Profil

Profil Pengasuh Pesantren Al-Khoirot

Profil dan biografi singkat pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang Jawa Timur. Di pesantren di Jawa, pendiri sebuah pesantren umumnya adalah sekaligus pengasuh atau figur utama dari pesantren tersebut. Karena, bagi seorang kyai, pesantren adalah tempat untuk mengabdikan ilmu yang dimiliki dan dipelajari untuk didedikasikan kepada generasi muda Islam yang memiliki aspirasi dan cita-cita yang sama dalam hidup. Yaitu, mencapai kebaikan dunia dan akhirat.

DAFTAR ISI

  1. Pendiri Pesantren
    1. KH. M. Syuhud Zayyadi
    2. Nyai Hj. Masluha Muzakki
  2. Pengasuh Pesantren
    1. Dewan Pengasuh Harian
      1. Dewan Pengasuh Harian Putra
      2. Dewan Pengasuh Harian Putri
    2. Dewan Pengasuh Konsultatif
  3. Profil Pengasuh Putra
    1. KH. Syuhud Zayyadi
    2. KH. Zainal Ali Suyuthi
    3. A. Fatih Syuhud
    4. KH. Ja’far Shodiq Syuhud
    5. KH. M. Hamidurrohman Syuhud
    6. KH. M. Humaidi Syuhud
  4. Pengasuh yang Wafat
  5. Masyayikh Pengasuh
    1. Sayid Amin Al-Kutbi
    2. Sayid Alawi Al-Maliki
    3. Sayid Muhammad bin Alawi Al-Maliki
    4. Sayid Abu Hasan Nadwi
    5. Sayid Rabey Hasani Nadwi


PENDIRIAN DAN KRONIKA PESANTREN

Pondok Pesantren Al-Khoirot didirikan oleh KH. Syuhud Zayyadi pada 1963. Beliau merupakan bagian dari keluarga besar Bany Itsbat (Bani Isbat) dengan silsilah nasab sampai ke salah satu Walisongo (Sunan Drajad / Sunan Ampel / Sunan Giri).

PPA awalnya merupakan lembaga pengajaran Islam dengan format salaf (tradisional) murni dengan sistem pengajian sorogan dan wethonan / bandongan. Pada tahun 1966, madrasah diniyah (madin) Annasyiatul Jadidah didirikan. Madin ini menitikberatkan pada pendidikan ilmu agama dengan sistem klasikal dari kelas 1 sampai kelas 6 ibtidaiyah. Pada tahun 1977, madrasah tsanawiyah mulai dirintis oleh Kyai Syuhud, Namun sekolah ini hanya bertahan kurang dari setahun karena terkendala oleh banyak hal.

Pada tahun 2009, sekolah formal kembali didirikan tidak hanya MTS (Madrasah Tsanawiyah) tapi juga MA (Madrasah Aliyah) dengan nama MTS dan MA Al-Khoirot. MTS dan MA Al-Khoirot mendapat sambutan cukup baik dari masyarakat baik di lingkungan sekitar maupun dari kawasan lain di Indonesia baik dari dalam Pulau Jawa maupun dari luar Jawa.

Keunikan dari MTs dan MA Al-Khoirot adalah siswanya diwajibkan belajar di dalam pondok pesantren. Tidak boleh sekolah dari luar. Begitu juga sebaliknya, santri harus menjadi siswa MTS dan MA kecuali bagi yang sudah lulus SLTA atau mau memfokuskan diri pada program Tahfidz Al-Quran. Intinya, santri harus menjadi siswa dan siswa harus menjadi santri. Sehingga peserta didik betul-betul mengalami transformasi total baik dalam keilmuan maupun perilaku ketika mereka lulus dari MTS MA, maka mereka juga diharapkan lulus dari Madrasah Diniyah Pesantren Al-Khoirot.

Pada tahun 2012, PPA membuka program baru menghafal Al-Quran (Tahfidzul Quran) dengan tujuan untuk menciptakan generasi muda yang Qurani tidak hanya dalam keilmuan tapi juga dalam perilaku.

Untuk sejarah Pesantren Al-Khoirot baca detail: Sejarah Pesantren Al-Khoirot


PENGASUH PESANTREN

Pengasuh menduduki posisi tertinggi dalam hirarki kepemimpinan sebuah pesantren di Jawa, termasuk di PPA. Pengasuh pertama Pondok Pesantren Al-Khoirot (PPA) adalah KH. Syuhud Zayyadi sendiri. Setelah beliau wafat pada tahun 1993, pimpinan pesantren dipegang secara kolektif oleh putra dan menantu beliau di bawah nama Dewan Pengasuh. Dewan Pengasuh terbagi menjadi Dewan Pengasuh Harian dan Dewan Pengasuh Konsultatif.

Dewan Pengasuh harian adalah para pimpinan pesantren yang secara fisikal berada di lingkungan PPA dan terlibat langsung dalam urusan keseharian pesantren. Sedang Dewan Pengasuh Konsultatif adalah pimpinan pesantren yang, karena satu dan lain hal, secara fisik berada jauh di luar lingkungan PPA dan karena itu tidak terlibat langsung dalam aktivitas keseharian dan pengambilan keputusan pesantren. Namun demikian, Dewan Pengasuh Konsultatif tetap diminta konsultasinya dalam pengambilan keputusan yang dianggap sangat penting dan besar.


DEWAN PENGASUH HARIAN

Dewan pengasuh atau Board of Directors adalah pimpinan tertinggi dan bertanggung jawab atas pengelolaan pesantren sehari-hari. Posisi Dewan Pengasuh bersifat kolektif kolegial. Artinya, semua pengasuh memiliki kekuasaan yang relatif sama sehingga satu orang pengasuh tidak dapat mengambil suatu keputusan tanpa persetujuan dewan pengasuh yang lain.


DEWAN PENGASUH HARIAN PUTRA

Berikut Dewan Pengasuh harian putra yang bertanggung jawab dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan aktivitas harian seluruh lembaga yang berada di bawah Pondok Pesantren Al-Khoirot khususnya santri putra:

  1. A. Fatih Syuhud
  2. KH. Ja’far Syuhud
  3. KH. Hamidurrohman Syuhud
  4. KH. Humaidi Syuhud
  5. Ustadz Ahmad Faisol


DEWAN PENGASUH HARIAN PUTRI

Berikut Dewan Pengasuh harian putri yang bertanggung jawab dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan aktivitas harian seluruh lembaga yang berada di bawah Pondok Pesantren Al-Khoirot putri:

  1. Ny. Hj. Luthfiyah Syuhud
  2. Ny. Hj. Juwairiyah Syamsul Arifin
  3. Ny. Lutfiyatur Rohmah Karim
  4. Ny. Chusnia Khoirotus Saadah
  5. Ny. Malikatun Nufus Baidhowi

Pengasuh Pesantren Putri Al-Khoirot


DEWAN PENGASUH KONSULTATIF

Seperti disinggung di muka, Dewan Pengasuh Konsultatif adalah para pimpinan pesantren yang tidak terlibat secara langsung dalam aktivitas keseharian pesantren Al-Khoirot.

