Visi Misi Pesantren

Visi Misi Pesantren

Visi Misi Pesantren pada umumnya adalah mendidik para santri agar memiliki keseimbangan yang kokoh dan solid dalam dua unsur penting yaitu ilmu dan akhlak mulia atau ilmu dan amal. Kompetensi dan integritas. Dua hal ini sama-sama penting menjadi bagian inheren yang tak terpisahkan dalam diri manusia. Tidak memiliki salah satunya akan menjadi pincang. Apalagi tanpa keduanya. Cetak biru dan tujuan pesantren Al-Khoirot dapat dilihat pada filosofinya.

Daftar Isi

VISI DAN MISI PESANTREN AL-KHOIROT

I. Visi dan misi pesantren adalah menciptakan kondisi pendidikan berkualitas tinggi yang holistik dan komprehensif tidak hanya dalam bidang keilmuan agama, umum dan soft-skill (keterampilan), tapi juga pendidikan perilaku (attitude) atau akhlak mulia yang meliputi akhlak syariah, akhlak universal dan akhlak lokal.

II. Memberi kesempatan pada generasi muda untuk dapat menikmati pendidikan berkualitas tinggi di bidang agama dan umum tanpa memandang status sosial dan ekonomi. Salah satunya adalah dengan menekan biaya pendidikan pada level yang dapat dicapai oleh berbagai kalangan, khususnya yang tidak mampu.

Penghargaan diberikan berdasarkan pada prestasi dan perilaku. Begitu juga, hukuman akan dikenakan pada siapa saja yang tidak mengikuti tatacara perilaku dan kepantasan sosial dan agama. Tanpa memandang latar belakang status sosial yang disandangnya.

GAMBARAN SINGKAT TENTANG PONPES AL-KHOIROT

Apa kalimat singkat (catch phrase) yang dapat menggambarkan realitas sistem pesantren Al-Khoirot secara utuh? Berikut pendapat beberapa santri, alumni, dan wali santri tentang PPA Malang:

  • “Pesantren salaf dengan sistem modern.”
  • “Pesantren salaf yang ada sekolah formalnya.”
  • “Pesantren modern, tapi tidak mahal.”
  • Pondok modern dengan nuansa salaf.
  • Ponpes salaf / salafiyah, tapi bukan Salafi/Wahabi.

Itulah jargon atau motto yang mewakili realitas Pondok Pesantren Al-Khoirot (PPA) Malang. Sebuah pesantren dengan sistem salaf yang salah satu core values-nya adalah kemampuan baca kitab kuning atau literatur Islam klasik, tahfidzul Quran dan sikap santun kesantrian.

PPA disebut modern karena juga menerapkan sisi-sisi positif kemodernan seperti disiplin, kemampun Bahasa Arab modern, adanya sekolah formal, dan lain-lain.

FALSAFAH HIDUP ISLAM SANTRI AL-KHOIROT

Sebagai pusat penggemblengan ilmu-ilmu agama Islam dan nilai-nilai keislaman, maka Pondok Pesantren Al-Khoirot (PPA) mendasarkan falsafah hidup santri pada ajaran dan prinsip Islam yang terkandung dalam Al-Quran, hadits, perilaku Sahabat & Tabi’in (Salafus Salih), dan para Ulama terdahulu yang dikenal sebagai al-ulama al-amilun yang secara singkat diterjemahkan ke dalam poin-poin dasar berikut:

1. GAYA HIDUP SEDERHANA

Santri dididik dan dilatih untuk berpola hidup sederhana karena kesederhanaan adalah induk dari kebajikan perilaku duniawi dan ukhrawi. Santri dilarang berpola hidup mewah dan konsumtif karena ia merupakan induk dari segala kejahatan, korupsi dan keserakahan yang dilarang keras dalam Islam. Dalam QS Al-Qashah ayat 78-79 Allah berfirman:

‘Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka (Al-Qashash ayat 78).

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.'(Al-Qashash ayat 79)

Komitmen terhadap gaya hidup sederhana bukan berarti menolak menjadi kaya.

Sebaliknya, santri dianjurkan untuk menjadi individu yang berharta. Semakin kaya semakin baik asalkan harta yang didapat dicapai dengan cara yang halal dan tidak melupakan perintah syariah untuk mengeluarkan zakat dan mendermakan sebagian harta di luar zakat untuk para dhuafa dan lembaga sosial Islam.

Gaya hidup sederhana adalah pilihan, saat kita mampu untuk hidup mewah dengan harta yang dimiliki. Dalam QS Al-Qashash ayat 77 Allah berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

2. SANTRI DIANJURKAN KERJA KERAS DAN KAYA TAPI DENGAN CARA HALAL DAN TIDAK KONSUMTIF

Santri Al-Khoirot dianjurkan dan dilatih untuk menjadi sosok individu yang rajin belajar dan pekerja keras serta memiliki skill individu yang tinggi.

Konsekuensi dari dua faktor ini – kerja keras dan keterampilan tinggi- adalah ia akan menjadi sosok individu yang mudah mendapatkan pekerjaan atau inovatif dalam menciptakan lapangan kerja. Yang pada gilirannya, tidak akan sulit untuk menjadi sosok yang berharta dan berkecukupan secara materi.

