Profil KHM Amin Hasan Syuhud

KH Muhamad Amin Hasan Syuhud

Profil KHM Amin Hasan Syuhud. Kyai Amin adalah putra pertama KH. Syuhud Zayadi dan Dewan Pengasuh Konsultatif PP Al-Khoirot Malang.

Profil singkat KH. Muhammad Amin Hasan

Nama: Muhammad Amin Hasan
Orang tua: KH. Muhammad Syuhud Zayyadi dan Ny. Hj. Masluha Muzakki
TTL: Gondangelgi Malang, Selasa, 5 Agustus 1958; 19 Muharam 1378 H
Wafat: Pamekasan, Madura, Selasa, 8 Desember 2015 M; 25 Safar 1437 H.
Tempat pemakaman: Astah Pesantren Bata-bata, Pamekasan.
Istri: Ny. Hj. Ruqoyyah binti KH Ahmad Mahfuzh Zayyadi
Putra putri:
– Aminatus Sya’diyah
– Mohammad Muhajir
– Aisyah
– Sofiyah
– Amatur Rohmah
– Mohammad Ilyas
– Mohammad Zainuddin
– Abdullah

Jabatan:
– Dewan Pengasuh Darul Ulum Bata-bata, Pamekasan, Madura.
– Anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pamekasan.
– Dewan Konsultatif Pesantren Al-Khoirot Malang.
Masyayikh (Maha Guru):
– KH. Syuhud Zayyadi, PP Al-Khoirot, Malang.
– Sayid Muhammad Alawi Al-Maliki, Makkah.
– Syaikh Ismail Al-Yamani, Makkah.
– Syaikh Yasin Al-Fadani, Makkah.
– Para Masyayikh di Mahad Shalatiyah, Makkah.

Mengenang KH. M. Amin Hasan Syuhud (1958 – 8 Desember 2015)

Pada jam 03.00 hari Selasa 8 Desember 2015 bertepatan dengan 25 Shafar 1437 H., Kyai Muhammad Amin Hasan Syuhud meninggal dunia dalam usia 57 tahun. Beliau meninggal di Pamekasan, Madura tempat ia tinggal bersama istri dan kesembilan putranya.

KH. M. Amin Hasan adalah putra pertama dari pasangan KHM. Syuhud Zayyadi dan Ny. Hj. Masluhah Muzakki. Ia lahir di Jalan Murcoyo 180 Gondanglegi, Malang. Pada saat itu, Kyai Syuhud masih tinggal di Gondanglegi bersama Ny. Hj. Masluhah. Baru pada tahun 1963, Kyai Syuhud pindah ke Karangsuko dan mendirikan pesantren Al-Khoirot putra.

Pendidikan Awal

Seperti umumnya para putra Kyai Syuhud, pendidikan pertama Amin Hasan kecil adalah di rumah. Ia belajar mengaji Al-Quran pada ibu dan ayah. Pada saat Sekolah Dasar di pagi hari, ia juga pada siang harinya sampai sore belajar di Madrasah Diniyah Al-Khoirot dan lulus bersamaan dengan lulusnya pendidikannya di Sekolah Dasar. Selama dalam jenjang pendidikan dasar ini, ia juga belajar ilmu dasar bahasa Arab (Nahwu dan Sharat) dan fiqih dasar pada ayahnya.

Setelah lulus SD, Amin muda melanjutkan pendidikan ke SMP (Sekolah Menengah Pertama) negeri Kepanjen dan dilanjutkan ke SMA Negeri di Malang mengambil jurusan IPA. Konon, rencana Kyai Syuhud setelah lulus dari SMA akan dilanjutkan ke AKABRI. Selama menempuh studi di SMP dan SMA, ia tak lupa menyempatkan waktu untuk terus menghafal Al-Quran.

Namun takdir menentukan lain, Amin muda kemudian tidak jadi melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi dan berputar haluan mengambil jurusan agama ke Makkah Al-Mukarromah. Salah satu sebabnya adalah karena saat itu ia menjadi calon menantu dari KH.Ahmad Mahfudz, pengasuh Pondok Pesantren Bata-bata, Pamekasan Madura.

Menghafal Al-Quran saat SMP

Amin muda bukanlah pemuda biasa. Apabila remaja lain seusianya sibuk dengan sekolah dan selebihnya untuk main-main, maka ia gunakan waktunya untuk mempelajari pelajaran sekolahnya dan selebihnya untuk menghafal Al-Quran.

Tahfiz Al-Quran bukanlah kebiasaan yang umum saat itu. Namun Amin muda mulai menghafal Al-Quran sejak awal masuk SMP dan berlanjut sampai ia sekolah di SMA negeri Malang. Dan semua itu ia lakukan atas inisiatif sendiri. Ayah dan ibunya tidak menyuruhnya untuk melakukan itu.

Studi Agama di Makkah

Selama sekitar 5 tahun berada di Makkah, ia belajar pada beberapa masyayikh Ahlussunnah yang ada di Makkah seperti Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Syaikh Ismail Al-Yamani, Syaikh Yasin Al-Fadani dan beberapa masyayikh di Ma’had Sholatiyah.

Beliau dikenal sangat tekun dan fokus dalam belajar sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama ia menguasai hampir semua ilmu agama tingkat lanjut terutama tafsir dan hadits.

Menikah dan Tinggal di Madura

Setelah 5 tahun berada di Makkah, ia kembali ke tempat kelahirannya di Ponpes Al-Khoirot Malang sebelum akhirnya menetap di Akor, Pamekasan Madura bersama istri dan putra-putrinya dan menjadi keluarga besar Pesantren Bata-bata Pamekasan.

Pengabdian

Kyai Amin Hasan dikenal sebagai sosok yang sangat komitmen pada agama dan keilmuan. Pada tahun-tahun awal di Pamekasan, ia mengajar kitab di Pesantren Bata-bata dan menjadi dosen di Sekolah Tinggi Al-Khairat, Pamekasan. Selain itu, ia juga pernah aktif sebagai anggota MUI Pamekasan.

Secara berkala ia juga ikut aktif pada gerakan Jamaah Tabligh (JT) dan melakukan khuruj (keluar) ke beberapa tempat di Indonesia.

Walaupun ia lebih banyak aktif di Madura, namun ia tetap berstatus sebagai salah satu Dewan Pengasuh Konsultatif Pondok Pesantren Al-Khoirot. Dan untuk ini ia secara berkala berkunjung ke Al-Khoirot untuk melihat dinamika dan memberi saran dan nasihat berharga.

Sosok Sederhana dan Tak Cinta Dunia

Menurut Kyai Zuhri Zaini, pengasuh Ponpes Nurul Jadid Paiton, yang memberi sambutan terakhir pada saat pemakaman, Kyai Amin dikenal sebagai sosok yang sederhana yang tidak cinta dunia dan bahkan seperti tidak terpikir untuk mencari harta. Hari-harinya disibukkan untuk belajar, mengajar dan berdiskusi dengan sesama ulama Madura dan berdakwah melalui JT.

Pada hari Selasa, 8 Desember 2015, Kiai Amin Hasan menghembuskan napasnya yang terakhir menemui Rabb-nya meninggalkan 9 putra-putrinya sementara istrinya sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga semua amalnya diterima di sisi Allah. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.