  1. KH. Zuhri Zaini dan Ny. Hj. Bisyaroh Syuhud  – Pengasuh Ponpes Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.
  2. KH. Amin Hasan Syuhud (1958 – 8 Desember 2015) –  mantan Dewan Pengasuh Ponpes Bata-bata Pamekasan Madura
  3. KH. Afif Thoha dan Ny. Hj. Faizah Syuhud Pengasuh Ponpes Al Falah Sumbergayam, Pamekasan, Madura
  4. KH. Baidhawi Khozin dan Ny. Hj. Khotimah Husna Syuhud Pamekasan, Madura
  5. Ustadz Mochammad Iqbal Ali


PROFIL PENGASUH

KH. M. SYUHUD ZAYYADI

Kyai Syuhud Zayyadi

Kyai Syuhud Zayyadi (1930 – 1993)

Pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Al-Khoirot ini belajar ilmu agama sejak kecil. Guru ngaji pertamanya adalah ayah beliau sendiri yaitu Kyai Zayyadi yang juga pengasuh pesantren Madukawan, Pamekasan Madura. Setelah itu beliau belajar di sejumlah pesantren baik di dalam maupun luar negeri. Guru-guru beliau antara lain:

  1. Sayid Amin Al-Kutbi Makkah Al-Mukarramah Arab Saudi
  2. Syed Alwi Al-Maliki Makkah Al-Mukarramah Arab Saudi
  3. KH. Zayyadi, Pondok Pesantren Madukawan, Pamekasan Madura yang juga ayah kandung beliau.
  4. KH. Thoha Pondok Pesantren Al-Falah Sumbergayam Pamekasan Madura
  5. KH. Abdul Madjid Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-bata Pamekasan yang juga paman beliau
  6. KH. Imron Kholil Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan Madura.

Profil Kyai Haji (KH) Muhammad Syuhud Zayyadi pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot Karangsuko, Pagelaran (Gondanglegi), Malang, Jawa Timur.

Saat kecil, beliau belajar ilmu agama pada ayah dan ibunya sendiri yaitu KH. Zayyadi dan Nyai Hj. Salmah. Setelah remaja beliau belajar di pesantren Bata-bata yang diasuh oleh pamannya sendiri yaitu KH. Abdul Majid bin Abdul Hamid bin Itsbat . Setelah itu beliau meneruskan nyantri ke Pondok Pesantren Saikhona Kholil Bangkalan yang saat itu diasuh oleh KH. Imron Kholil, sebelum kemudian meneruskan mengaji ke Makkah Al Mukarromah. Di Makkah beliau berguru pada beberapa masyayikh ternama yang terutama adalah Sayyid Amin Al-Kutbi dan Sayyid Alwi Al-Maliki ayah dari Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki.

Lima tahun berada di Makkah beliau pulang dan menikah dengan Ny. Hj. Masluhah Muzakki Gondanglegi, Malang. Tidak lama kemudian pada 1963 beliau pindah ke desa Karangsuko kecamatan Gondanglegi dan mendirikan pesantren yang diberi nama Pondok Pesantren Al-Khoirot.

Pada 1993 KH. Syuhud Zayyadi meninggal dunia dan pimpinan pesantren diteruskan oleh menantunya yaitu KH. Zainal Ali Suyuthi yang masih ada hubungan keponakan misan (ayah KH. Zainal Ali ada hubungan kerabat sepupu [Jawa: misanan] dengan KH. Syuhud.

SHOLAWAT AL-KHOIROT

Berikut syair pujian yang sebagian ditulis oleh Kyai Syuhud sedangkan sebagian yang lain ditulis oleh guru-guru beliau di Makkah yaitu Sayid Amin al-Kutbi dan Sayid Alawi Al-Maliki. :

Download versi pdf di sini.

NYAI HJ. MASLUHA MUZAKKI (1943-1997)

Nyai Masluha Muzakki

Nyai Masluha Muzakki

Nyai Hajjah Masluha Muzakki adalah pendiri sekaligus pengasuh pesantren Putri Al-Khoirot sejak pertama kali didirikan pada 1964 sampai wafatnya pada 1997.

Ny. Hj. Masluha Muzakki adalah anak kedua di antara 9 bersaudara dari pasangan KH. Muzakki dan Ny. Hj. Saudah yang beralamat di Jalan Murcoyo 180 Gondanglegi Malang. Setelah menikah dengan Kyai Syuhud pada sekitar 1959, pada tahun 1963 Nyai Masluha pindah ke desa Karangsuko kecamatan Gondanglegi mengikuti Kyai Syuhud yang hendak mendirikan dan merintis pesantren. Pada 1964, setahun setelah Kyai Syuhud mendirikan pesantren Al-Khoirot putra, Nyai Masluha mendirikan pesantren putri Al-Khoirot dengan santri pertama bernama Shofiah dari desa Brongkal.

Antara tahun 1964 sampai 1969, manhaj pendidikan di pesantren putri Al-Khoirot masih murni bersistem pesantren salaf non-klasikal yakni pengajian kitab kuning sorogan dan wetonan serta pembelajaran Al-Quran yang dilaksanakan di musholla. Dalam tahap awal ini, tenaga pengajarnya hanyalah beliau sendiri baik mengajar kitab kuning maupun Al-Quran. Beberapa tahun setelah itu, santri senior yang sudah lulus kemudian membantu menjadi pengajar di pesantren putri.

Pada 1970, Ny. Masluha mendirikan madrasah diniyah (madin) putri. Dengan adanya madin putri, maka aktivitas belajar para santri putri menjadi lebih optimal. Karena, dengan adanya sistem kelas, maka hasil pembelajaran peserta didik menjadi lebih maksimal sebab dikelompokkan berdasarkan pada kemampuannya. Saat ini, mata pelajaran yang dikaji mayoritas ilmu agama dicampur sedikit ilmu umum yang penting yaitu matematika dan bahasa Indonesia. Tenaga pengajarnya selain Nyai Masluha sendiri juga dibantu oleh para santri senior yang sudah lulus dari proses pengkaderan tahap pertama. Semua guru adalah perempuan.

