Terjemah Jawahirul Kalamiyah

terjemah jawahirul kalamiyah

Terjemah Jawahirul Kalamiyah karya Al-Jazairi adalah kitab yang membahas ilmu dasar-dasar akidah tauhid Asy’ariyah yang dianut oleh mayoritas muslim Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) di Indonesia dan seluruh dunia.

Nama kitab: Terjemah Jawahirul Kalamiyah
Nama kitab asal: Al-Jawahir Al-Kalamiyah fi Idah Al-Aqidah Al-Islamiyah ( الجواهر الكلامية في إيضاح العقيدة الإسلامية)
Nama lain kitab kuning: Al-Jawahir Al-Kalamiyah
Penulis: Tahir bin Saleh Al-Jazairi (wafat. 895 H) (طاهر بن صالح الجزائري)
Penerjemah: Ibnu Hasan Al-Malanjy
Bidang studi: Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) Asy’ariyah, ilmu kalam, ushuluddin.

DAFTAR ISI
Muqoddimah
Pengantar Akidah Islamiyyah
Pembahasan Pertama Iman Kepada Allah
Pembahasan Kedua Iman Kepada Malaikat Allah
Pembahasan Ketiga Iman Kepada Kitab Allah
Pembahasan Keempat Iman Kepada Nabi dan Rasul Allah
Pembahasan Kelima Iman Kepada Hari Akhir
Pembahasan Keenam Iman Kepada Takdir (Qadla’ dan Qadar)
Penutup: Cara Mengenal Hakikat Allah

MUQADDIMAH

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Segala puji bagi Allah, Shalawat dan salam semoga tercurah ke atas junjungan kita Nabi Muhammad beserta para keluarga dan shahabat nya sekalian.
Waba’du,

Ini adalah risalah yang berisi tentang masalah yg penting dalam ilmu kalam (tauhid) yg mudah untuk difahami. Saya menulisnya dalam bentuk tanya jawab
dan memberi contoh-contoh yg mudah difahami oleh para pencari ilmu.

Syaikh Thahir bin Shalih Aljazairi

PENGANTAR AKIDAH ISLAMIYYAH

Terdiri atas 4 masalah

Tanya Apakah makna ‘aqidah Islamiyyah ?

Jawab ‘Aqidah Islamiyyah ialah perkara2 yg wajib diyakini oleh orang Islam yakni hal hal yg diyakini secara mantap oleh orang Islam akan kebenarannya

Tanya Apakah makna Islam ?

Jawab Islam adalah mengucapkan dengan lisan (Bershahadat), Membenarkan dengan hati bahwa segala sesuatu yg dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alihi Wasallam itu haq dan benar.

Tanya Apakah rukun2 Akidah Islamiyyah atau asas2nya ?

Jawab Rukun2 akidah Islamiyyah ada 3nam perkara :
1. Beriman kepada Allah Ta’ala
2. Beriman kepada Malaikat Allah
3. Beriman kepada Kitab yg diturunkan Allah
4. Beriman kepada Utusan2 Allah
5. Beriman kepada hari Kiamat
6. Beriman kepada ketentuan Allah, baik yg baik maupun yg buruk

PEMBAHASAN PERTAMA: IMAN KEPADA ALLAH SUBHAANAHU WATA’ALA

Tanya Bagaimana cara beriman kepada Allah Subhaanahu Wata’ala ?

Jawab Yaitu hendaklah meyakini bahwa Allah Subhaanahu Wata’ala memiliki segala sifat yg sempurna dan jauh dari sifat kekurangan.

Tanya Bagaimana cara beriman kepada Allah Subhaanahu Wata’ala secara lebih rinci ?

