Hukum Gusi Berdarah Saat Shalat

Hukum Gusi Berdarah saat Shalat

Hukum Gusi Berdarah Saat Shalat itu membatalkan shalat atau tidak? Dan bagaimana status baju yang terkena darah dari gusi, gigi atau bagian mulut lainnya apakah bajunya najis atau tidak?

Assalamualaikum, ustadz saya Nurhidayah 25 tahun dari Pontianak.

Ustadz kadang gusi saya berdarah, kemarin setelah wudhu ketika saya meludah ditisu ada darah di air liur dan sebagian air liur saya ada yang terkena mukena. Kemudian saya berkumur dan baju serta kaki saya terkena air bekas berkumur yang saya buang. Yang ingin saya tanyakan:

1. apakah tangan saya terkena najis karena memegang tisu yang basah terkena air liur bercampur darah?

2. Apakah kaki dan baju saya terkena najis karena terkena air bekas kumur untuk menghilangkan darah di mulut ?

Terimakasih ustadz, mohon bantuannya karena saya sangat bingung

JAWABAN HUKUM GUSI BERDARAH SAAT SHALAT

1. Darah yang berasal dari tubuh sendiri, seperti darah gusi atau darah gigi, itu dimaafkan. Bahkan saat shalat pun kalau pas keluar darah tidak membatalkan shalat.

Hukum gusi berdarah saat Shalat : Pendangan madzhab Syafi’i

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 2/62, menyatakan:

احتج أصحابنا بحديث جابر (أن رجلين من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم حرسا المسلمين ليلة في غزوة ذات الرقاع، فقام أحدهما يصلي، فجاء رجل من الكفار فرماه بسهم فوضعه فيه، فنزعه، ثم رماه بآخر، ثم بثالث، ثم ركع وسجد ودماؤه تجري) رواه أبو داود في سننه بإسناد حسن، واحتج به أبو داود. وموضع الدلالة أنه خرج دماء كثيرة واستمر في الصلاة، ولو نقض الدم لما جاز بعده الركوع والسجود وإتمام الصلاة، وعلم النبي صلى الله عليه وسلم ذلك ولم ينكره.

Artinya: Ulama madzhab Syafi’i berargumen dengan hadis Jabir … riwayat Abu Dawud. Letak argumennya adalah bahwa Sahabat Nabi keluar darah yang banyak saat shalat. Seandainya darah itu membatalkan shalat niscaya tidak boleh rukuk, sujud dan menyempurnakan shalat setelah terjadinya luka. Dan peristiwa itu diketahui Nabi dan beliau tidak mengingkarinya.

Darah dan Nanah sendiri Hukumnya Dimakfu secara mutlak

Ibnu Naqib Abul Abbas Al-Mishri dalam kitab Umdatus Salik wa Uddatun Nasik, hlm. 1/40, menyatakan:

وأما الدم والقيح: فإن كان من أجنبي عفي عن يسيره، وإن كان من المصلي عفي عن قليله وكثيره، سواء خرج من بثرة عصرها أو من دمل أو من قرح أو فصد أو حجامة أو غيرها

Artinya: Darah dan nanah hukumnya dirinci. Apabila dari orang lain maka dimaafkan yang sedikit. Apabila berasal dari diri sendiri (orang yang shalat) maka dimaafkan baik sedikit atau banyak. Sama saja keluar dari jerawat yang dipencet, bisul, luka, atau bekam.

Khatib Syirbini dalam Mughnil Muhtaj, hlm. 1/297, menyatakan:

الأظهر العفو عن قليل دم الأجنبي من نفسه كأن انفصل منه ثم عاد إليه… وكذا لو أخذ دما أجنبيا ولطخ به بدنه أو ثوبه فإنه لا يعفى عن شيء منه لتعديه بذلك …ومحل العفو عن سائر الدماء ما لم يختلط بأجنبي، فإن اختلط به، ولو دم نفسه كأن خرج من عينه دم أو دمت لثته لم يعف عن شيء منه.

Artinya: Pendapat yang paling zhahir adalah dimakfu adanya darah sedikit dari orang lain yang berasal dari dirinya sendiri seperti darah yang terpisah darinya lalu kembali padanya… begitu pula apabila ia mengambil darah orang lain lalu melumurkan darah itu ke badan atau bajunya maka hal itu tidak dimaafkan walaupun sedikit karena dianggap sembrono.. Letak dimakfunya dari darah adalah selagi tidak bercampur dengan yang lain. Apabila bercampur dengan darah orang lain walaupun itu darahnya sendiri, seperti keluar darah dari matanya atau gusinya keluar darah, maka tidak dimaafkan walaupun sedikit.

Kesimpulan Hukum Gusi berdarah dan Tubuh Lainnya

1. Darah yang keluar dari gigi dan gusi dari mulut sendiri hukumnya dimakfu (dimaafkan). Karena itu darah yang mengenai baju dan tangan anda dimaafkan.

2. Darah sendiri yang keluar saat shalat juga dimaafkan. Baik sedikit atau banyak.

3. Darah orang lain yang mengenai kita dimaafkan apabila sedikit. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Cara bertanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.