Pada 1997, Ny. Masluha wafat dalam usia sekitar 55. Ia meninggalkan 5 putra dan 4 putri yang 4 di antaranya sudah menikah. Sedangkan lima yang lain masih menempuh studi di beberapa lembaga pendidikan dalam dan luar negeri.

Kepemimpinan pesantren diteruskan oleh putrinya yang ketiga yaitu Ny. Hj. Luthfiyah Syuhud sampai sekarang (2016). Sejak 2005, kepemimpinan pesantren putri selain dipegang oleh Ny. Hj. Luthfiyah Syuhud juga dibantu oleh empat adik-adik iparnya yaitu Ny. Hj. Juwairiyah Arifin, Ny. Chusnia Khoirotussaadah Kamal, Ny. Lutfiyah Karim dan Ny. Malikatun Nufus Baidowi.

Sabar dan Tawadhu

Nyai Masluha adalah sosok pribadi yang sabar, pekerja keras, ibu rumah tangga yang taat suami, pemimpin bijaksana dan rendah hati.


KH. ZAINAL ALI SUYUTHI

Kyai Zainal Ali Suyuthi

KH. Zainal Ali Suyuthi (1960 – 2011)

KH. Zainal Ali Suyuthi adalah pengasuh kedua Pondok Pesantren Al-Khoirot. Beliau adalah mantu dari KH. Syuhud Zayyadi dan menjadi pengasuh pesantren setelah KH. Syuhud Zayyadi wafat pada tahun 1993. Guru-guru beliau adalah sebagai berikut:

  1. KH. Baqir Abdul Hamid bin KH. Abdul Majid Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar
  2. KH. Muhammad Syamsul Arifin Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar
  3. Syed Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Makkah Al-Mukarramah
  4. Syekh Ismail Al-Yamani, Makkah Al-Mukarramah
  5. Syekh Al-Harawi, Jeddah, Arab Saudi

In Memoriam KH Zainal Ali Suyuthi
Oleh: A. Fatih Syuhud

Mengenang KH Zainal Ali Suyuthi, Pengasuh Ponpes Al-Khoirot 1993- April 2011
Oleh A. Fatih Syuhud

Tulisan ini juga dimuat di Buletin Al-Khoirot Edisi April 2011

Saya kira setiap muslim menyadari betul arti Al Quran Surah Ali Imran (3) ayat 185 yang menyebutkan bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan mati Atau makna dari Surah An Nisa’ (4) ayat 78 yang menegaskan bahwa, “Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh.” Namun, manusia tetaplah makhluk Allah yang terdiri dari akal dan rasa.

Akal pikiran kami merelakan kepergian beliau dengan keikhlasan penuh. Hal ini berdasarkan keimanan pada Allah dan kepatuhan pada kehendakNya yang berhak mengambil jiwa manusia kapanpun Dia kehendaki (QS Yunus 10:49) . Namun, rasa tidak dapat berbohong. Rasa yang mengendalikan emosi kami merasa sulit berkompromi dengan akal. untuk merelakan begitu saja kepergian beliau dari dunai ini untuk selamanya. Dan itu terbukti saat keluarga besar Al-Khoirot—anak istri, saudara, santri dan jama’ah– menangisi kepergian beliau yang terlalu cepat. Sampai-sampai istri beliau, Ny. Hj. Lutfiyah Syuhud, terus menggumamkan ucapan, “Ya Allah, relakan kami melepas kepergiannya” secara berulang-ulang dengan linangan air mata.

Menangisi yang meninggal adalah manusiawi. Rasulullah sendiri menangis saat putra beliau Ibrahim meninggal. Dalam Islam, yang tidak dibolehkan adalah meratap. Karena meratapi orang yang meninggal identik dengan ketidakrelaan atas kehendak Allah.

Di sisi lain, banyaknya orang yang menangis saat meninggalnya Kak Ali, begitu biasanya saya memanggil beliau, adalah bukti betapai banyak orang yang mencintai, menghormati dan menyayangi belau. Tangisan atau tidak adanya tangisan merupakan salah satu bukti dari seberapa seseorang itu disayang atau dibenci semasa ia masih hidup.

Figur Sederhana

Kak Ali merupakan sosok figur yang sederhana dalam banyak hal. Dan karena kesederhanaannya itulah ia memiliki banyak teman dan hampir tidak punya musuh. Kesederhanaan dalam sikap identik dengan perilaku tawadhu’ dan selalu mengalah serta tidak pernah memaksakan kehendaknya walaupun itu dianggapnya baik.

Kesederhanaan dalam gaya hidup (life-sytle) sangat tampak dalam cara beliau berpakaian. Beliau jarang membeli baju baru kalau yang ada masih dianggap baik. Pada saat saya kembali dari India pada Maret 2007, saya menghadiahi belaiu sebuah kaos t-shirt bertuliskan Delhi University. Kaos t-shirt itu saya lihat masih sering belaiau pakai sampai beberapa hari sebelum beliau wafat yang berarti beliau memakai kaos yang sama selama 5 tahun.

Kesederhanaannya dalam gaya hidup bukan berarti belau tidak mampu secara ekonomi. Belaiu adalah seorang pekerja keras dan memiliki naluri wiraswasta yang baik. Oleh karena itu belaiu bukanlah seorang yang kekurangan secara ekonomi. Kecukupan secara ekonomi dan pola hidup yang sederhana membuat beliau dikenal sebagai orang yang dermawan. Para fakir miskin yang datang meminta bantuan selalu pulang dengan senyuman. Begitu juga, beliau adalah orang pertama mengeluarkan dana untuk pembangunan pesantren Al-Khoirot sebelum meminta bantuan pada orang lain.

Melayani Umat

Selain pekerja keras dalam membina usaha, beliau juga dikenal sangat rajin dalam berda’wah. Dengan majlis dzikir Kalimatut Tauhid-nya beliau rajin berkeliling dari kampung ke kampung di seputar kabupaten Malang dan Lumajang untuk menyebarkan da’wah pada umat. Bahkan, sehari sebelum meninggal beliau masih sempat menghadiri majlis dzikir dan pengajian di desa Gesing, Dampit.