Jawab Hendaklah meyakini bahwa Allah Subhaanahu Wata’ala memiliki sifat : Wujud (Ada), Qidam (dahulu), Baqa (Kekal), Mukhaalafatu Lilhawaadits (Berbeda dengan Makhluk), Qiyaamuhu Binafsih (Mandiri dan tidak membutuhkan yg lain), Wahdaaniyyah (Maha Esa), Hayah (Hidup), ‘Ilm (Mengetahui), Qudrah (Berkuasa), Iraadah (Berkehendak), Sama’ (Mendengar), Bashar (melihat), Kalam (Berbicara). Dan meyakini bahwasanya Allah itu adalah Al Hayyu (Maha Hidup), ‘Aliimun (Maha Mengetahui), Qaadirun (Maha Berkuasa), Muriidun (Maha Berkehendak) Samii’un (Maha Mendengar) Bashiirun (Maha Melihat) dan Mutakallimun (Maha Berbicara)

Tanya Bagaimana cara meyakini Wujud (Keberadan) Allah ?

Jawab Hendaklah meyakini bahwa Allah itu ada, dan keberadaanNya DzatNya itu ada dengan sendirinya tanpa memerlukan wasilah atau perantara. Dan meyakini bahwa keberadaanNya itu wajib adanya, tidak mungkin Dia pernah tiada.

Tanya Bagaimana cara meyakini Dahulu (Qidam) nya Allah ?

Jawab Hendaklah kita meyakini bahwasanya Allah itu Maha Dahulu adaNya, yakni Allah itu ada sebelum adanya sesuatu selainNya, dan bahwasanya Dia tidak terikat waktu dan keberadaanNya tanpa awal.

Tanya Bagaimana cara meyakini Kekekalan (Baqa’) Allah ?

Jawab Hendaklah meyakini bahwasanya Allah itu Dzat yg kekal abadi dan kekekalanNya tersebut tanpa batas akhir. Dan hendaklah meyakini bahwasanya Dia tidak pernah berubah sama sekali serta Dia tidak pernah bersifat tiada pada pada waktu tertentu (kekekalanNya tidak terikat ruang dan waktu).

Tanya Bagaimana cara meyakini bahwa Allah itu bersifat Mukholafatu Lil Hawaadits (Berbeda dengan segala hal yg baru / makhluk )?

Jawab Hendaklah kita meyakini bahwasanya Allah tidak menyerupai sesuatupun, baik DzatNya, sifatNya maupun perbuatanNya.

Tanya Bagaimana cara meyakini bahwa Dzat Allah itu berbeda dengan segala hal yg baru / makhluk ?

Jawab Hendaklah meyakini bahwasanya Dzat Allah itu tidaklah sama dengan makhluk ciptaanNya, berupa wajah misalnya. Segala hal yang kita lihat atau bayangkan dalam hati maka Allah tidaklah seperti bayangan tersebut. Laitsa Kamitslihi Syaiun (Tiada satupun yg serupa denganNya)

Tanya Bagaimana cara meyakini bahwa Sifat Allah itu berbeda dengan sifat segala hal yg baru / makhluk ?

Jawab Hendaklah meyakini bahwasanya ‘ilmu (pengetahuan) kita tidak sama dengan pengetahuan Allah, Qudrah (Kekuasaan) kita tidak sama dengan kekuasaan Allah, Iradah (kehendak) kita tidak sama dengan kehendak Allah, Hayah (sifat hidup) kita tidak sama dengan sifat hidupnya Allah, sifat mendengar (Sama’) kita tidak sama dengan sifat mendengar Allah, Bashar (sifat melihat) kita tidak sama dengan pendengaran Allah dan Kalam (sifat berbicara) kita tidak sama dengan sifat kalam Allah.

Tanya Bagaimana cara meyakini bahwa Perbuatan Allah itu berbeda dengan perbuatan segala hal yg baru / makhluk ?

Jawab Hendaklah kita meyakini bahwasanya perbuatan Allah Subhanahu Wata’ala tidak serupa dengan perbuatan makhluqNya, karena Dia dalam berbuat sesuatu tidak membutuhkan perantara maupun alat.

Firman Allah dalam surat yasin Ayat 82 : Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. Dan hendaklah meyakini, bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tidak berarti karena Dia membutuhkannya. Juga kita harus meyakini bahwa Dia tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia atau tanpa guna, karena Dia bersifat Maha Bijaksana.

Tanya Bagaimana cara meyakini Kemandirian Allah (Qiyamuhu Binafsihi) ?

