Visi

VISI MISI PONPES AL-HOIROT

VISI dan MISI PONDOK PESANTREN AL-KHOIROT MALANG

I. Menciptakan pendidikan berkualitas tinggi yang holistik dan komprehensif tidak hanya dalam bidang keilmuan agama, umum dan soft-skill, tapi juga pendidikan perilaku (attitude) atau akhlakul karimah yang meliputi akhlak syariah, akhlak universal dan akhlak lokal.

II. Memberi kesempatan pada generasi muda untuk dapat menikmati pendidikan berkualitas tinggi di bidang agama dan umum tanpa memandang status sosial dan ekonomi. Salah satunya adalah dengan menekan biaya pendidikan pada level yang dapat dicapai oleh berbagai kalangan, khususnya yang tidak mampu.

Pesantren berkualitas dapat dijumpai di banyak tempat di Indonesia. Akan tetapi, pesantren berkualitas dengan biaya murah itu tidak banyak. Kami bersyukur karena kami adalah salah satu dari yang sedikit itu.

MOTTO

Apa kalimat singkat (catch phrase) yang dapat menggambarkan realitas pesantren Al-Khoirot secara utuh? Berikut pendapat beberapa santri, alumni, dan wali santri tentang PPA Malang:

  • “Pesantren salaf dengan sistem modern.”
  • “Pesantren salaf yang ada sekolah formalnya.”
  • “Pesantren modern, tapi tidak mahal.”
  • “Pesantren untuk mencetak ilmuwan yang jujur dan santun.”
  • “Satu-satunya pesantren yang mengkaji kitab Al-Umm pada seluruh santri.”
  • Pondok modern dengan nuansa salaf.
  • Ponpes salaf, tapi bukan Salafi.

Itulah jargon atau motto yang mewakili realitas Pondok Pesantren Al-Khoirot (PPA) Malang. Sebuah pesantren dengan sistem salaf yang salah satu core values-nya adalah kemampuan baca kitab kuning atau literatur Islam klasik, tahfidzul Quran dan sikap santun kesantrian.

PPA disebut modern karena juga menerapkan sisi-sisi positif kemodernan seperti disiplin, Bahasa Arab, sekolah formal, dan lain-lain.

AQIDAH

Pondok Pesantren Al-Khoirot menganut aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) Asy’ariyah. Jadi, harap dibedakan dengan klaim Ahlussunnah Wal Jamaah Wahabiyah dari kalangan Wahabi Salafi.

Tentang gerakan Wahabi Salafi lihat artikelnya di link berikut:

MADZHAB FIQIH

Madzhab fiqih yang dianut adalah madzhab Syafi’i.

FALSAFAH HIDUP ISLAM SANTRI AL-KHOIROT

Sebagai pusat penggemblengan ilmu-ilmu agama Islam dan nilai-nilai keislaman, maka Pondok Pesantren Al-Khoirot (PPA) mendasarkan falsafah hidup santri pada ajaran dan prinsip Islam yang terkandung dalam Al-Quran, hadits, perilaku Sahabat & Tabi’in, dan para Ulama terdahulu yang dikenal sebagai al-ulama al-amilun yang secara singkat diterjemahkan ke dalam poin-poin dasar berikut:

GAYA HIDUP SEDERHANA

Santri dididik dan dilatih untuk berpola hidup sederhana karena kesederhanaan adalah induk dari kebajikan perilaku duniawi dan ukhrawi. Santri dilarang berpola hidup mewah dan konsumtif karena ia merupakan induk dari segala kejahatan, korupsi dan keserakahan yang dilarang keras dalam Islam. Dalam QS Al-Qashah ayat 78-79 Allah berfirman:

‘Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka (Al-Qashah ayat 78).

Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.'(Al-Qashah ayat 79)

Komitmen terhadap gaya hidup sederhana bukan berarti menolak menjadi kaya. Sebaliknya, santri dianjurkan untuk menjadi individu yang berharta. Semakin kaya semakin baik asalkan harta yang didapat dicapai dengan cara yang halal dan tidak melupakan perintah syariah untuk mengeluarkan zakat dan mendermakan sebagian harta di luar zakat untuk para dhuafa dan lembaga sosial Islam. Gaya hidup sederhana adalah pilihan, saat kita mampu untuk hidup mewah dengan harta yang dimiliki. Dalam QS Al-Qashash ayat 77 Allah berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