Selain itu, beliau juga dikenal sangat rajin bersilaturrahmi. Baik itu dalam bentuk menghadiri undangan pengajian, undangan perkawinan, silaturrahmi biasa maupun takziyah pada orang yang meninggal. Beliau juga dikenal sebagai pribadi yang tidak pernah memilih-milih status sosial yang akan dikunjungi. Bagi beliau mengunjungi rakyat biasa sama berharganya dengan mengunjungi ulama atau pejabat.

Kombinasi dari kerajinan beliau bersilaturrahmi dan sikap yang tawadhu’ itulah saya kira yang membuat beliau memiliki banyak teman daripada musuh. Dan karena itu, jauh lebih banyak yang menangisi kepergian beliau daripada yang “menertawai” (kalau itu ada).

Pengabdian Kak Ali pada ilmu, santri dan pesantren tentu tidak diragukan lagi. Beliau dikenal istiqamah dalam mengajar. Bahkan, mendidik santri adalah tugas utama yang sangat beliau prioritaskan dibanding tugas da’wah di luar. Sebagai pengasuh utama di pondok pesantren Al-Khoirot, beliau menerima tanggung jawab itu sebagai amanah yang dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.

Kepedulian Kak Ali akan kondisi moral umat yang semakin terdegradasi memotivasi beliau mendirikan FSPS (Forum Silaturrahmi Peduli Syariah) pada tahun 1998 sebagai wahana kerja sama ulama dan masyarakat dan aparat penegak hukum dalam menjaga dan meningkatkan stabilitas moral dan sosial umat. Gerakan ini mendapat apresiasi banyak pihak karena memiliki cara-cara efektif non-kekerasan dan non-anarkis dalam mengimplementasikan program-programnya. Pada 2008 forum ini berganti nama menjadi FPS (Forum Peduli Syariah).

***

Masih sangat banyak hal yang ingin dilakukan dan akan terus dilakukan Kak Ali ke depan baik yang berkaitan dengan pesantren Al-Khoirot secara khusus maupun perjuangan menegakkan syariah dan pemberdayaan umat secara umum. Namun, Allah berkehendak lain. Pada hari Selasa 5 April 2011 bertepatan dengan 1 Jumadil Ula 1433, beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir pada sekitar jam 06.30 pagi dalam perjalanan dari RSI Gondanglegi menuju RSI Aisyiah Malang dalam usia 51 tahun (1960-2011).

Banyak orang berpendapat bahwa beliau wafat terlalu muda. Dengan kata lain, umur Kak Ali terlalu pendek. Bagi saya, umur panjang atau pendek bukan terletak pada berapa usia kita saat meninggal. Ukuran usia pendek dan panjang itu terletak pada seberapa banyak amal baik yang telah kita lakukan selama masa kita hidup. Baik amal untuk diri sendiri maupun amal baik yang bermanfaat pada orang lain. Dalam konteks ini, Kak Ali telah mendapat anugerah umur yang sangat panjang mengingat begitu banyak amal baik yang telah beliau lakukan.

Semoga Allah menerima semua amal baik beliau dan memaafkan semua kesalahan beliau. Dan yang tak kalah penting, semoga kita yang masih hidup dapat meneladani dan terinspirasi oleh sepak terjang beliau khususnya dalam soal keikhlasan, kerendah-hatian, kedermawanan, dan kesederhanaan. Amin.

Mengenang KH. M. Amin Hasan Syuhud (1958 – 8 Desember 2015)
KH. M. Amin Hasan Syuhud
Pada jam 03.00 hari Selasa 8 Desember 2015 bertepatan dengan 26 Shafar 1437 H., Kyai Muhammad Amin Hasan Syuhud meninggal dunia dalam usia 57 tahun. Beliau meninggal di Pamekasan, Madura tempat ia tinggal bersama istri dan kesembilan putranya.

KH. M. Amin Hasan adalah putra pertama dari pasangan KHM. Syuhud Zayyadi dan Ny. Hj. Masluhah Muzakki. Ia lahir di Jalan Murcoyo 180 Gondanglegi, Malang. Pada saat itu, Kyai Syuhud masih tinggal di Gondanglegi bersama Ny. Hj. Masluhah. Baru pada tahun 1963, Kyai Syuhud pindah ke Karangsuko dan mendirikan pesantren Al-Khoirot putra.

Pendidikan

Seperti umumnya para putra Kyai Syuhud, pendidikan pertama Amin Hasan kecil adalah di rumah. Ia belajar mengaji Quran pada ibu dan ayah. Pada saat Sekolah Dasar di pagi hari, ia juga pada siang harinya sampai sore belajar di Madrasah Diniyah Al-Khoirot dan lulus bersamaan dengan lulusnya pendidikannya di Sekolah Dasar. Selama dalam jenjang pendidikan dasar ini, ia juga belajar ilmu dasar bahasa Arab (Nahwu dan Sharat) dan fiqih dasar pada ayahnya.

Setelah lulus SD, Amin muda melanjutkan pendidikan ke SMP (Sekolah Menengah Pertama) negeri Kepanjen dan dilanjutkan ke SMA Negeri di Malang mengambil jurusan IPA. Konon, rencana Kyai Syuhud setelah lulus dari SMA akan dilanjutkan ke AKABRI. Selama menempuh studi di SMP dan SMA, ia tak lupa menyempatkan waktu untuk terus menghafal Al-Quran.

Namun takdir menentukan lain, Amin muda kemudian tidak jadi melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi dan berputar haluan mengambil jurusan agama ke Makkah Al-Mukarromah. Salah satu sebabnya adalah karena saat itu ia menjadi calon menantu dari KH.Ahmad Mahfudz, pengasuh Pondok Pesantren Bata-bata.

Studi Agama di Makkah

Selama sekitar 5 tahun berada di Makkah, ia belajar pada beberapa masyayikh Ahlussunnah yang ada di Makkah seperti Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Syaikh Ismail Al-Yamani dan beberapa masyayikh di Ma’had Sholatiyah.

Beliau dikenal sangat tekun dan fokus dalam belajar sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama ia menguasai hampir semua ilmu agama tingkat lanjut terutama tafsir dan hadits-hadits.

Menikah dan Tinggal di Madura

Setelah 5 tahun berada di Makkah, ia kembali ke tempat kelahirannya di Ponpes Al-Khoirot Malang sebelum akhirnya menetap di Akor, Pamekasan Madura bersama istri dan putra-putrinya dan menjadi keluarga besar Pesantren Bata-bata Pamekasan.

