Beda Sunnah Sunnat Sunat

Beda Sunnah Sunnat Sunat

Beda Sunnah Sunnat Sunat. Sunnah dan sunnat memiliki makna yang sama dalam bahasa Arab. Sedangkan sunat adalah khitan dalam bahasa Jawa.

SUNNAH DAN SUNNAT ITU SAMA ATAU BEDA?

Assalamualaikum

Saya kembali ingin bertanya tentang perbedaan sunnah dan sunnat.

Setelah saya membaca beberapa referensi dari website. Banyak yang mengatakan kalau sunnah dan sunnat itu berbeda. Sunnah adalah perbuatan yang dilakukan Rasulullah, sedangkan sunnat adalah tingkatan hukumnya seperti wajib, makruh, sunnat dan yang lainnya.

1. Bagaimana penjelasannya pak ustad ? Saya mendapati 2 pendapat yang berbeda dari pak ustad dan website yang saya baca ? Yang satu mengatakan sama saja antara sunnah dan sunnat, yang satunya lagi mengatakan berbeda antara keduanya ?

2. Selama ini saya memaknai sunnah dan sunnat itu sama dan hanya memaknai sebagai tingkatan hukum saja seperti wajib. Jadi didalam sholat sunat saya kadang mengatakan “sunnah” dan “sunnat” dalam niat. Apakah sholat saya tidak sah ?

JAWABAN

Ringkasan: Kata ‘sunnah’ dan ‘sunnat’ sama saja maknanya. Hanya saja orang Jawa atau Indonesia membaca ta’ marbutoh di akhir kata itu berbunyi seperti huruf ‘t’ seperti Jum’ah menjadi Jum’at. Sedangkan orang Arab membacanya berbunyi seperti huruf ‘h’ seperti sunnah. Kata sunnah itu sendiri memiliki 3 pengertian dari tiga jenis ilmu Islam yang berbeda.

DUA JENIS HURUF TA’ : MARBUTOH DAN MAFTUHAH (MABSUTOH)

1. Seperti kami jelaskan sebelumnya, kata sunnah adalah kata berbahasa Arab سنة. Yang terdiri dari tiga huruf hijaiyah yaitu sin, nun tasydid dan ta’ marbutoh atau ta’ bulat. Seperti diketahui huruf ta’ ada dua jenis yaitu ta’ marbutoh (ta’ bulat) dan ta’ maftuhah atau ta’ mabsutoh ت .

PENGERTIAN TA’ MARBUTOH DAN MAFTUHAH (MABSUTOH)

Dalam sejumlah kitab lughah seperti kitab Al Wajiz fi Al Mustawayat Al Lughatil Arabiyah dijelaskan:

التاء المربوطة: هي تاء ” في النطق ” الا أنها تشبه حرف الهاء كتابة على أنه يوجد على رأسها نقطتين تمييزا لها عن حرف الهاء… وهي حرف وسط بين حرف التاء المبسوطة أو المفتوحة وبين حرف الهاء
أي أنها تنطق كتاء عند وصل الكلام ببعضه بعضا… ولكنها تنطق كحرف الهاء في حالة الوقوف على الكلمة…
مثال على ذلك عندما تقول : الشجرة مثمرة .
هنا ينطق الحرف الاخير في كلمة الشجرة تماما وكأنه تاء مبسوطة وكذلك في كلمة مثمرة… ولكن في كلمتي شجرة أو مثمرة اذا أردت ” الوقوف ” على الكلمة فيجب عليك ان تنطق التاء المربوطة كحرف الهاء

التاء المبسوطة : تنطق في كل الحالات “تاء” سواء واصلت كلامك أم وقفت… مثال على ذلك كلمة “معجزات

Artinya: Ta’ marbutoh adalah huruf ta’ yang dibaca. ia serupa dengan huruf ha’ dalam segi penulisan dan ada dua titik di atasnya untuk membedakannya dengan huruf ha’ (ه). Ia adalah huruf tengah antara huruf ta’ mabsutoh atau maftuhah dan antara huruf ha’. Yakni, ia dibaca seperti huruf ta’ ketika bersambungnya ucapan dengan yang lain .. akan tetapi dibaca seperti huruf ha’ saat dalam keadaan waqaf (berhenti) pada kata. Contoh ketika anda mengatakan “الشجرة مثمرة” (Pohon itu berbuah). Dalam kalimat ini, huruf akhir di kata “الشجرة” itu dibaca secara sempurna seperti ta’ maftuhah (menjadi asy-syajaratu) . Begitu juga dalam kata “مثمرة” (musmirotun)… Akan tetapi dibaca seperti huruf ha’ dalam keadaan waqaf (berhenti). Cara bacanya adalah “syajarah musmiroh”.

