Metode Al-Miftah Sidogiri di Al-Khoirot

Metode Al-Miftah Sidogiri di Al-Khoirot Malang

Al-Miftah Sidogiri yang bernama lengkap Al-Miftah lil Ulum adalah suatu metode cara membaca kitab kuning dengan sistem cepat. Metode ini terinspirasi dari metode serupa yang ada sebelumnya seperti Amtsilati yang dibuat oleh KH Taufiqul Hakim, pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah, Bangsri, Jepara, Jawa Tengah. Dan Nubdzatul Bayan yang digagas oleh KH. Bayan A. Mahfudz, pengasuh Pondok Pesantren Al-Majidiyah, Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Sedangkan Al-Miftah lil Ulum dibuat oleh Ustadz Qusyairi, salah satu pengajar senior di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur.

Metode Al-Miftah digunakan Al-Khoirot sebagai bagian dari sistem akselerasi bagi santri baru yang pendidikan formalnya masuk Madrasah Aliyah (MA).

Seperti diketahui, berdasarkan peraturan yang berlaku di Al-Khoirot bahwa santri reguler wajib mengikuti dua pendidikan sekaligus: yaitu pendidikan formal di pagi sampai siang hari (jam 07.00 s.d 12.00) dan pendidikan madrasah diniyah (madin) di siang sampai sore hari (13.30 s.d 15.30). Umumnya, mereka akan berhenti mondok ketika sudah lulus MA/SLTA terlepas apakah madin-nya sudah lulus atau belum. Selama ini, santri reguler yang masuknya ke Al-Khoirot langsung masuk MA/SLTA, di madin masuk kelas 1 Ibtidaiyah dan berhenti dari pondok ketika kelas 3 ibtidaiyah. Ini berbeda dengan santri reguler yang masuk pondok sejak MTS/SLTP. Biasanya ia akan belajar di Al-Khoirot selama 6 tahun sampai lulus MA/SLTA dan sekaligus akan lulus pendidikan madin-nya di kelas 6 ibtidaiyah.

Agar santri reuler yang langsung masuk MA/SLTA bisa lulus dari madin bersamaan dengan lulusnya dari MA/SLTA, maka sejak tahun 2020 diberlakukan sistem akselerasi khusus.

Akselerasi yang dimaksud adalah, siswa MA yang baru akan mengikuti program khusus Al-Miftah selama satu tahun. Setelah itu, pada tahun kedua akan diikutkan madrasah diniyah langsung kelas 5 setelah dinyatakan lulus tes. Sehingga, saat siswa ini lulus MA, ia juga akan lulus Madrasah Diniyah Ibtidaiyah kelas 6.

Program Al-Miftah selama dua semester ini sudah berjalan tiga tahun di madin putra (sejak tahun ajaran 2020-2021) dan tahun pertama untuk madin putri (sejak tahun ajaran 2022-2023). Dan selama ini berjalan cukup baik. Dalam arti, santri madin kelas 5 yang berasal dari program Al-Miftah, tidak kalah prestasinya dibanding santri madin yang berasal dari kelas 1. Yakni mereka yang sekolah formal sejak MTS/SLTP dan masuk madin sejak kelas 1.

Terutama, dalam tiga mata pelajaran pokok yaitu ilmu nahwu/shorof, baca kitab dan fikih Fathul Qorib. Tiga keahlian yang menjadi ciri khas pondok salaf.

Namun tidak ada gading yang tak retak, begitu kata pepatah. Kemampuan santri MA masih kalah dengan santri MTS di bidangĀ  lain, yaitu bahasa Arab modern. Karena, bahasa Arab modern hanya dipelajari di kelas 1 sampai kelas 4 madin. Kekurangan ini tidak perlu dikuatirkan, karena yang berminat untuk menguasai bahasa Arab modern bisa mengikuti program lughah yang merupakan program khusus bahasa Arab modern di Al-Khoirot.

Intinya, dengan sistem akselerasi ini, maka siswa formal Aliyah, dapat lulus bersamaan antara MA-nya dengan madrasah diniyah-nya dalam waktu 3 tahun. Sehingga, diharapkan ilmu dari madrasah diniyah, berupa kemampun ilmu nahwu/shorof, baca kitab, dan Fathul Qarib, dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan mengajarkannya pada siapapun yang mau belajar padanya saat santri terkait melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi atau di masyarakat umum.[]

Tinggalkan komentar