Pengabdian

Kyai Amin Hasan dikenal sebagai sosok yang sangat komitmen pada agama dan keilmuan. Pada tahun-tahun awal di Pamekasan, ia mengajar kitab di Pesantren Bata-bata dan menjadi dosen di Sekolah Tinggi Al-Khairat, Pamekasan. Selain itu, ia juga pernah aktif sebagai anggota MUI Pamekasan.

Secara berkala ia juga ikut aktif pada gerakan Jamaah Tabligh (JT) dan melakukan khuruj (keluar) ke beberapa tempat di Indonesia.

Walaupun ia lebih banyak aktif di Madura, namun ia tetap berstatus sebagai salah satu Dewan Pengasuh Konsultatif Pondok Pesantren Al-Khoirot. Dan untuk ini ia secara berkala berkunjung ke Al-Khoirot untuk melihat dinamika dan memberi saran dan nasihat berharga.

Sosok Sederhana dan Tak Cinta Dunia

Menurut Kyai Zuhri Zaini, pengasuh Ponpes Nurul Jadid Paiton, yang memberi sambutan terakhir pada saat pemakaman, Kyai Amin dikenal sebagai sosok yang sederhana yang tidak cinta dunia dan bahkan seperti tidak terpikir untuk mencari harta. Hari-harinya disibukkan untuk belajar, mengajar dan berdiskusi dengan sesama ulama Madura dan berdakwah melalui JT.

Pada hari Selasa, 8 Desember 2015, Kiai Amin Hasan menghembuskan napasnya yang terakhir menemui Rabb-nya meninggalkan 9 putra-putrinya sementara istrinya sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga semua amalnya diterima di sisi Allah. Amin.

A. FATIH SYUHUD

Ahmad Fatih Syuhud

Ahmad Fatih Syuhud


Ahmad Fatih Syuhud adalah salah satu Dewan Pengasuh Ponpes Al-Khoirot sejak 2007 sampai sekarang.

Pengabdian:

  • Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot (PPA) Malang
  • Pengasuh Konsultasi Agama Islam di situs www.alkhoirot.net
  • Pengajar reguler kitab berikut bagi santri aktif dan madrasah diniyah Ma’had Aly:
    1. Tafsir Jalalain karya Jalaluddin al-Mahalli,
    2. Sahih Bukhari oleh Imam Bukhari,
    3. Al-Umm karya Imam Syafi’i,
    4. Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imam Asy-Syafi’i karya Abu Ishak Asy-Syairazi,
    5. Fathul Wahab bi Syarh Manhaj at-Tullab karya Abu Yahya Zakariya Al-Anshari,
    6. Al-Iqna’ fi Halli Alfadz Abi Syuja’ karya Syamsuddin Asy-Syarbini Al-Khatib,
    7. Ibanatul Ahkam karya Sayid Alwi Al-Maliki.
  • Mengajar kitab Sahih Bukhari dan Al-Umm pada pengajian non-reguler setiap Jum’at Legi (Jam 08.00 – 10.00 WIB) untuk alumni dan masyarakat umum.
  • Penasihat Buletin Al-Khoirot media interaktif santri Al-Khoirot yang terbit setiap bulan.

Buku yang sudah terbit:

  1. Tip Menulis di Media Massa (Pustaka Al-Khoirot, 2008)
  2. Santri, Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam (Pustaka Al-Khoirot, 2009)
  3. Wanita Salihah, Wanita Modern ((Pustaka Al-Khoirot, 2010)
  4. Pribadi Akhlakul Karimah (Pustaka Al-Khoirot, 2011)
  5. Dasar-dasar Jurnalistik (Pustaka Al-Khoirot, 2012)
  6. Pendidikan Islam: Cara Mendidik Anak Salih, Smart dan Pekerja Keras (Pustaka Al-Khoirot, 2011)
  7. Menuju Kebangkitan Islam dengan Pendidikan (Pustaka Al-Khoirot, 2012)
  8. Keluarga Sakinah (Pustaka Al-Khoirot, 2013)
  9. Rumah Tangga Bahagia (Pustaka Al-Khoirot, 2014)
  10. Meneladani Akhlak Rasul dan Para Sahabat (2015)

Pendidikan:

• Madrasah Diniyah Al-Khoirot
• Pondok Pesantren Al-Khoirot, Malang.
• Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan.
• Pondok Pesantren Langitan, Tuban.
• S1 Fakultas Hukum Unisda Lamongan (1989-1995)
• S1 Fakultas Syariah wa Ushuluddin, Nadwatul Ulama, Lucknow India (1995 – 1998)
• S2 Islamic Studies, Aligarh Muslim University, (1999 – 2000)
• S2 Political Science, Agra University, 2001-2003
• S3 Islamic Studies, Jamia Millia University, 2004-2007

Website resmi:

www.fatihsyuhud.com (bahasa Inggris)
www.fatihsyuhud.net (bahasa Indonesia)

Media Sosial:

Amazon Author Page
Goodreads Author Page
Twitter.com/fatihsyuhud
Facebook.com/fatihsyuhud
Linkedin
Google Plus
Academia.edu

MASYAYIKH (MAHA GURU)

Syaikh Abul Hasan Ali Nadwi
KHM. Syuhud Zayadi


KH. M. JA’FAR SHODIQ SYUHUD

Kyai Ja'far Shodiq Syuhud

Kyai Ja’far Shodiq Syuhud

KH. M. Ja’far Shodiq adalah putra keenam dari KH. M. Syuhud Zayyadi dan Ny. Hj. Masluha Muzakki.

Pendidikan awal dimulai dari rumah. Belajar membaca Al-Quran dari seorang ustadz Al-Khoirot yang bernama Ustadz Miskari. Saat itu sistem belajar membaca Al-Quran dasar masih menggunakan sistem mengeja. Metode membaca Al-Quran sistem Qiroati dan Iqro’ belum ada saat itu.

Setelah proses belajar mengeja selesai, pelajaran membaca Al-Quran dilanjutkan dengan membaca surat-surat pendek yang ada pada juz 30. Dalam tahap ini ia belajar pada ibunya yakni Ny. Hj. Masluha Muzakki.

Setelah selesai membaca Juz 30 atau Juz Amma, ia mulai melanjutkan belajar membaca Al-Quran secara sorogan pada ayahanda KH. Syuhud Zayyadi sejak Juz 1 sampai 29.

Setelah usia sekitar 6 tahun, tibalah waktunya masuk Sekolah Dasar (SD) negeri Karangsuko pada pagi harinya. Sedangkan pada siang harinya sejak jam 12.30 sampai jam 17.00 ia belajar ilmu khusus agama di madrasah diniyah Annasyiatul Jadidah. Program sekolah diniyah yang berada di bawah Pondok Pesantren Al-Khoirot.

