Iman kepada Takdir Allah

Iman pada Takdir Allah Rukum Iman Keenam

Iman kepada Takdir Allah yang disebut qadha dan qadar merupakan hal keenam yang wajib diyakini seorang muslim yang tanpanya ia tidak dianggap sempurna imannya.

Nama kitab: Terjemah Jawahirul Kalamiyah
Nama kitab asal: Al-Jawahir Al-Kalamiyah fi Idah Al-Aqidah Al-Islamiyah ( الجواهر الكلامية في إيضاح العقيدة الإسلامية)
Nama lain kitab kuning: Al-Jawahir Al-Kalamiyah
Penulis: Tahir bin Saleh Al-Jazairi (wafat. 895 H) (طاهر بن صالح الجزائري)
Penerjemah: Ibnu Hasan Al-Malanjy
Bidang studi: Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) Asy’ariyah, ilmu kalam, ushuluddin.
DAFTAR ISI
Muqoddimah
Pengantar Akidah Islamiyyah
Pembahasan Pertama Iman Kepada Allah
Pembahasan Kedua Iman Kepada Malaikat Allah
Pembahasan Ketiga Iman Kepada Kitab Allah
Pembahasan Keempat Iman Kepada Nabi dan Utusan Allah
Pembahasan Kelima Iman Kepada Hari Akhir (Kiamat)
Pembahasan Keenam Iman Kepada Qadla’ dan Qadar
Penutup : Cara Mengenal Hakikat Allah

PEMBAHASAN KEENAM TENTANG IMAN KEPADA QADLA’ DAN QADAR (KETENTUAN ALLAH)

Tanya Bagaimana keyakinan kita terhadap adanya qadla dan qadar?

Jawab Hendaklah kita meyakini bahwasanya seluruh perbuatan manusia baik yg membutuhkan usaha (ikhtiyari) – seperti berdiri, duduk, makan dan minum – maupun tanpa usaha (idtirori) -seperti jatuh – semua itu terjadi karena kehendak Allah Subhaanahu Wata’ala. Dan ketentuan (takdir) itu telah dibuat Allah sejak zaman azla (zaman sebelum ada sesuatu kecuali Allah), dan pengetahuan Allah tentang semua itu telah ada sebelum hal tersebut terjadi.

Tanya Kalau memang Allah adalah Sang Pencipta segala perbuatan manusia, bukankah itu berarti manusia adalah majbur (dipaksa) dalam setiap perbuatannya, dan setiap yg dipaksa maka tidak berhak mendapat pahala atau siksa ?

Jawab Bukan demikian maksudnya. Manusia tidaklah dipaksa sama sekali karena dia memiliki keinginan sendiri yg dapat mengantarkannya ke sisi baik atau sisi buruk. Manusia juga dikaruniai akal fikiran dimana dengan akal tersebut ia bisa memilih diantara sisi baik atau buruk. Jika ia menggunakan kehendaknya ke sisi yg baik, maka menjadi nyatalah kebaikan yg ia kehendaki. Dan ia akan mendapat pahala atas hal itu karena telah berbuat baik dan kehendak juziyyah nya bergantung pada sisi baik itu. Apabila kehendaknya memilih sisi buruk maka menjadi nyatalah keburukan yg ia kehendaki dan dia mendapat siksa atasnya karena keburukan itu terjadi karena keinginannya, dan kehendak juziyyah nya bergantung pada sisi buruk itu.

Tanya Berilah sebuah contoh yg dapat memudahkan hati untuk memahami bahwasanya seorang hamba tidaklah dipaksa atas perbuatannya ?

Jawab Setiap manusia memungkinkan untuk mengetahui bahwa ia tidak dipaksa atas segala perbuatannya. Sebagai contoh dia bisa membedakan saat tangannya menulis dan saat gemetar. Karena gerakan tangan saat menulis, sesungguhnya gerakan itu disandarkan kepada dirinya dengan mengatakan “aku menulis dengan usaha dan keinginanku”.

Adapun gerakan tangan saat gemetar maka hal itu tidak bisa disandarkan pada dirinya (terjadi di luar kehendaknya) dan dia tidak mengatakan : “aku menggerakkan tanganku” , namun dia mengatakan : “sesungguhnya hal itu (gerakan tanganku saat gemetar) terjadi di luar keinginanku”.

Tanya Pelajaran apa yg dapat dipetik dari contoh di atas ?

Jawab Dapat diambil pelajaran dari contoh tersebut bahwasanya setiap manusia dapat memahami dengan pendekatan sederhana, bahwa perbuatannya dibagai menjadi dua

Pertama, perbuatan yang terjadi dengan usaha dan kehendaknya. Seperti makan makan, minum, memukul seseorang dan lain sebagainya.

Kedua, perbuatan yg terjadi di luar usahanya seperti jatuh dan lain sebagainya.

Tanya Hal apakah yg mengiringi perbuatan seorang hamba jika perbuatan tersebut termasuk Ikhtiary (terjadi karena usaha manusia) ?

Jawab Perbuatan seorang hamba yg bersifat ikhtiary apabila berupa perbuatan baik maka akan mendapat pahala, dan apabila berupa perbuatan buruk maka akan mendapat dosa (siksa). Adapun jika perbuatan itu bersifat Idltirory (tanpa usaha) maka tidak akan dituntut apapun atas terjadinya perbuatan itu.

Tanya Jika seseorang memukul saudaranya dengan dzalim dan karena permusuhan, atau melakukan perbuatan buruk dan dosa serta semacamnya, lantas ia berdalih bahwa perbuatan itu terjadi karena sudah ditakdirkan, Apakah dapat diterima alasan tersebut?

Jawab Sesungguhnya alasan hamba tersebut tidak dapat diterima, baik di sisi Allah Subhaanahu Wata’ala maupun di sisi manusia. Karena terdapat kehendak terbatas (iradah juziyyah) pada diri hamba itu, ia pun diberi kemampuan, usaha dan juga akal fikiran.

Tanya Sebutkanlah ringkasan dari seluruh pembahasan di atas ?

Jawab Sesungguhnya wajib bagi setiap manusia yg mukallaf (telah dibebani kewajiban), hendaklah meyakini dengan teguh dan mantap, bahwasanya seluruh perbuatan, ucapan dan setiap gerak geriknya – baik maupun buruk – semua itu terjadi karena kehendak, ketentuan dan atas sepengetahuan Allah Subhaanahu Wata’ala. Akan tetapi hanya kebaikan yg diridlainya sedangkan keburukan tidak diridainya.

Dan hendaklah manusia menyadari bahwa ia dianugerahi kehendak terbatas (juziyyah) dalam perbuatannya yg bersfiat pilihan (ikhtiary). Dia akan diberi pahala atas perbuatan baik dan mendapat siksa karena perbuatan jahat. Dan tidak ada alasan baginya untuk berbuat kejahatan. Dan sungguh Allah tidak akan mendzalimi hamba-hambaNya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.