Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama

Spread the love

Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama

Kebenaran dalam pendapat keagamaan

Kebenaran dalam matematika bisa jadi hanya satu. 2×2=4. Tidak ada yang lain. Tapi kebenaran dalam agama itu tidak memakai logika matematis. Kebenaran bisa ada dalam dua, tiga, empat bahkan 99 pendapat ulama yang berbeda-beda. Itu ada dalam pandangan fikih ulama mazhab empat. Juga ada dalam pandangan akidah ulama madzhab tiga (Asy’ariyah, Mautiridiyah, madzhab Salaf/ahli hadits). Termasuk dalam berbagai masalah yang lain.

Orang yang mempertanyakan siapa yang benar terkait lebaran Idul Adha atau Idul Fitri yang berbeda, sudah melakukan kesalahan dari sejak dia mengajukan pertanyaan itu sendiri.

Dan orang yang “menegaskan tanpa ragu” bahwa pendapat A adalah yang benar sedangkan pendapat B salah, sudah masuk kategori “ahmaq” atau “hamqa”. Yakni, orang yang tidak tahu esensi dasar ilmu agama, tapi merasa dirinya memiliki kapasitan keilmuan seperti ulama level mujtahid.

***

Legalitas kebenaran paradigma ini secara eksplisit ditegaskan dalam Al-Sunnah:

عن عمرو بن العاص -رضي الله عنه- أنه سمع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: «إِذَا حَكَمَ الحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثم أَصابَ فله أَجْرَان، وإِذا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثم أَخْطَأَ فله أَجْرٌ».

“Apabila seorang Hakim berijtihad kemudian ia benar, maka ia memperoleh dua pahala. Dan apabila ia berijtihad namun salah maka ia memperoleh satu pahala.” (Muttafaq alaih)

Baca juga: Pesan Pengasuh

Bagi santri tingkat lanjut, berikut penjelasan hadits ini dari An-Nawawi dalam Syarah Muslim, hlm. 12/378

وقد اختلف العلماء في أن كل مجتهد مصيب أم المصيب واحد ، وهو من وافق الحكم الذي عند الله تعالى والآخر مخطئ لا إثم عليه لعذره ؟ والأصح عند الشافعي وأصحابه أن المصيب واحد ، وقد احتجت الطائفتان بهذا الحديث ، وأما الأولون القائلون : ( كل مجتهد مصيب ) فقالوا : قد جعل للمجتهد أجر فلولا إصابته لم يكن له أجر ، وأما الآخرون فقالوا : سماه مخطئا ، لو كان مصيبا لم يسمه مخطئا ، وأما الأجر فإنه حصل له على تعبه في الاجتهاد ، قال الأولون : إنما سماه مخطئا لأنه محمول على من أخطأ النص أو اجتهد فيما لا يسوغ فيه الاجتهاد كالمجمع عليه وغيره ، وهذا الاختلاف إنما هو في الاجتهاد في الفروع ، فأما أصول التوحيد فالمصيب فيها واحد بإجماع من يعتد به ، ولم يخالف إلا عبد الله بن الحسن العبتري وداود الظاهري فصوبا المجتهدين في ذلك أيضا ، قال العلماء : الظاهر أنهما أرادا المجتهدين من المسلمين دون الكفار . والله أعلم .

Baca juga: Perbedaan soal najis anjing

Tinggalkan komentar