SANTRI DIANJURKAN KAYA TAPI DENGAN CARA HALAL DAN TIDAK KONSUMTIF

Santri Al-Khoirot dianjurkan dan dilatih untuk menjadi sosok individu yang rajin belajar dan pekerja keras serta memiliki skill individu yang tinggi.  Konsekuensi dari dua faktor ini – kerja keras dan kualifikasi tinggi- adalah ia akan menjadi sosok individu yang mudah mendapatkan pekerjaan atau inovatif dalam menciptakan lapangan kerja. Yang pada gilirannya, tidak akan sulit untuk menjadi sosok yang berharta dan berkecukupan secara materi. Perintah untuk bekerja keras secara eksplisit dan tegas disebut dalam Al-Quran QS Al-Jumah ayat 10: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk tidak libur bekerja bahkan pada hari Jumat sekalipun kecuali menyediakan waktu sebentar untuk melaksanakan shalat Jum’at (QS Al-Jumuah : 9).

Namun, pada waktu yang sama, gaya hidup sederhana, tidak hedonistik, bersikap santun, rendah hati, menjauhi gaya hidup mewah dan konsumtif serta empati pada kaum fakir miskin,  tetap menjadi komitmen bersama yang menjadi kewajiban seluruh santri Al-Khoirot di manapun mereka berada dan dalam kondisi apapun serta setinggi apapun jabatan yang dipegang.

MENUNTUT ILMU SEPANJANG MASA

Setelah selesai belajar dan mondok di PPA, Santri Al-Khoirot hendaknya terus menuntut ilmu sepanjang hayat di kandung badan. Baik melalui lembaga pendidikan tinggi formal dari S1, S2 S3, atau melalui lembaga pendidikan non-formal seperti mengikuti berbagai pelatihan yang dapat meningkatkan kemampuannya. Baik ilmu umum maupun ilmu agama sesuai dengan ketertarikan masing-masing.

Santri Al-Khoirot tidak boleh pelit dalam menyumbangkan ilmunya pada mereka yang membutuhkan keahliannya baik dengan imbalan materi atau sukarela. Keilmuan yang disumbangkan kepada siapa saja yang membutuhkan harus diniati sebagai amal soleh dan amal jariyah yang akan terus mengalir sampai mati.

TOLERANSI DALAM PERBEDAAN DAN KEBERAGAMAN INDONESIA

Toleransi adalah salah satu nilai ajaran Islam. Terhadap orang non-muslim sekalipun santri diperintahkan Allah untuk berbuat baik selama mereka tidak menjahati kita. Allah berfirman dalam QS Al-Mumtahanah : 8 “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Apabila kepada non-muslim saja kita diperintahkan untuk berbuat baik dan toleran, apalagi kepada sesama muslim yang seiman dan seagama. Gema toleransi harus terus didengungkan untuk menyadarkan diri kita sendiri akan pentingnya hidup damai dalam suasana perdamaian; dan sebagai respons pada kalangan suara minoritas dalam umat yang meneriakkan antitoleransi dengan bersembunyi di balik jargon “atas nama pemurnian agama.”

DAKWAH DENGAN KATA DAN PERBUATAN

Berdakwah adalah salah satu perintah Allah dan RasulNya. Mengajak orang pada kebaikan dan mencegah dari kejahatan (amar makruf nahi munkar) adalah perintah eksplisit Allah seperti tersebut dalam QS Ali Imron ayat 110 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…”

Dalam ayat tersebut Allah mengisyaratkan bagi pelaku dakwah agar menjadi orang yang terbaik lebih dulu sebelum memperbaiki orang lain. Gelar “umat terbaik” tentu saja tidak serta merta pantas disematkan pada setiap individu muslim. “Umat terbaik” hanya pantas dianugerahkan pada individu muslim yang memang mentaati ajaran Islam secara kaffah dan komprehensif: melakukan yang wajib dan halal dan menjauhi larangan Islam.

Selain itu, Allah mengingatkan pada umat Islam, bahwa dakwah itu harus dilakukan secara baik agar mendapatkan hasil yang baik pula. Dalam QS An-Nahl : 125 “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Dakwah dapat dilakukan dengan tutur kata yang baik atau dengan perilaku keseharian yang inspiratif. Yang terakhir ini disebut dengan dakwah dengan perbuatan (bilhal). Dakwah bilhal dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti menunjukkan sikap sosial yang baik kepada sesama manusia. Melakukan berbagai kegiatan bantuan sukarela kepada siapa saja tanpa memandang suku, ras, dan agama orang yang dibantu.[]

Terkait:

Leave a Reply