Di samping itu, Kyai Ja’far juga masih belajar ilmu Nahwu dan Shorof secara khusus dari Kyai Syuhud sendiri.

Belajar di Pesantren Nurul Jadid

Setelah lulus SD dan Madrasah Diniyah, Kyai Ja’far melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton Probolinggo. Di sana ia belajar cukup lama. Seluruh pendidikan formalnya dilakukan di sini mulai dari Madrasah Tsanawiyah sampai lulus program sarjana Strata 1 (S1) IAINJ (Institut Agama Islam Nurul Jadid).

Pada waktu yang sama, ia juga belajar kitab kuning pada para masyayikh dan pengasuh Nurul Jadid seperti KH. Wahid Zaini, KH. Zuhri Zaini dan KH. Hasan Abdul Wafi.

Kyai Ja’far cukup lama mondok di Popes Nurul Jadid sampai dipercaya untuk mengajar di perguruan tinggi IAINJ bahkan setelah ia berhenti dari Nurul Jadid.

Studi Program Master

Setelah menyelesaikan pendidikan program Sarjana Strata Satu (S1) di IAI Nurul Jadid, ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi yakni program pascasarjana Strata Dua (S2) jurusan Sosiologi di salah satu perguruan tinggi di Malang.

Studi Khusus Islam di Makkah, Arab Saudi

Pada tahun 2008, Kyai Ja’far melanjutkan pendidikan kajian khusus Islam di Makkah Arab Saudi. Ia berguru pada dua ulama Ahlussunnah Wal Jamaah di Makkah Al-Mukarromah yaitu Sayid Ahmad Al-Maliki, putra Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki dan Syaikh Muhammad Al-Yamani, putra Syaikh Ismail Al-Yamani. Masa studi di Makkah tidak lama, sekitar setahun lebih dan kembali ke Tanah Air.

Kembali ke Tanah Air

Pada tahun 2009, Kyai Ja’far kembali ke Indonesia untuk mengabdikan diri pada pesantren dan masyarakat. Pada Mei 2009, pendidikan formal MTS dan MA didirikan untuk pertama kalinya. Kyai Ja’far menjadi kepala sekolah pertama di Madrasah Aliyah Al-Khoirot sampai 2011. Setelah wafatnya Kyai Ali pada tahun 2011, beliau mundur sebagai Kepala Sekolah MA Al-Khoirot, dan fokus mengabdikan diri pada masyarakat dan pesantren menggantikan tugas-tugas yang biasa dilakukan oleh almarhum Kyai Zainal Ai Suyuthi.

Di samping itu, Kyai Ja’far juga mengajar kitab kuning pada setiap hari Selasa dari Jam 4 sampai 5 sore yang diikuti oleh seluruh santri putra dan putri (via speaker). Mengajar Madin Tsanawiyah (Wustho 1 dan 2) bidang studi ilmu balaghah (sastra Arab) dan Ma’had Aly untuk bidang studi Tafsir Ayat Ahkam.

Media Sosial

Berikut akun resmi media sosial Kyai Ja’far. Silahkan difollow:

Facebook: http://www.facebook.com/jafar.sodiq
Twitter: https://twitter.com/jafarsyuhud

KH. M. HAMIDURROHMAN SYUHUD

KH. Muhammad Hamidurrohman Syuhud

KH. Muh. Hamidurrohman Syuhud

Kyai Muhammad Hamidurrohman adalah putra ketujuh dari pasangan KH. M. Syuhud Zayyadi dan Ny. Hj. Masluha Muzakki.

Sebagaimana saudara-saudaranya yang lain, pendidikan dasar ilmu agamanya dilakukan sejak masih dini di rumah. Dimulai dengan belajar membaca abjad Arab secara mengeja yang dibimbing oleh ustadz Popes Al-Khoirot. Kemudian dilanjutkan dengan membaca Juz Amma oleh ibu dan membaca Al-Baqarah sampai selesai oleh ayahnya. Sedangkan pendidikan dasar ilmu agama seperti gramatika bahasa Arab, ilmu fiqih, Al-Quran dan hadits dipelajari di Madrasah Diniyah Al-Khoirot.

Mondok di Lirboyo

Setelah selesai pendidikan dasar agama di Madrasah Diniyah Al-Khoirot, Hamid muda kemudian melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Di sana ia masuk madrasah diniyah tingkat tsanawiyah sampai tingkat aliyah.

Di Lirboyo, di samping belajar ilmu agama di Madrasah Diniyah, ia juga mengaji kitab kuning berbagai bidang studi pada para kyai pengasuh Lirboyo seperti Kyai Idris Marzuki, dan lain-lain.

Mengaji di Makkah Al-Mukarromah

Setelah tamat Madrasah Diniyah Aliyah di Lirboyo, pada tahun 2004 ia melanjutkan pendalaman ilmu agama Islam ke Makkah Al-Mukarromah dan mengaji ilmu syariah secara khusus pada sejumlah ulama besar Ahlussunnah Wal Jamaah (non-Wahabi) yaitu Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Syaikh Ismail Al-Yamani, Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Maliki, Syaikh Muhammad bin Ismail Al-Yamani, Sayid Hamid Al-Kaf, Habib Umar Al-Jailani, Syaikh Thoriq, Sayyid Abbas Al-Maliki.

Kembali ke Tanah Air

Pada tahun 2008, Kyai Hamid kembali ke Tanah Air dan menikah dengan Ning Lutfiyah Karim, keponakan Kyai Idris Lirboyo. Tugas keseharian adalah menjadi anggota Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang dan Ketua program Ma’had Aly dan Tahfidz Al-Qur’an Putra serta mengajar kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghozali dan Jam’ul Jawamik karya Tajuddin As-Subki di program Ma’had Aly dan mengajar kitab Ibnu Aqil syarah Alfiyah di pengajian umum setiap hari Selasa pagi.

Selain itu, bersama Kyai Ja’far Shodiq, Kyai Hamid juga bertugas dalam pengabdian masyarakat dalam bentuk menghadiri undangan, memberi pengajian umum dan dzikir bersama ke berbagai tempat di sekitar Malang dan Lumajang.

KH. M. HUMAIDI SYUHUD

KH. M. Humaidi Syuhud

KH. M. Humaidi Syuhud

Kyai Muhammad Humaidi memulai belajar pendidikan dasar Al-Quran di rumah sendiri. Mulai dari belajar mengeja abjad Arab, membaca Al-Quran Surah-surah pendek sampai khatam Al-Quran dipelajarinya di rumah dari ibu dan ayahnya.