Jawab Hendaklah kita meyakini bahwasanya Allah Subhaanahu Wata’ala tidak membutuhkan sesuatu apapun, Dia tidak butuh tempat dan tidak membutuhkan makhluk sama sekali. Dia Maha Kaya dan tidak membutuhkan apapun, bahkan segala sesuatu lah yang membutuhkan Allah Subhaanahu Wata’ala.

Tanya Bagaimana cara meyakini Kehidupan Allah (Hayah / hayat) ?

Jawab Hendaklah kita meyakini bahwasanya Allah Subhaanahu Wata’ala Maha Hidup dan bahwa kehihidupan Allah tidak seperti hidup kita. Karena sesungguhnya kehidupan kita membutuhkan perantara seperti mengalirnya darah dan nafas sedangkan kehidupan Allah tanpa memerlukan apapun. Kehidupan Allah itu bersifat dahulu (Qodim), kekal (Baqo’) dan kehidupanNya tiada pernah hilang maupun berubah sama sekali.

Tanya Bagaimana cara meyakini bahwa Allah itu bersifat Wahdaniyyah (Maha Esa) ?

Jawab Hendaklah kita meyakini bahwasanya Allah itu Satu dan tidak memiliki teman atau sekutu. Tidak ada yg menyamai maupun menyerupaiNya. Tiada lawan yg sebanding maupun penggantiNya.

Tanya Bagaimana cara meyakini bahwa Allah itu bersifat ‘Ilm (Maha Berpengetahuan) ?

Jawab Hendaklah kita meyakini bahwasanya Allah itu memiliki sifat Maha Berpengetahuan dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Mengetahui segala hal, baik yang tampak maupun yg tidak. Dia mengetahui jumlah pasir, titik air hujan maupun daun pepohonan. Dia Mengetahui hal yg rahasia maupun yg jelas. Tidak ada yg bisa bersembunyi dari Nya. Dan hendaklah kita meyakini bahwasanya pengetahuan Allah itu tidak membutuhkan usaha meraihnya, namun pengetahuan Allah akan segala sesuatu itu telah ada sejak zaman azali sebelum sesuatu itu ada.

Tanya Bagaimana cara meyakini Ke Maha Kuasaan Allah ?

Jawab Hendaklah kita meyakini bahwa Allah itu memiliki sifat Maha Kuasa dan bahwasanya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Tanya Bagaimana cara meyakini bahwa Allah itu Maha Berkehendak (Iradah / iradat)?

Jawab Hendaklah kita meyakini bahwa Allah itu memiliki sifat Iradah (Maha Berkehendak) dan Dia lah segala tujuan, tidak ada sesuatupun yg dapat terjadi tanpa kehendak Nya. Maka apa saja yang Dia kehendaki maka akan terjadi dan apapun yg tiada dikehendakiNya, maka tidak mungkin akan ada atau terjadi.

Tanya Bagaimana cara meyakini bahwa Allah itu Maha Mendengar (Sama’)?

Jawab Hendaklah kita meyakini bahwasanya Allah itu bersifat Maha Mendengar dan sesungguhnya Allah mendengar segala sesuatu baik nampak atau pun yg tersembunyi. Namun, pendengaran Allah Subhanaahu Wata’ala tidak seperti pendengaran kita , karena pendengaran kita sebagai makhluk memerlukan alat perantara berupa telinga sedangkan pendengaran Allah tanpa memerlukan perantara apapun.

Tanya Bagaimana cara meyakini bahwa Allah itu Maha Melihat (Bashar)?

Jawab Hendaklah kita meyakini bahwasanya Allah itu bersifat Maha Melihat , dan Dia Maha Melihat atas segala sesuatu. Dia Maha Melihat hingga semut hitam kecil berjalan di malam gelap gulita sekalipun, bahkan yg lebih kecil dari itu (atom). Tidak ada yg dapat bersembunyi dari penglihatan Allah, baik yg ada di bumi maupun di luarnya, baik yg ada di langit maupun di luarnya. Namun, penglihatan Allah berbeda dengan kita sebagai makhluk. Sesungguhnya penglihatan kita membutuhkan perantara yakni mata, sedangkan penglihatan Allah tanpa membutuhkan alat perantara.

Tanya Bagaimana cara meyakini bahwa Allah itu Maha Berbicara (Kalam)?

