Pesan Pengasuh pada Santri Al-Khoirot

Spread the love

Pesan Pengasuh pada Santri Al-Khoirot

Pesan 1

SANTRI DAN PEMANDU SORAK POLITIK

Santri NU (kultural atau struktural) dikenal sebagai santri yang tawadhu, sopan santun, menghormati para ustadz dan kyai. Baik kyai tempat dia mondok maupun kyai lain. Selalu mencium tangan setiap kali bertemu kyai. Baik pengasuh pesantren atau kyai penceramah atau kedua-duanya.

Baca juga: Manhaj dan Akidah PP Al-Khoirot

Tapi itu dulu...

Sekarang, penghormatan santri pada kyai tergantung pada kubu politik. Termasuk juga, kebencian di luar batas diarahkan pada ulama yang bersebarangan secara politik. Terutama politik pilpres. Terutama pilpres 2014 dan 2019.

Santri pendukung capres A akan hormat pada kyai pendukung capres A. Santri pendukung capres B akan hormat pada kyai pendukung capres B.

Kepada kyai yang tidak sekubu dalam pilpres, mereka tidak hanya tidak hormat, tapi lebih dari itu mereka bisa membuli, menghina, memaki, mengumpat dengan umpatan terburuk dan ternista. Itu tanda santri belum saatnya menjadi pemandu sorak yang baik.

Dan sikap nista itu tidak terbatas hanya pada saat pilpres berlangsung. Itu bisa berlanjut beberapa tahun setelah pilpres selesai. Setelah salah satu capres terpilih dan satunya lagi menjadi menteri. Kasus salah seorang mubaligh yang melakukan kesalahan saat membaca dalil dari kitab kuning lalu menjadi santapan bulian santri dari kubu politik berbeda cukup mengingatkan kaum santri bahwa mereka belum siap berbeda dalam politik. Walaupun hanya politik kelas pemandu sorak (cheer leader).

Saya berharap semua santri menyadari kesalahan fatal ini dan segera berubah. Khususnya santri Pondok Pesantren Al-Khoirot untuk tidak bersikap dan berakhlak senista dan sesempit ini. Karena akhlak mulia mengalahkan sekat-sekat perbedaan politik, perbedaan suku, perbedaan ormas, perbedaan aliran dan bahkan perbedaan agama.

Kalau sekiranya keberpihakan dalam politik praktis berakibat terkikisnya akhlak mulia pada para ulama dan pada sesama manusia, maka bersikap netral dan apolitis bukan hanya jalan terbaik tapi menjadi keharusan. Karena santri tanpa akhlak jauh lebih buruk daripada orang awam yang tidak berbudi pekerti (فساد كبير عالم متهتك).

***

PESAN 2

Sekarang ini banyak yg ngaku Aswaja (Nahdliyah) yg ke-aswaja-annya hanya sebatas tahlil, ziarah kubur dan maulid saja. Di luar itu sudah tidak beda dengan kaum Khawarij yg ngamukan pada penguasa dan pada yg berbeda selalu memberi stigma (stempel) aneh2. Siapapun yg merasa seperti itu, itu tanda dia berada di lingkungan yang kurang sehat. Direkomendasikan mencari lingkungan yg lebih kondusif.

***

PESAN 3

Pernyataan Pondok Pesantren Al-Khoirot (PPA) Malang terkait Pilpres 2019 sbb:
1. PPA tidak mengarahkan santri, wali santri, alumni dan simpatisan untuk memilih salah satu calon. Pilihan diserahkan pada masing-masing individu berdasarkan akal sehat dan info yg dianggap benar dengan prinsip LUBER (Langsung Umum Bebas Rahasia).

2. Diserukan agar para santri, alumni dan simpatisan tidak mengkampanyekan salah satu calon secara terbuka untuk menghindari konflik antara komunitas yang berbeda pilihan;

3. Siapapun dari unsur di atas yg mengkampanyekan memilih salah satu calon dan/atau menyudutkan calon yang lain, maka itu atas nama pribadi dan tidak mewakili PPA sebagai lembaga.

4. Santri, guru dan pengurus yang masih aktif dilarang keras berbicara politik, khususnya terkait pilpres dan memprioritaskan pembahasan yang lebih bermanfaat meliputi proses belajar mengajar, keilmuan yang lain, dan peningkatan akhlak.

PPA Malang, 4 Desember 2019

Tinggalkan komentar