbani yang datang dari Allah
Bahkan Allah membolehkan seseorang memiliki rasa iri terhadap para ahlul Qur’an,
“Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, ‘Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat’” (HR. Bukhari)

Bahkan nikmat mampu menghafal Al Qur’an sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak mendapatkan wahyu,
“Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Qur’an, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan kepadanya.” (HR. Hakim)

Adanya program tahfidzul Quran juga dianggap perlu oleh Imam Syahrowardi. Dalam blognya dia mengatakan, “menurut saya pribadi perlu. Hal tersebut untuk menambah program pesantren dan persiapan apabila ada wali santri atau simpatisan, yang akan memondokkan anaknya hanya untuk menghafal Al-Qur’an.”

Kendati demikian, KH M. Hamidurrohman menegaskan bahwa program tahfidz adalah program tambahan. Artinya, “Santri tetap wajib mengikuti program utama seperti pendidikan formal dan diniyah serta pengajian kitab.”

Program tahfidzul Quran untuk santri putri sudah dimulai sejak bulan Maret 2012. Sedangkan untuk santri putra akan mulai aktif pada hari Senin (malam Selasa) 14 Mei 2012. Program ini akan diasuh oleh Sayyid Husain bin Syihab dari Brongkal, Pagelaran, Malang.

Beberapa fadhilah hafal Al-Quran antara lain:

1.MEREKA ADALAH KELUARGA ALLAH SWT.

Sabda Rasulullah s.a.w:

“Daripada Anas ra. Ia berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda, “Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri daripada manusia.” Kemudian Anas berkata lagi, lalu Rasulullah s.a.w bertanya: “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah. Baginda menjawab: “Iaitu ahli Quran (orang yang membaca atau menghafal Al- Quran dan mengamalkan isinya).Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.

2.DI TEMPATKAN SYURGA YANG PALING TINGGI

Sabda rasulullah s.a.w:
“Daripada Abdullah Bin Amr Bin Al Ash ra dari nabi s.a.w, baginda bersabda; Diakhirat nanti para ahli Al Quran di perintahkan, “Bacalah dan naiklah kesyurga. Dan bacalah Al Quran dengan tartil seperti engkau membacanya dengan tartil pada waktu di dunia. Tempat tinggal mu di syurga berdasarkan ayat paling akhir yang engkau baca.”

3.AHLI AL QURAN ADALAH ORANG YANG ARIF DI SYURGA

Sabda rasulullah s.a.w “Daripada Anas ra. Bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda; “Para pembaca Al Quran itu adalah orang-orang yang arif di antara penghuni syurga,”[]

]]>
http://www.alkhoirot.com/program-tahfidzul-quran-pp-al-khoirot/feed/ 0