Sebagaimana saudara-saudaranya yang lain, pendidikan keilmuan agama dasar dipelajarinya di Madrasah Diniyah Annasyiatul Jadidah Al-Khoirot mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Saat itu, madrasah diniyah tingkat tsanawiyah dan tingkat Aliyah belum ada di Ponpes Al-Khoirot sehingga setelah lulus kelas 6, ia kemudian berencana meneruskan di pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Kuliah Syariah di UIN SUKA

Setelah lulus MA PK Nurul Jadid, Kyai Humaidi meneruskan studi Sarjana S1 di IAI Nurul Jadid namun tidak lama. Setahun kemudian, ia melanjutkan studi S1 jurusan Syariah di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta sampai selesai.

Studi Khusus Agama di Makkah Al-Mukarromah

Selepas keluar daru UIN Suka, ia meneruskan studi khusus ilmu agama dari dua ulama Tanah Haram Makkah yaitu Sayid Ahmad Al-Maliki, Syaikh Muhammad Al-Yamani, Syaikh Makki. Selama di Makkah ia tinggal di Rubat bersama para santri Indonesia yang lain.

Menikah dan Mengabdikan Ilmu

Pada tahun 2012, ia kembali ke Tanah Air untuk menikah dan mengabdikan serta mengamalkan ilmunya di Pesantren Al-Khoirot. Sejak tahun 2014, ia menjadi Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Al-Khoirot.

Setiap Senin pagi, ia mengajar kitab kuning untuk santri tingkat Wustho 1 ke atas yaitu kitab nabtuq dab ushul fiqih.

Di Madrasah Diniyah Tsanawiyah ia juga mengajar materi ushul fiqih dan ilmu hadits.

Sekolah dan Mengaji di Ponpes Nurul Jadid Paiton

Sambil sekolah di pendidikan formal Madrasah Tsanawiyah Nurul Jadid dan Madrasah Aliyah Nurul Jadid, ia juga rutin mengikuti pengajian kitab kuning pada para pengasuh termasuk KH. Zuhri Zaini dan KH. Hasan Abdul Wafi.

Media Sosial

KH. Muhammad Humaidi dapat dihubungi melalui media sosial Facebook di: http://www.facebook.com/M.Humaidi

PENGASUH YANG WAFAT

Berikut pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot yang sudah meninggal dunia. Semoa amal baik mereka diterima di sisi Allah. Amin.

  1. KH. Syuhud Zayyadi (1930-1993)
  2. Ny. Hj. Masluha Muzakki (1943-1997)
  3. KH. Zainal Ali Suyuthi (1960-2011)


MASYAYIKH PARA PENGASUH

Para pengasuh pesantren Al-Khoirot pada periode awal pendidikan umumnya belajar pada orang tua mereka. Setelah itu dilanjutkan dengan memenmpuh pendidikan di lembaga pendidikan lain, pendidikan formal atau non-formal; di dalam negeri atau luar negeri. Berikut para masyayikh dari para pengasuh Pesantren Al-Khoirot:

Sayid Amin Al-Kutbi

sayid amin al-kutbi Makkah Al-Mukarromah

Sayid Amin Al-Kutbi Makkah Al-Mukarromah

Sayyid Amin Al-Kutbi adalah guru mulazim dari Kyai Syuhud Zayadi selama beliau belajar ilmu agama di Makkah Al-Mukarromah Arab Saudi. Sayyid Amin adalah seorang ulama Ahlussunnah Wal Jamaah (bukan Wahabi) di Makkah dan biasa mengajar di Masjidil Haram pada saat itu.

Nama lengkapnya adalah Sayid Muhammad bin Amin Al-Kutbi Al-Hanafi Al-Imroni Al-Idrisi Al-Hasani Al-Hasyimi Al-Makki. Beliau lahir di Makkah Al-Mukarromah pada bulan Dzulhijjah tahun 1327 dan wafat pada 1404 hijriah dalam usia 77 tahun.

Di Makkah, beliau mengajar di Madrasah Al-Falah sejak usia 19 tahun setelah lulus dari sekolah tersebut. Selain itu, beliau juga mengajar di Masjidil Haram yang diikuti oleh banyak santri dari seluruh dunia termasuk Indonesia. KH. Syuhud Zayadi termasuk salah satu murid kesayangan Sayid Amin Al-Kutbi. Salah satu bentuk rasa sayangnya adalah dibuatnya syair khusus dari Sayid Amin untuk Kyai Syuhud.

Sayid Amin adalah seorang ahli hadits, ahli sastra Arab, dan seorang yang zahid dan wara’ serta sangat rendah hati. Beliau biasa menemui tamu dan melayaninya sendiri agar tidak merepotkan orang lain.

Sayid Amin dikenal suka membuat syair pujian pada Allah dan Rasul-Nya. Salah satu syairnya biasa dibaca di Pesantren Al-Khoirot pada saat bulan Ramadhan yang kutipannya sebagai berikut:


رمـضان تجلى وابتسـما *** طوبـى للعـبـد إذا اغتـنـمـا
أرضى مولاه بما التـزمـا *** طـوبـى للنـفس بتـقـواهـا
وصـلـى الـله على طه *** خـير الخـلـق وأحـلاهــــا

Sayid Amin adalah mahaguru mulazim dari KH. M. Syuhud Zayyadi.

Baca selengkapnya: Biografi Sayid Amin Al-Kutbi

Sayyid Alawi Al-Maliki

Sayid Alwi Al-Maliki Makkah

Sayid Alwi Al-Maliki Makkah

Sayid Alawi bin Abbas bin Abdul Aziz Al-Maliki Al-Makki Al-Hasani Al-Idrisi (1328-25 Shafar 1391) adalah ulama Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang tinggal di Arab Saudi. Ia mengajar di Masjidil Haram Makkah sampai wafatnya. Muridnya selain dari Arab Saudi sendiri juga berasal dari berbagai negara di dunia termasuk dari Indonesia.