Adapun ta’ mabsutoh (atau maftuhah) itu dibaca dalam setiap keadaan dengan bacaan ‘ta’. Baik adalam keadaan bersambung atau berhenti. Seperti dalam kata “معجزات” (mukjizat).

 SUNNAH DAN SUNNAT ITU SAMA

2. Terkait pendapat yang mengatakan sunnah itu perbuatan yg dilakukan Rasulullah sedangkan sunnat itu tingkatan hukum, maka pendapat ini tidak akurat dan berasal dari orang yang tidak mengerti bahasa Arab dengan baik, dengan alasan:

Pertama, baik sunnah yang perbuatan Rasulullah maupun sunnah yang merupakan tingkatan hukum keduanya sama-sama dibaca Sunnah, bukan Sunnat, karena keduanya adalah kata yang berakhiran ta’ marbutoh yang cara bacanya saat waqaf (berhenti di akhir kata) dibaca seperti ha’ dan sama-sama dibaca ta’ apabila dibaca sambung (wasol) seperti dijelaskan di nomor 1.

Di Indonesia saat ini, ada yang membaca sunnah dengan sunnah seperti aslinya dalam bahasa Arab, ada juga yang membaca sunnat atau sunat mengikuti kebiasaan dalam bahasa Indonesia atau Jawa di mana ta’ maftuhah atau ta’ marbutoh sama-sama dibaca seperti huruf  ‘t’ baik ketika waqaf (berhenti) maupun wasol (sambung).

TIGA PENGERTIAN KATA SUNNAH DALAM KAJIAN ISLAM

Kedua, secara pengertian kajian Islam Sunnah ada tiga makna.

Sunnah menurut Ulama Ahli Hadis (Al-Muhadditsin)

a) Dalam pengertian ulama ahli hadis Sunnah adalah:

عرَّف المحدِّثون السُّنة بأنها: أقوال النبي صلى الله عليه وسلم وأفعاله وتقريراته وصفاته الخِلْقِية والخُلُقية، وسائر أخباره، سواءٌ أكان ذلك قبل البعثة أم بعدها.

Artinya: Setiap perkataan Nabi, perbuatannya, ketetapannya, sifat diri dan fisiknya dan berita tentang Nabi yang lainnya baik sebelum kenabian atau setelahnya. (Lihat, Al Hakim dalam Al-Mustadrak, hlm. 1/172; Al Baihaqi dalam As-Sunanul Kubro, hlm. 1/114).

Dengan pengertian ini, maka hanya hadis marfu’ yang disebut Sunnah. Baca detail: Hadis Marfuk, Mauquf, Maqtu’,

Sunnah menurut Ulama Ushul Fikih (Al-Ushuliyun)

b) Menurut ulama ushul fikih, Sunnah adalah

أقوال النبي صلى الله عليه وسلم، وأفعاله، وتقريراته، التي يُسْتدَلُّ بها على الأحكام الشرعية

Artinya: Perkataan, perbuatan dan ketetapan Nabi yang dijadikan dalil atas hukum Syariah (lihat, Al-Ghazali dalam Al Mustashfa, hlm 2/96).

Yakni untuk dijadikan dalil wajib, sunnah, mubah, haram, makruh. Baca detail: Hukum Wajib Sunnah Makruh Mubah

Sunnah menurut Ulama Fikih (Al-Fuqoha)

c) Sunnah menurut ulama fikih adalah:

ما ثبَت طلبه بدليلٍ شرعي، من غير افتراض ولا وجوب؛ مثل: تقديم اليمنى على اليسرى في الطهارة، ومثل الركعتينقبل الظهر

Artinya: Perbuatan yang dianjurkan dilakukan tapi tidak wajib. Seperti mendahulukan tangan kanan atas tangan kiri dalam bersuci. Seperti shalat 2 rokaat sebelum zhuhur (lihat, Irsyadul Fuhul, hlm 33).