Perintah untuk bekerja keras secara eksplisit dan tegas disebut dalam Al-Quran QS Al-Jumah ayat 10: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk tidak libur bekerja bahkan pada hari Jumat sekalipun kecuali menyediakan waktu sebentar untuk melaksanakan shalat Jum’at (QS Al-Jumuah : 9).

Namun, pada waktu yang sama, gaya hidup sederhana, tidak hedonistik, bersikap santun, rendah hati, menjauhi gaya hidup mewah dan konsumtif serta empati pada kaum fakir miskin, tetap menjadi komitmen bersama yang menjadi kewajiban seluruh santri Al-Khoirot di manapun mereka berada dan dalam kondisi apapun serta setinggi apapun jabatan yang dipegang.

3. MENUNTUT ILMU SEPANJANG MASA

Setelah selesai belajar dan mondok di PPA, Santri Al-Khoirot hendaknya terus menuntut ilmu sepanjang hayat di kandung badan. Baik melalui lembaga pendidikan tinggi formal dari S1, S2 S3; melalui lembaga pendidikan non-formal seperti mengikuti berbagai pelatihan yang dapat meningkatkan kemampuannya; dan rajin membaca berbagai buku yang berkualitas. Baik ilmu umum maupun ilmu agama sesuai dengan ketertarikan masing-masing.

Santri Al-Khoirot tidak boleh pelit dalam menyumbangkan ilmunya pada mereka yang membutuhkan keahliannya baik dengan imbalan materi atau sukarela. Keilmuan yang disumbangkan kepada siapa saja yang membutuhkan harus diniati sebagai amal soleh dan amal jariyah yang akan terus mengalir sampai mati.

4. TOLERANSI DALAM PERBEDAAN DAN KEBERAGAMAN INDONESIA

Toleransi adalah salah satu nilai ajaran Islam. Terhadap orang non-muslim sekalipun santri diperintahkan Allah untuk berbuat baik selama mereka tidak menjahati kita. Allah berfirman dalam QS Al-Mumtahanah : 8 “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Apabila kepada non-muslim saja kita diperintahkan untuk berbuat baik dan toleran, apalagi kepada sesama muslim yang seiman dan seagama. Gema toleransi harus terus didengungkan untuk menyadarkan diri kita sendiri akan pentingnya hidup damai dalam suasana perdamaian; dan sebagai respons pada kalangan suara minoritas dalam umat yang meneriakkan antitoleransi dengan bersembunyi di balik jargon “atas nama pemurnian agama.”

5. DAKWAH DENGAN KATA DAN PERBUATAN

Berdakwah adalah salah satu perintah Allah dan RasulNya. Mengajak orang pada kebaikan dan mencegah dari kejahatan (amar makruf nahi munkar) adalah perintah eksplisit Allah seperti tersebut dalam QS Ali Imron ayat 110 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…”

Dalam ayat tersebut Allah mengisyaratkan bagi pelaku dakwah agar menjadi orang yang terbaik lebih dulu sebelum memperbaiki orang lain. Gelar “umat terbaik” tentu saja tidak serta merta pantas disematkan pada setiap individu muslim. “Umat terbaik” hanya pantas dianugerahkan pada individu muslim yang memang mentaati ajaran Islam secara kaffah dan komprehensif: melakukan yang wajib dan halal dan menjauhi larangan Islam.

Selain itu, Allah mengingatkan pada umat Islam, bahwa dakwah itu harus dilakukan secara baik agar mendapatkan hasil yang baik pula. Dalam QS An-Nahl : 125 “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Dakwah dapat dilakukan dengan tutur kata yang baik atau dengan perilaku keseharian yang inspiratif. Yang terakhir ini disebut dengan dakwah dengan perbuatan (bilhal). Dakwah bilhal dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti menunjukkan sikap sosial yang baik kepada sesama manusia. Melakukan berbagai kegiatan bantuan sukarela kepada siapa saja tanpa memandang suku, ras, dan agama orang yang dibantu.

6. JADI PENYEJUK BUKAN PROVOKATOR

Santri Al-Khoirot yang aktif dalam aktivitas sosial, baik dalam dakwah maupun kegiatan lainnya, hendaknya selalu menjadi penyejuk hati umat di sekitarnya. Hindari menjadi provokator yang selalu memanas-manasi situasi. Jadi penyejuk umat tidak bisa dilakukan kecuali apabila:

a) Kritis dan skeptis serta tidak mudah percaya pada berita yang beredar sebelum cek dan ricek. Baik dari berita online, dari medsos, bahkan dari mulut seorang ulama dan habaib sekalipun sebelum ada bukti otentik berdasarkan fakta akurat yang tak terbantahkan.

b) Menyadari bahwa menjadi penyejuk hati umat adalah syariah terbaik yang diperintahkan Al Quran dan dicontohkan oleh Rasulullah. Sebaliknya, menjadi provokator adalah sikap iblis yang bahagia melihat umat Islam dan NKRI terpecah dan saling benci.

c) Menghindari sikap partisan atau membela kandidat politik tertentu (presiden, kepala daerah, anggota legislatif) secara berlebihan karena sikap ini termasuk unsur yang akan membuat seorang muslim menjadi pemecah belah umat.

Berbeda pilihan politik adalah hal biasa sebagaimana biasanya kalah dan menang dalam suatu pertandingan. Dan menyikapinya juga harus tidak berlebihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.