Ia menulis belasan kitab dalam bahasa Arab dalam berbagai topik bidang studi seperti hadits, fiqih, aqidah, tasawuf, dll seperti Al-Ibanah fi Ahkam Al-Kahanah (الإبانة في أحكام الكهانة), Risalah fi Ibthol Nisbat Al-Qoul bi Wahdat Al-Wujud li Aimmatil Sufiyah (رسالة في إبطال نسبة القول بوحدة الوجود لأئمة الصوفية), Risalah fil Ilham (رسالة في الإلهام), Min Nafahat Ramadhan (من نفحات رمضان), Fathul Qorib Al-Mujib ala Tahdzib Al-Targhib wat Tarhib (فتح القريب المجيب على تهذيب الترغيب والترهيب), Takliq ala Riyadis Sholihin (تعليق على رياض الصالحين), Hasyiyah Faidul Khobir Syarah Manzhumat Ushul Al-Tafsir (حاشية فيض الخبير شرح منظومة أصول التفسير), Risalah fi Ahkam Al-Tafsir (رسالة في أحكام التصوير), Majmuk Al-Fatawa war Rosail (مجموع الفتاوى والرسائل), Ibanat Al-Ahkam Syarah Bulughul Maram (إبانة الأحكام شرح بلوغ المرام ( بالاشتراك مع حسن النوري )), Nailul Marom Syarah Umdatul Ahkam (نيل المرام شرح عمدة الأحكام).

Sayid Alawi adalah mahaguru dari KH. M. Syuhud Zayadi. pendiri dan pengasuh pertama Pesantren Al-Khoirot.

Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki

As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-MalikiSayid Muhammad bin Alawi bin Abbas bin Abdul Aziz Al-Maliki Al-Hasani Al-Idrisi Al-Makki (1944–2004) adalah seorang ulama Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) dari Arab Saudi dan seorang sufi penganut tarekat Syadiziliyah.

Setelah kembali dari Universitas Al-Azhar, ia ditunjuk sebagai dosen Syariah di Universitas Ummul Quro Makkah dimana ia mengajar dari 1970 sampai awal 1980-an. Setelah ayahnya meninggal, para ulama Makkah memintanya untuk mengganti posisi ayahnya, Sayid Alawi Al-Maliki, untuk mengajar di Masjid Haram Makkah. Ia juga mengajar di Masjid Nabawi Madinah secara berkala.

Ia berhenti mengajar di Ummul Quro dan Masjidil Haram setelah diberhentikan oleh kerajaan Saudi karena adanya Fatwa dari Dewan Ulama Arab Saudi di bawah pimpinan Abdullah bin Baz yang menganggap ajaran Aswaja-nya bertentangan dengan “kemurnian” ajaran Islam ala Salafi Wahabi.

Sayid Muhammad sebagaimana ayah dan para pendahulunya mengikuti tarekat Syadziliyah khususnya Al-Fasiyah melalui Imam Fasi, seorang mursyid tarekat dari Makkah.

Sayid Muhammad adalah penulis produktif. Ia telah menulis sekitar 100 buku di berbagai bidang studi seperti agama, hukum, sosial dan sejarah. Banyak bukunya menjadi buku teks di sejumlah pesantren universitas seluruh dunia.

Sayid Muhammad adalah maha guru dari KH. M. Amin Hasan Syuhud, KH. Zainal Ali Suyuthi dan KH. M. Hamidurrohman Syuhud.


Sayid Abul Hasan Ali Nadwi

Sayid Abul Hasan Ali Nadwi

Sayid Abul Hasan Ali Nadwi

Abul Hasan Ali Hasani Nadwi (24 November 1914 – 31 Desember 1999) adalah seorang ulama asal India yang memiliki kualitas langka: selain sebagai ulama, intelektual muslim berkaliber internasional, pakar sastra Arab, penyair, seniman, mursyid tariqat, sufi, penulis lebih dari 50 buku dan ribuan makalah untuk seminar, jurnal dan artikel serta transkrip sejumlah pidatonya yang ditulis dalam bahasa Arab, Persia dan Urdu serta telah diterjemah ke dalam berbagai bahasa. Tema buku yang ditulisnya kebanyakan tentang sejarah, teologi, dan biografi ulama.

Bukunya yang paling populer ditulis dalam bahasa Arab berjudul Madza Khasiral Alam bi Inhitatil Muslimin (Kerugian Dunia atas Kemunduran Islam) yang diterjemah ke dalam bahasa Inggris dengan judul Islam and the World.

Syaikh Abu Hasan Nadwi adalah mahaguru dari A. Fatih Syuhud


Maulana Rabey Hasani Nadwi

Maulana Rabey Hasani Nadwi

Comments

  • Assalamualaikum wr wb sebelumnya saya minta maaf sekeluarga..saya mohon doanya pd pengasuh PP-ALKHOIROT mungkin minggu depan saya mau mendaftarkan putri saya nyantri..semoga tdk ada halangan apapun ammiin..
    Mohon pencerahannya..ustadz
    Wassalamualaikum

    IswahyudiJuly 13, 2017
  • Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
    Salam silaturahmi kami sampaikan. Semoga Bapak/Saudara dalam keadaan sehat wal afiat
    serta selalu istiqomah dalam menjalankan ibadah yang di Ridhoi ALLAH SWT, sehingga selalu kita selalu mendapat Rahmat -Nya Amin.
    TAHFIDZ DUA AL QURAN BIL GOIB ! APAKAH SUDAH ADA SANTRI YANG DI WISUDA ???
    DAN KALU SUDAH ADA BERPA SATRI ? MASHUDI WALI SANTRI DARI SOLAHUDIN AL AYYUBI DARI JAWA BARAT KARAWANG

    MASHUDI KARAWANGSeptember 5, 2016
  • informasi dari ponpres al khoirot malang sangat lengkap , dan begitu mudah di dapat , semoga saya juga bisa menimba ilmu di sana . amin

    rifiantiSeptember 2, 2016
  • Assalamu ‘alaikum Wr.wb.

    Salam Silaturrahim dari kami Budiman/ keluarga & teriring do’a semoga para Masyaikh/ Pengasuh PP. AlKhoirot selalu mendapat Barokah, Rahmat & bimbingan Allah SWT. Kyai kami telah mendaftarkan Putra/ Putri kami ( Yazid H Faqih, Mts & Syarifah Ramadhani, MA) kami Malam senin kemarin, namun sayang kami belum sempat sowan ke ndalem/ Masyaikh PPA. Dengan tidak mengurangi Hormat kami kepada para Masyaikh, kami mohon Do’a dan bimbingan u/ anak2 kami dalam menempuh pendidikan di PPA. Insya Allah kunjungan berikutnya kami akan sowan ke ke ndalem kyai. Wassalamu ‘alaikum wrwb.

    Budiman,
    Depok

    BudimanJuly 26, 2016

Leave a Reply