Sunnah dalam pengertian ketiga ini dalam istilah Arab yang lain adalah mandub dan mustahab. Yakni perbuatan yang mendapat pahala apabila dikerjakan dan tidak dosa apabila ditinggalkan. Sunnah dalam pengertian ini adalah salah satu hukum syariah yang lima menurut ulama fikih di samping wajib, haram, makruh, dan mubah. Baca detail: Hukum Wajib Sunnah Makruh Mubah

Kesimpulan:

i) Artikel yang anda baca tentang beda sunnah dan sunnat itu tidak betul. Keduanya adalah satu kata. Hanya saja orang Arab membaca Sunnah apabila waqaf (berhenti di akhir kata) dan membaca Sunnat apabila berlanjut bacaannya. Namun dalam konteks Indonesia, kata Sunnat sudah menjadi bahasa serapan dan menjadi bahasa baku dalam bahasa Indonesia sebagaimana kata Jumuah (Arab) menjadi Jumat (Indonesia).

ii) Sunnah memiliki tiga makna terminologis yang berbeda dalam kajian Islam yakni menurut ulama ahli hadis, ahli ushul, ahli fikih.
Baca juga: Hukum Makruh Tahrim dan Tanzih

PENGERTIAN SUNAT

Dalam bahasa Jawa, sunat bermakna dikhitan. “Anak siapa yang disunat?” Artinya, anak siapa yang dikhitan. Namun kata ‘sunat’ bisa juga bermakna sunnah dalam pengertian yang lebih luas sebagaimana dijelaskan di atas. Karena orang jawa biasa membaca huruf dobel dalam bahasa Arab menjadi tunggal. Seperti kata “musholla” menjadi musola; dan sunnah menjadi sunah atau sunat. Baca detail: Sunat atau Khitan

Cara bertanya ke KSIA (Konsultasi Syariah Islam Al-Khoirot)

2 thoughts on “Beda Sunnah Sunnat Sunat”

  1. Saya tidak sependapat dengan penjelasan diatas.
    Memang tulisan arabnya sama tetapi sunnah merupakan kata benda (noun) sedang sunnat adalah kata keterangan (adjective).
    Harus ikuti tata bahasa yang benar. Penyamarataan kata sunnah dan sunnat sangat merusak akidah.
    Katanya sunnah itu dikerjakan berpahala, tidak dikerjakan tidak berdosa. Absurd, gagal paham.
    Sunnah itu termasuk hadis dan penjelasan Nabi tentang cara sholat, besarnya zakat dsb adalah WAJIB !!!
    Sedangkan sunnat itu tingkatan hukum. Jadi ada fardhu, fardhu ain, fardhu kifayah, sunnat, mubah, haram. Sama sekali beda, bukan.
    Tolong belajar tatabahasa, bukan sekedar vocabulary. Ada kata benda (noun), kata kerja (verb) , kata keterangan untuk kata kerja (adverb), kata keyerangan untuk kata selain kata kerja (adjective), kara sandang (si sang hang dang), kata ganti orang, kata ganti bukan orang, kata sambung, kataserudsb

    1. Harap sertakan rujukan. Tidak menyertakan rujukan adalah debat kusir yg tidak berguna.

      Kami hargai sikap pede anda. Tapi pede tanpa ilmu sangat memalukan. Belajarlah pada ahlinya. Datanglah ke pesantren (diutamakan ke pesantren salaf Aswaja/NU) dan belajarlah dengan penuh sikap rendah hati, Maka, insyaAllah Allah akan membuka ilmu yg selama ini tertutup bagi anda.

      Sedikit penjelasan bagi anda bahwa satu Sunnah dalam arti hadis Nabi dan satu ayat Quran sebagai sumber hukum itu bisa berdampak banyak hukum. Misalnya, masalah poligami yg disebut sebagai Sunnah Nabi dan terdapat di Al-Quran QS 4:3 tentang poligami memiliki hukum yang berbeda sesuai kondisi sbb:
      hukum mubah apabila poligami 4 atau kurang dan bisa adil, haram seperti poligami lebih dari 4, makruh apabila poligami dikuatirkan tidak adil, dan haram apabila poligami tidak adil walaupun hanya 2. Baca: https://www.konsultasiagama.com/2019/11/hukum-poligami-dalam-islam.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.