Jawab Hendaklah kita meyakini bahwa Allah itu bersifat Maha Berbicara. Akan tetapi kalam Allah tidak sama dengan kita sebagai makhluk Nya. Sesungguhnya pembicaraan kita diciptakan dalam diri kita dan membutuhkan alat perantara berupa mulut, lidah serta kedua bibir. Sedangkan Kalam Allah tidak seperti itu (tidak butuh alat perantara).

Tanya Beritahukan kepada kami apa sajakah sifat mustahil yg tidak mungkin dimiliki Alloh ?

Jawab Yaitu semua sifat yg mustahil bagi Allah. Maksudnya adalah segala sifat yg tidak mungkin dimiliki Oleh Allah. Yaitu diantaranya : ‘Adam (tiada), huduts (baru ada), Fana’ (binasa), mumatsalatu lilhawaadits (serupa dengan makhluqNya), Ihtiyaaju lighairihi (membutuhkan kepada selainNya), Wujuudus Syarki (adanya sekutu), Al ‘ajz (Lemah), Karohiyah (terpaksa, maksudnya terjadinya sesuatu tanpa kehendakNya), Al Jahl (bodoh) dan sifat buruk lainnya. Dan sesungguhnya Allah tidak bersifat hal2 di atas karena itu adalah sifat kekurangan. Dan Allah Subhaanahu Wata’ala tidaklah bersifat kecuali dengan sifat yg sempurna.

Tanya Mohon diterangkan sifat yg boleh (Jaiz) ada pada Allah Subhaanahu Wata’ala !

Jawab Yaitu sifat melakukan Fi’lu Kulli Mumkinin Aw Tarkuhu (Melakukan sesuatu atau pun meninggalkannya). Seperti menciptakan manusia dalam keadaan kaya atau sebaliknya yakni miskin, memberi kesehatan atau sakit dan lain sebagainya.

Tanya Apa maksud lafadz “ Istawa’ ” pada firman Allah : Arrahmaanu ‘Ala Al ‘Arsy Istawaa (Surah Thaha :5)

Jawab Yg dimaksud dengan kata Istiwa adalah Istiwa yg pantas bagi keagungan Allah Ta’ala yg Maha Pengasih. Makna Istiwa’ sudah diketahui (Ma’lum) tapi bagaimana itu dilakukan Allah, tidak diketahui (Majhul) dan tidak perlu dipertanyakan. Istiwa’ Allah atas ‘Arsy tidak serupa dengan bersemayamnya manusia diatas perahu, hewan
tunggangan ataupun kendaraan. Barangsiapa menggambarkan Allah seperti itu, maka dia telah terkena penyakit wahm (angan2 yg sia2) karena ia telah menyerupakan Pencipta (Allah) dengan CiptaanNya (Makhluk), padahal telah jelas berdasarkan akal dan dalil (Naql) bahwa Allah tidak menyerupai sesuatupun.

Maka sebagaimana dzat Allah tidak menyerupai sesuatupun dari ciptaanNya, maka segala hal yg disandarkan kepada Allah tidak mungkin serupa dengan segala hal yg ada pada makhluk.

Tanya Apakah mungkin dikatakan bahwa Allah itu memiliki dua tangan, mata dan selainnya ?

Jawab Telah disebutkan hal tentang penyandaran satu tangan kepada Allah dalam firman Nya “Tangan (kekuasaan) Allah berada di atas tangan orang2 itu” (Surah Al Fath :10) Dan ayat tentang penyandaran dua tangan kepada Allah dalam firman Nya :

“Apa yg mencegahmu untuk bersujud kepada Dzat yg telah menciptakanmu dengan kedua tanganNya (KekuasaanNya) ?” (Surah Shad : 75)

Dan ayat tentang penyandaran “mata” kepada Allah dalam firman Nya : “Dan bersabarlah akan hukum tuhanmu dengan kedua mataKu (perlindunganKu)” (Surah At Thuur : 48)

Adalah tidak boleh menyandarkan kepada Allah kecuali apa yg telah ditetapkanNya dalam kitab yg telah diturunkanNya atau yang telah ditetapkan oleh utusanNya

Tanya Apakah yg dimaksud dengan lafadz Yad (tangan) pada ayat tersebut di atas ?

