Sikap Santri pada Putra Kyai

Sikap Santri pada Putra Kyai

Pemanjaan anak kyai oleh santrinya tanpa disadari telah membantu menciptakan karakter anak manja dan feodalistik pada si anak. Apalagi kalau ditambah dg pemanjaan oleh orangtuanya. Sebaik apapun karakter asal si anak, perlakuan ini akan mempengaruhinya sedikit atau banyak. Ciri karakter feodal antara lain: cinta pujian, sulit menerima kritik, merasa paling benar, sombong, sulit untuk menerima instruksi dari siapapun termasuk dari orangtuanya. Sebabnya: karena ia selalu merasa berada di posisi teratas dalam hirarki sosial. Ia merasa jadi raja, atau minimal jadi pangeran. Ia merasa berhak untuk memerintah, bukan diperintah.

Baca juga: Pesan Pengasuh

Oleh karena itu, santri sebaiknya bersikap proporsional pada anak kyai. Yaitu, diapresiasi apabila berbuat baik dan dikritik apabila melakukan kesalahan. Minimal tidak dipuji saat salah. Penghormatan pada anak kyai harus didasarkan pada kemaslahatan jangka panjang si anak.

Solusinya bagi anak kyai yg terlanjur menghadapi masalah ini adalah dengan menciptakan “interaksi sosial yang normal” dengan cara: belajar atau mondok yang jauh di tempat di mana tidak ada orang yang tahu bahwa dia adalah anak kyai. Dan dia harus merahasiakan identitasnya sebagai keluarga kyai. Sehingga dia dapat berinteraksi sosial secara bebas dan dapat menyadari kekurangan dan kelebihannya secara alami dan belajar dari situ.

Pelajaran terpenting yg bisa didapat dari kondisi “interaksi normal” ini adalah bahwa apresiasi atau pujian dari orang lain itu harus diusahakan. Tidak gratis. Dengan cara berakhlak mulia pada sesama dan menggapai prestasi akademis semaksimal mungkin.

Karakter yg baik dan kuat sama pentingnya dg kedalaman ilmu.

***

Untuk kalangan muslim “priyayi”, anak harus diberi pemahaman dan pembiasaan bahwa kemuliaan dan penghargaan orang padanya itu tidak gratis. Itu harus dicari dan diperjuangkan (dengan pendidikan tinggi, pengabdian dan akhlak mulia). Salah besar orang tua yang mendoktrin anaknya dengan keyakinan bahwa dia keturunan orang mulia sejak lahir. Doktrin seperti itu seperti gol bunuh diri berkali-kali. Si anak akan bermental delusional, penuh khayal dan sakit psikologisnya.

Sama besarnya kesalahan sebagian orang dari kalangan “non-priyayi” yang mengira nasib mereka akan terus berada di bawah walau setinggi apapun pendidikan, pengabdian dan ketinggian akhlaknya.
Bacaan lanjutan: Pendidikan anak kyai (2)

***

Kalau ada anak kyai bandel, itu kesalahan siapa? ada tiga kemungkinan: a) salah santrinya dan orangtuanya yg terlalu memanjakannya; b) salah santrinya yg terlalu memanjakannya, walaupun orangtuanya tidak memanjakannya. c) salah orangtuanya yang walaupun tidak memanjakannya tapi juga kurang memperhatikan/kurang maksimal dalam memberikan pendidikan karakter padanya.

Baca artikel ini: Pendidikan Anak Kyai (1)

***

Tanda kemunduran suatu kelompok adalah ketika mereka merasa mulia sejak lahir tanpa harus berusaha mencapai kemuliaan itu dengan pendidikan yang tinggi, pengabdian pada masyarakat yang nyata dan memuliakan sesama manusia apapun latarbelakangnya.

Tinggalkan komentar