Jawab Yg dimaksud dengan lafadz Yad (tangan) pada ayat di atas adalah arti yg pantas bagi Allah Subhaanahu Wata’ala, begitupun dengan lafadz A’yun (mata). Karena segala hal yang disandarkan kepada Allah Subhaanahu Wata’ala maka tidak akan sama dengan sesuatu yg disandarkan pada makhluk. Barangsiapa meyakini bahwa Allah memiliki tangan seperti tangan makhluqNya atau meyakini Allah bermata sebagaimana mata makhluqNya, maka dia telah terkena penyakit wahm (angan sia2) karena telah menyerupakan Allah dengan ciptaanNya, padahal Tiada suatupun yg serupa dengan Allah Subhaanahu Wata’ala.

Tanya Kepada siapa pendapat di atas – yakni tentang makna kata2 istiwa’, yadain dan A’yun – disandarkan ?

Jawab Pendapat yg telah diuraikan di atas tersebut adalah pendapat ulama Salaf (terdahulu). Adapun Ulama khalaf (yg datang kemudian) mayoritas menafsirkan lafadz Istiwa’ dengan arti “ Istiila’ ” (menguasai), Menafsirkan kata “Yad” dengan nikmat atau kekuasaan serta lafadz A’yun dengan Penjagaan (Hifdz) dan Pemelihara (Ri’ayah). Hal itu karena kebanyakan ulama khalaf tersebut khawatir jika kata2 tersebut tidak ditakwil atau digeser dari makna dzahirnya maka akan terkena pemahaman “Tasybih” (menyerupakan Allah dengan CiptaanNya). Padahal baik Ulama Salaf maupun Khalaf telah sepakat, siapa saja yg menyerupakan Allah dengan makhluqNya maka dia “Sesat” (Dhallun).

Sebagian dari mereka mengatakan bahwa termasuk ke dalam tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk ) jika tidak ada dalil ‘aqli dan Naqli yg menunjukkan bahwa orang tersebut meyakini tanziih ( kesucian Allah ). Barangsiapa menyerupakan Allah dengan makhlukNya (menganggap Allah itu bertangan, bermata, duduk dan lain sebagainya) maka pendapat itu berasal dari dirinya sendiri (bukan pendapat Ulama Salaf maupun Khalaf).

Tanya Bagaimana mungkin kita menetapkan sesuatu (meyakini makna ayat Mutasyabihat apa adanya), lantas kita mengatakan “Bagaimana Allah melakukannya itu tidak diketahui?

Jawab Hal itu bukanlah sesatu yg aneh karena sesungguhnya kita mengetahui bahwa diri kita memiliki sifat seperti berilmu, berkemampuan, berkehendak- di sisi lain kita tidak mengetahui cara terjadinya sifat2 tersebut. Sebaliknya, kita mendengar dan melihat tanpa tahu bagaimana bisa pendengaran dan penglihatan itu terjadi. Bahkan sesunguhnya kita berbicara dan tidak tahu bagaimana pembicaraan itu bisa keluar. Jika kita mengetahui bagaimana caranya hal itu terjadi maka hilanglah keraguan kita. Dan banyak lagi hal yg serupa. Jika hal2 tersebut di atas disandarkan pada diri kita (sementara kita tidak dapat memahaminya), maka bagaimana pula halnya jika perkara tersebut disandarkan pada Allah Subhaanahu Wata’ala…..

Tanya Diantara dua pendapat tersebut, manakah yg paling rajih (kuat) ?

Jawab Pendapat Ulama salaf (terdahulu) lah yg paling kuat karena lebih aman dan kuat. Adapun madzhab khalaf (ulama terkini), maka kita boleh memakainya saat dlarurat dan hal itu berlaku bagi sebagian manusia yg dikhawatirkan terjatuh pada keyakinan Tasybih (menyerupakan Allah dengan makhlukNya), jika kalimat2 di atas tidak ditakwilkan bagi mereka. Maka menakwilkan hal tersebut di atas dibolehkan menurut pendapat yg masyhur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.